Kasih Yang Sempurna Melenyapkan Ketakutan (1)

Kasih Yang Sempurna Melenyapkan Ketakutan (1)

Admin Spiritual Official Writer
11556

Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih.

1 Yohanes 4:18

 

Dulu saya pernah salah mengerti tentang ayat ini. Saya pikir ayat ini mengatakan bahwa kalau saya sudah benar-benar bisa mengasihi orang lain dengan kasih yang sempurna, saya tidak akan lagi mengalami ketakutan dalam hidup saya. Saya mencoba untuk mengasihi orang lain, tapi sepertinya selalu gagal. Saya bahkan tidak mampu mengasihi mereka dengan tidak sempurna, apalagi dengan sempurna. Saya punya banyak ketakutan dalam hidup saya, berupa rasa tidak aman. Orang yang ketakutan selalu kuatir dan cemas tentang banyak hal, seperti masa lalu, masa depan, keuangan, apa yang orang lain pikir, dan lainnya.

Ketakutan tampaknya adalah akar dari sebagian besar masalah yang mencuri damai sejahtera kita. Misalnya, jika kita merasa tidak nyaman dengan sekumpulan orang, mungkin itu karena kita takut akan apa yang mereka pikirkan tentang kita. Jika kita mencoba mengendalikan situasi dengan keras, itu seringkali karena kita takut bahwa kita akan dimanfaatkan jika kita tidak mengendalikan semuanya.

Masalah Kendali
Mencoba mengendalikan orang, situasi, dan bahkan Tuhan, adalah pekerjaan yang berat, bahkan itu tidak mungkin. Karena takut, saya menghabiskan banyak tahun berusaha mengendalikan semuanya. Saya takut disakiti atau dimanfaatkan oleh orang lain, seperti yang saya alami di masa lalu saya. Jadi saya sibuk mengendalikan semuanya, menjadi sutradara atas kehidupan saya. Roh Kudus ingin memimpin, mengarahkan, dan mengendalikan kita. Jika kita mengijinkanNya, Dia akan mengarahkan kita pada berkat-berkat kehidupan. Kita harus menguasai diri kita dan membiarkan Roh Kudus mengendalkan hidup kita, tapi kita seharusnya tidak berusaha mengendalikan orang lain. Iblis menggunakan manipulasi dan kendali untuk mendapatkan apa yang dia inginkan, tapi ini bukanlah cara yang seharusnya digunakan anak-anak Tuhan untuk mendapatkan apa yang kita inginkan.

Kita seharusnya mempercayai Tuhan, mendoakan apa yang kita inginkan, dan percaya Dia akan melakukan yang terbaik untuk kita pada waktu yang tepat. Ini sulit untuk dipelajari karena seringkali pengalaman kita dengan orang lain mengajarkan kita untuk tidak mudah percaya. Kita harus belajar bahwa Tuhan dan manusia tidaklah sama. Semua orang tidak sempurna, dan bahkan siapapun yang berusaha tidak menyakiti orang lain terkadang juga menyakiti juga. Bagaimana bisa orang-orang yang tidak sempurna mengasihi kita dengan kasih yang sempurna? Jika mereka bisa, tentu saja kita tidak mempunyai rasa takut. Ketakutan kita, seperti takut disakiti dan dikecewakan oleh mereka, akan hilang. Karena rasa sakit akibat penolakan, penilaian, pengkhianatan, kritik, dan lainnya sangat nyata dan membuat kita depresi, secara alamiah kita menghindarinya jika kita pernah mengalaminya.

Sepertinya ada 2 kategori orang: mereka akan menarik diri dalam ketakutan dan hidup kesepian karena menghindari hubungan yang dekat dengan orang lain, atau mereka menginginkan hubungan namun tidak pernah bisa mengembangkan hubungan yang tepat karena semua ketakutan mereka. Golongan yang kedua berusaha selalu mengendalikan, memanipulasi, dan sering marah. Mereka frustasi karena seringkali mereka benar-benar tidak tahu apa yang salah, mereka bereaksi dari rasa sakit dan luka lama dibanding bertindak berdasarkan kebenaran firmanNya.

 

Baca Juga: 8 Ajaran Yesus Tentang ‘Kasih’ Terhadap Sesama

 

Sembuh Dari Rasa Tidak Aman
Ada banyak orang yang merasa tidak aman, yang mencoba menjalin hubungan dengan orang lain yang juga merasa tidak aman. Hubungan seperti ini adalah hubungan yang disfungsional, yang berarti tidak berfungsi dengan tepat. Kebanyakan orang dibesarkan dalam keluarga yang disfungsional. Mereka kemudian meneruskan kondisi disfungsional ini pada generasi selanjutnya, dan ini semakin menambah kondisi disfungsional dalam masyarakat. Namun ada satu jawaban, namaNya Yesus Kristus.

