3 Hal Penting dari Lukas 15 Ini Ajarkan Kita Soal Kehilangan yang Berujung Indah

3 Hal Penting dari Lukas 15 Ini Ajarkan Kita Soal Kehilangan yang Berujung Indah

Lori Official Writer
5549

Saat membaca Lukas 15, kita akan menemukan tiga kisah yang terpisah dari tiga tokoh penting. Pertama, seorang gembala yang kehilangan 1 dombanya. Kedua, wanita yang kehilangan satu koin. Dan ketiga, seorang bapa yang kehilangan putra bungsunya. Uniknya, akhirnya dari ketiga kisahnya terbilang indah.

Meski begitu, dalam kisah anak yang hilang (Lukas 15: 25-32), bapa yang punya dua anak itu mendapati kalau putra sulungnya tak senang dengan kembalinya sang adik. Hal serupa juga dialami oleh ahli-ahli taurat dan orang-orang Farisi yang menganggap diri mereka benar. Mereka dengan setia menghadiri sinagoge setiap hari Sabat, membanggakan diri sebagai orang kudus yang menaati hukum taurat dan memandang rendah orang-orang berdosa dan pemungut cukai.

Ada tiga pelajaran penting yang bisa kita petik dari kisah Lukas 15, diantaranya:

1. Baik anak bungsu dan anak sulung menunjukkan sikap yang berbeda.

Pertama, tempat dimana anak bungsu pergi dan menghabiskan bagian warisannya. Dan tempat kedua dirumah sang bapa dan anak sulungnya. Ada dua perbedaan yang bisa kita lihat disini yaitu si anak bungsu merasa dirinya sangat berdosa dan menyesali perbuatannya dan si anak sulung yang merasa sudah melakukan semua hal yang benar kepada bapanya. Di satu sisi dia merasa sebagai anak yang taat, tapi di sisi lain dia hatinya penuh dengan rasa cemburu dan benci.

"Tetapi anaknya yang sulung berada di ladang dan ketika ia pulang dan dekat ke rumah, ia mendengar bunyi seruling dan nyanyian tari-tarian. Lalu ia memanggil salah seorang hamba dan bertanya kepadanya apa arti semuanya itu. Jawab hamba itu: Adikmu telah kembali dan ayahmu telah menyembelih anak lembu tambun, karena ia mendapatnya kembali dengan sehat.Maka marahlah anak sulung itu dan ia tidak mau masuk. Lalu ayahnya keluar dan berbicara dengan dia." (Lukas 15: 25-28)

2. Kita bisa hilang di suatu tempat yang sangat jauh tanpa menyadarinya.

Kondisi inibisa kita alami ketika kita sudah melangkah jauh dari kehendak Tuhan. Anak yang hilang meninggalkan rumah dan mengikuti kesenangan hatinya sendiri. Tapi walaupun si anak sulung tinggal di rumah secara fisik, hatinya telah mengembara jauh dari kasih Tuhan. Dia dipenuhi dengan sikap-sikap negatif yang merugikan. Dia benar-benar terpisah dari keluarganya dan menderita secara emosional. Seorang saudara laki-lakinya sedang makan polong untuk babi, tapi yang satunya lagi memiliki hati yang penuh dengan sikap tanpa ampun, kecemburuan dan dendam yang pedih atas saudaranya dan bapanya.

"Tetapi ia menjawab ayahnya, katanya: Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku." (Lukas 15: 29)

 

Baca Juga: Kata ‘Shalom’ Bukan Sekadar Sapaan Biasa, Ini Makna yang Sebenarnya

 

3. Kebebasan anak bungsu akhirnya berakhir dengan pertobatan dan penyerahan diri kepada bapanya.

Kondisi hati kita tidak diungkapkan oleh perilaku keagamaan yang tampak dariluar melainkan dari sikap kita kepada sesama dan juga Tuhan. Ahli-ahli taurat danorang Farisi membenci Yesus karena menyambut orang berdosa yang menginginkan pengampunan. Tapi dalam kenyataannya, mereka berada dalam kondisi yang lebih buruk karena menolak untuk mengakui keberdosaan mereka. Akibatnya, mereka merasa tak perlu meminta pengampunan dari Tuhan. Kalau kita mau keluar dari kandang babi kehidupan kita, kita harus bersedia mengakui dosa dan meminta ampun kepada Tuhan atas semua dosa-dosa kita.

Si anak bungsu pada akhirnya memilih untuk minta ampun dan  kembali ke rumah. Uniknya, sang bapa bahkan menyambut dia dengan sukacita bahkan secara khusus merayakan kedatangannya dengan pesta meriah.

"Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia. Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa." (Lukas 15: 20-21)

Sadar atau tak sadar, kita mungkin bisa saja seperti anak bungsu dan bisa seperti anak sulung. Kita berada di dalam kandang babi yang penuhdengan dendam dan kebencian. Mulailah mengoreksi dirimu dan kembalilah kepada Tuhan, rendahkan hatimu untuk meminta ampun dihadapan-Nya. Karena itulah satu-satunya cara supaya kita bisa menikmati berkat-berkat yang melimpah dari Tuhan sendiri.

 

Baca Juga: Baru Kehilangan Orang Terkasih, Bantu Pasangan Lewati Duka dengan 10 Cara Ini (Bagian 1)

 


Apakah kamu sudah percaya bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juru Selamat yang sudah menderita, disalibkan, mati, dan bangkit untuk menebus kamu? Jika saat ini kamu terdorong untuk didoakan dan percaya kepada Yesus, segera hubungi Sahabat 24 kami di Whatsapp 0822 1500 2424 atau klik link doa ini https://bit.ly/yjInginDidoakan.

Sumber : Jawaban.com
Halaman :
1

Ikuti Kami