Garam yang Tak Lagi Berasa Bagi Dunia

Garam yang Tak Lagi Berasa Bagi Dunia

Lori Official Writer
      1273

Matius 5: 13

Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.

 

 

Bacaan Alkitab setahun: Mazmur 89; Lukas 1; Ulangan 25

Kamu dan aku, sebagai orang Kristen, adalah garam dunia. Karena hidup kita harus bertujuan untuk meningkatkan dan memberi makna bagi hidup kita sendiri. 

Sebelum memperoleh keselamatan, kita hanyalah butiran pasir, tak terhitung. Tapi setelah menerima Kristus, kita diubahkan. Kita bukan lagi puing-puing bebatuan kecil yang sama sekali tak ada bedanya dengan sebongkah pasir. Kita adalah manusia baru yang punya rasa, tekstur dan aroma yang khas.

Ini mungkin kelihatan seperti analogi yang aneh. Tapi Yesus punya alasan menyebut orang percaya sebagai garam.

Garam adalah mineral makanan, yang digunakan untuk penyedap dan pengawet. Bahan dapur ini dibutuhkan oleh semua makhluk hidup di dunia. Kalau disalahgunakan, maka fungsinya akan berbahaya. Tapi juga sama merugikannya kalau tubuh tidak mendapat cukup garam. Karena fungsinya sendiri berguna untuk mengatur kadar air dalam tubuh. 

Yesus sendiri memakai garam untuk menggambarkan peran penting orang Kristen di tengah dunia  yaitu untuk membawa keseimbangan dan harapan.

Pertanyaan yang Yesus ajukan adalah, “Apa gunanya garam kalau sudah menjadi tawar?” Dengan kata lain, kalau orang Kristen sudah hilang semangat, lalu apa gunanya jadi garam?

Karena keadaan hidupku belakangan ini, aku merenungkan firman Tuhan secara berbeda dari yang aku lewati sebelumnya. Pencobaan bisa membuat kita lelah kalau kita gak hati-hati. Sama halnya seperti garam bisa larut di dalam air, orang Kristen juga bisa mencair karena pengalaman mereka.

Misalnya, keyakinan kita bisa berubah setelah melewati pengalaman traumatis dan membuat kita benar-benar berbeda. Kenapa begitu? Mungkin ada banyak penyebabnya, tapi yang paling umum adalah depresi, kelelahan, keraguan diri dan akhirnya keraguan tentang apa yang kita yakini. Dan kita harus memahami dengan jelas ada musuh yang bekerja dalam kasus ini.

Kalau kita adalah garam dunia dan rasa kita mulai hilang, maka bukan rahasia lagi iblis akan melakukan segala cara untuk memastikan keefektifan kita (penyedap rasa kita) tidak seperti dulu. Dan kalau dia berhasil, rasa kita sama sekali akan hilang. Kita akan kembali ke butiran pasir transparan tanpa ancaman.

“Garam memang baik, tetapi jika garam menjadi hambar, dengan apakah kamu mengasinkannya? Hendaklah kamu selalu mempunyai garam dalam dirimu dan selalu hidup berdamai yang seorang dengan yang lain.” (Markus 9: 50)

Pikirkan sejenak. Laut penuh dengan garam tapi hanya diekstraksi melalui proses perebusan (menghilangkan air untuk menghasilkan garam). Aku sedikit benci dengan ungkapan melalui cobaan yang membara, tapi itulah cara untuk mendapatkan kembali ‘garam’ dalam hidupku. Mungkin aku baik-baik saja dengan kondisi itu. Apa yang aku pelajari adalah Tuhan bukan perusak. Dia bilang kalau pencuri datang untuk membunuh, mencuri dan membinasakan (Yohanes 10: 10).

Tuhan bukanlah pencuri. Dia adalah pemulih dari kehidupan dan hati yang hancur.

Proses perebusan akan membuktikan atau menyangkal berapa banyak jumlah garam yang terkandung dalam suatu zat. Dengan cara yang sama, cobaan hidup akan membuktikan bahwa hidup kita dibumbui oleh Tuhan atau justru menunjukkan kalau kita benar-benar kekurangan. Bagaimanapun, kalau ditangani dengan benar, hasil akhirnya bisa bermanfaat.

Bagi orang lain, kesadaran akan iman mereka yang kecil bisa mendorong mereka menjalin hubungan yang lebih dalam dengan Tuhan karena walaupun mereka kekurangan, Dia tetap setia. 

“Saudara-saudara yang kekasih, janganlah kamu heran akan nyala api siksaan yang datang kepadamu sebagai ujian, seolah-olah ada sesuatu yang luar biasa terjadi atas kamu. Sebaliknya, bersukacitalah, sesuai dengan bagian yang kamu dapat dalam penderitaan Kristus, supaya kamu juga boleh bergembira dan bersukacita pada waktu Ia menyatakan kemuliaan-Nya.” (1 Petrus 4: 12-13)

Aku belajar kalau aku gak selalu bisa mengendalikan cobaan yang aku hadapi. Tapi aku sendiri harus bisa menjaga rasa garamku. Apa aku akan jadi pahit atau lebih baik? Kurang bumbu atau lebih beraroma? Apa aku akan menghilang atau menonjol sebagai pemenang? Karena hidup ini tak akan berarti tanpa rasa. 

 

Hak cipta Daphne Delay, disadur dari CBN.


Kamu diberkati dengan renungan harian kami? Mari dukung kami untuk terus menghasilkan konten-konten terbaik di website ini dengan menjadi mitra Jawaban.com.

Buat kamu yang tergerak untuk bergabung yuk. 

DAFTAR DI SINI

 

Ikuti Kami