Gereja yang Dewasa Adalah Gereja yang Punya 6 Karakter Seperti Gereja Kisah Para Rasul Ini

Gereja yang Dewasa Adalah Gereja yang Punya 6 Karakter Seperti Gereja Kisah Para Rasul Ini

Lori Official Writer
364

Di Kisah Para Rasul 9, kita bisa membaca tentang kisah pertobatan Paulus dan awal perlayanannya. Dia gak lepas dari tantangan yang sulit karena gereja masih mencurigai kepercayaannya. 

Tapi setelah dia mulai melakukan penginjilan ke berbagai tempat, perlahan-lahan gereja mulai menerima dia dan menyaksikan pertumbuhan iman yang dia alami. 

Di ayat 31, digambarkan bagaimana gereja mulai bertumbuh dewasa dan melayani di tengah budaya yang bobrok. 

“Selama beberapa waktu jemaat di seluruh Yudea, Galilea dan Samaria berada dalam keadaan damai. Jemaat itu dibangun dan hidup dalam takut akan Tuhan. Jumlahnya makin bertambah besar oleh pertolongan dan penghiburan Roh Kudus.” (Kisah Para Rasul 9: 31) 

Ada 6 karakter dewasa yang dimiliki Gereja Kisah Para Rasul yaitu:

1. Bertumbuh Pesat

Salah satu karakter gereja yang dewasa bisa dilihat dari pertumbuhannya. Gereja di Kisah Para Rasul terus bertumbuh dan menyebar luas sampai ke seluruh Yudea, Galilea dan Samaria. 

Sekalipun jemaat gereja saat itu kebanyakan Yahudi, tapi mereka terus membawa injil ke berbagai daerah. menurut aturannya saat itu orang Yahudi dan Samaria dianggap nazis bergaul, tapi mereka tidak terintimidasi dengan aturan dunia sehingga penginjilan saat itu menyebar ke semua orang tanpa terkecuali di Samaria.

Jadi, gereja di Kisah Para Rasul berusaha untuk mendobrak aturan budaya yang ada. 

2. Hidup Dalam Persatuan

Hidup dalam kedamaian adalah salah satu karakter gereja yang bertumbuh. Sekalipun jemaat gereja berasal dari budaya dan tradisi yang beragam, tapi gereja tetap berusaha menjunjung persatuan sesuai dengan kebenaran. 

Saat gereja tetap fokus kepada misi gereja, maka persatuan pun akan terwujud dan mendukung gereja untuk terus bertumbuh.

3. Gereja Terus Berkembang

Sama halnya dengan poin 1, gereja di Kisah Para Rasul adalah gereja yang terus berkembang. Dalam hal ini perkembangan tersebut bukan saja bicara soal gedungnya, tetapi juga sistem yang dipakai untuk menjalankan gereja.

Pada waktu itu, gereja di Kisah Para Rasul sendiri diketahui memiliki persekutuan yang sehat antar jemaatnya. Jadi pelayanan lahiriah mereka dibarengi dengan pertumbuhan rohaninya. Dan supaya gereja bisa berkembang dibutuhkan dua hal tersebut.

 

Baca Juga: #FaktaAlkitab – Paulus, Rasul Bagi Orang Kafir (Part 1)

 

4. Hidup Dalam Kekudusan

Waktu gereja berkembang, itu artinya ada penyertaan Tuhan di dalamnya. Hal ini menunjukkan bagaimana jemaat gereja benar-benar menghidupi kebenaran firman Tuhan dalam hidup mereka, termasuk bagaimana mereka menjaga kekudusan hidup mereka. 

Gereja, di zaman ini harus ditandai dengan hadirat Tuhan. Jadi, salah satu karakter gereja yang dewasa adalah bagaimana gereja hidup dengan standar yang diinginkan Tuhan. Salah satunya hidup kudus sebagaimana Tuhan sendiri adalah pribadi yang kudus.

5. Dipimpin Oleh Roh Kudus

Tuhan menginginkan gerejanya tetap hidup dalam kekudusan. Dengan pimpinan Roh Kudus, gereja dimampukan untuk menyenangkan hati Tuhan sendiri. Dengan tuntunan Roh Kudus lah gereja juga memiliki keberanian untuk melakukan misi-Nya.

Saat Roh Kudus diam di dalam gereja, maka bisa dipastikan gereja akan mendapatkan semangat baru dan berapi-api untuk terus menyebarkan kebenaran firman Tuhan kepada semua orang.

 

Baca Juga: Daya Tarik Gereja Mula-Mula

 

6. Gereja Bertambah Secara Kuantitas

Gak bisa dimungkiri bahwa pertumbuhan gereja secara luas akan otomatis sejalan dengan pertumbuhannya secara kuantitas.

Dalam hal ini gereja terus menuai jiwa-jiwa baru untuk dimuridkan dalam komunitas yang benar dan sehat. Kenapa Gereja di Kisah Para Rasul bisa bertumbuh dengan pesat? Kuncinya adalah karena mereka fokus kepada injil dan bukan kepada kepentingan gereja sendiri.

Semoga enam karakter gereja ini bisa membantu gereja-gereja di zaman ini untuk terus berkembang dan tumbuh sesuai dengan kehendak Tuhan. Mari belajar dari Paulus bagaimana sebagai pemimpin, dia terus fokus untuk menyebarluaskan injil ke semua orang sebagai bentuk kecintaannya kepada Tuhan.

“Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing. Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.” (Kisah Para Rasul 2: 44-47)

Sumber : Jawaban.com
Halaman :
1

Ikuti Kami