Waktu Yesus berkata dalam Yoh 14:6, "Akulah jalan..." bukan hanya berarti Dia adalah Jalan kepada Bapa dan ke Surga, tapi saya percaya Dia juga adalah Jalan keluar dari setiap keadaan yang salah dan rusak. Jika kita mengundangNya, Yesus bisa masuk ke dalam kehidupan yang disfungsional dan membuatnya berfungsi kembali. Dia memulihkan, memperbaharui, menebus, mendamaikan, dan menyegarkan. Bapa kita di Surga, melalui Yesus Kristus, ingin mengembalikan kita ke titik awal dimana iblis mengacaukan segalanya dan memberi kita awal yang baru. Jika kita bertobat, Dia menghapus masa lalu gelap kita dan memberi kita ganti atas luka-luka masa lalu. Ya, Yesuslah satu-satunya Jalan.

Mengapa Yesus menolong kita? Dia melakukannya karena Dia adalah Kasih, karena Dia mengasihi kita. Yesus adalah manifestasi dari kasih yang sempurna. Hanya kasih yang sempurna yang dapat melenyapkan ketakutan. Saat kita tahu, tanpa ragu sedikit pun, tentang kasih Tuhan yang sempurna dan utuh untuk kita, itu akan membuat ketakutan hilang dari kehidupan kita.

 

Baca Juga: Kasih Yesus Memampukan Kita Bebas Dari Tuntutan Dosa

 

Belajar Untuk Tinggal dalam KasihNya
Tinggal dalam kasihNya berarti hidup dalam kasihNya, itu tidak berarti hanya berkunjung pada kasihNya sesekali, tapi tetap tinggal. Saya tidak mengunjungi rumah saya, saya hidup di dalamnya. 1Yoh 4:16 menunjukkan bahwa kita seharusnya sadar dan peka akan kasih Tuhan bagi kita. Pengetahuan akan kasihNya itu tidak seharusnya menjadi sekedar semacam fakta alkitabiah, tapi sesuati yang kita alami secara nyata dan setiap hari dalam kehidupan.

Saya belajar menyadari kasihNya dengan mulai mencatat hal-hal yang Dia lakukan atau berikan untuk saya, yang saya percaya menunjukkan kasihNya. Tidak peduli betapapun kecilnya hal-hal itu, saya mencatat semuanya. Proses ini membantu saya untuk lebih peka akan kasihNya. Saya butuh tinggal dalam kasihNya karena saya membutuhkan banyak pemulihan, saya mempunyai ketakutan dan rasa tidak aman, dan saya menemukan hanya kasihNya yang menjadi obat dari semua itu. Saat orang memberi saya hadiah, saya mencatatnya. Saat saya mendapat perkenananNya da kemudahan, saya mencatatnya. Saat tuhan menjawab doa saya, saya mencatatnya. Banyak hal-hal yang saya catat terkesan kekanak-kanakan, tapi semua itu membantu saya untuk menjadi seperti anak kecil yang Yesus harapkan, anak kecil yang mudah percaya, rendah hati, dan mengasihi.

Saya percaya Tuhan menunjukkan kasihNya pada kita setiap hari dengan banyak cara yang berbeda, tapi karena kita belum terlatih untuk menyadari kasihNya, kita melewatkan hal-hal yang Dia lakukan. KasihNya nyata, tapi kita tidak melihatnya sebagai suatu kenyataan. Karena itulah, kita tidak bisa menikmati berkat dari kasihNya seperti yang seharusnya.

Doa Paulus dalam Efesus 3:17-19 menunjukkan pentingnya mempunyai pengertian dan pewahyuan yang mendalam tentang betapa besarnya kasih Tuhan atas kita. Paulus seharusnya bisa berdoa untuk banyak hal yang lain, seperti agar mereka mempunyai kuasa, untuk melakukan banyak mukjizat, tapi Paulus berdoa agar gereja benar-benar berakar dalam kasih Tuhan. Paulus tahu bahwa itulah titik awal dari segala sesuatu yang lain untuk bertumbuh. Kuasa, mukjizat, dan kemenangan, semuanya berdasarkan rasa aman kita dalam kenyataan bahwa Tuhan mengasihi kita. Ayat itu menegaskan bahwa kita perlu mengalami kasihNya, bukan hanya mempunyai pengetahuan di kepala, tapi pewahyuan yang dalam, dan akar dari keberadaan diri kita seharusnya tertanam dengan aman dalam kasihNya.

Bersambung di artikel Teaching selanjutnya...

 


Kamu diberkati dengan konten-konten kami? Jika kamu rindu supaya orang lain juga diberkati sepertimu, mari dukung kami untuk terus menjangkau melalui konten-konten yang kami sediakan lewat pelayanan media kami.

Kamu bisa menjadi mitra Jawaban.com dengan berdonasi 50 ribu setiap bulannya bersama kami. Kabar baiknya, bagi kamu yang berdonasi sebesar 250 ribu setiap bulannya akan mendapatkan bonus satu buah kaos Polo. Jadi, buat kamu yang tergerak untuk bergabung yuk DAFTAR DI SINI.

 

Sumber : Joyce Meyer
Halaman :
1

Ikuti Kami