Minari, Perjalanan Iman Keluarga Imigran Korea Mencari Kehidupan di Negeri Paman Sam

News / 28 April 2021

Minari, Perjalanan Iman Keluarga Imigran Korea Mencari Kehidupan di Negeri Paman Sam

Lori Official Writer
917

Diangkat Dari Autobiografi

Kisah pembuatan film ini juga terbilang menarik. Pasalnya, film ini rupanya diangkat berdasarkan kisah kehidupan sang sutradara sendiri. 

Lee Isaac Chung menyampaikan bahwa sebagian besar kisah di dalam film adalah kisah masa kecilnya di Lincoln, Arkansas. Sebagai anak dari keluarga imigran Korea, setiap hari Chung dan kakak perempuannya akan diantar oleh orangtuanya ke sekolah Kristen First Baptist Church. Di sana mereka mulai membangun hubungan dengan anak-anak lain dan belajar bahasa Inggris.

Berbaur dengan banyak orang kulit putih di lingkungan Kristen saat itu membuat Chung belajar tentang banyak karakter. Hal inilah yang ingin sekali dia sampaikan lewat Minari. 

“Aku merasa ada banyak sisi spiritualitas yang kami dapatkan lewat hubungan kami dengan orang-orang dan cara kami memilih untuk memandang orang lain,” katanya.

Banyaknya pelajaran kehidupan yang dibubuhkan dalam film inilah yang membuat Minari sukses jauh sebelum meraih nominasi Oscar. Lewat tayang perdananya di Sundance Film Festival tahun 2020 lalu, Minari dianugerahi penghargaan Grand Jury Prize dan US Dramatic Audience Award. Gak sampai di situ, film ini juga mengantongi piala Golden Globe berbahasa asing terbaik di awal tahun 2021 ini.

 

Baca Juga: The Penthouse: War In Life, Drama Korea yang Mengisahkan Keserakahan Hingga Perselingkuhan

 

Pesanan Tentang Menghargai Imigran

Ada banyak orang Asia yang harus menjalani hidup di tengah kaum mayoritas kulit putih.

Isu diskriminasi terhadap kaum minoritas di Amerika telah membuat film ini menjadi penting. 

Kisah masa kecil Chung yang dikelilingi oleh orang-orang kulit putih bisa menjadi pelajaran penting bagi penonton. Lewat Minari, para penonton diharapkan bisa memandang sisi keragaman komunitas Asia-Amerika. 

“Penting sekali, terutama sekarang dimana ada banyak kekerasan dan sentimen anti-Asia di komunitas, untuk punya gambaran dan representasi budaya positif dalam komunitas,” kata Jean Neely, Dosen di Azusa Pacific University.

Nah, buat kamu yang penasaran sama film ini bisa mulai nonton di bioskop ya.

Sumber : Jawaban.com
Halaman :
12Tampilkan Semua

Ikuti Kami