Penting! Kudeta Buat Umat Kristen Myanmar Ketakutan dan Butuh Dukungan Doa

Penting! Kudeta Buat Umat Kristen Myanmar Ketakutan dan Butuh Dukungan Doa

Lori Official Writer
777

Gereja-gereja di Myanmar akhirnya meminta dukungan doa dari umat Kristen di seluruh dunia pasca kudeta yang terjadi. Mereka mengaku umat Kristen Myanmar masih terus dihantui rasa takut.

“Rasanya harapan kami dirampas. Saya tidak bisa tidur dan saya berdoa Tuhan di malam itu. Impian, harapan, tujuan dan kebebasan kami direnggut. Hidup kami penuh dengan kesedihan, ketakutan dan penuh masalah di bawah pimpinan rezim militer. Banyak orang menderita karena perang. Kami tertekan akibat kudeta militer karena kami berharap terjadi gencatan senjata,” ungkap Pendeta Zay yang tinggal di wilayah Rakhine State. 

Sebagaimana diketahui, Myanmar memang telah mengalami begitu banyak kehancuran akibat perang saudara terlama di dunia. Peperangan ini mencuat sejak tahun 1948 dan masih terus berkobar hingga saat ini. Kondisi inipun secara langsung mempengaruhi kehidupan orang-orang Kristen yang tinggal di wilayah Chin, Kachin dan Karen. Mereka kerap mengalami penganiayaan dari kelompok pemberontak maupun militer, yang berbeda haluan dengan pemerintah. 

Ketegangan yang terjadi di Myanmar semakin memburuk saat pasukan militer menahan pemimpin pro-demokrasi Aung San Suu Kyi dan Presiden Win Myint bersama 22 pejabat tinggi lainnya. Mereka dituduh melakukan manipulasi di pemilihan Presiden sebelumnya.

Dalam upaya memperkuat kekuasaan mereka, Angkatan Darat Burma memposisikan mantan Jenderal dan anggota partai militer ke dalam 11 posisi kunci di pemerintahan baru mereka. Mereka mulai mengendalikan departemen keuangan dan wilayah urusan budaya dan agama.

 

Baca Juga: Status Darurat Myanmar, Komunikasi Lumpuh 100%

 

Kudeta tersebut menjadi pertanda bahwa militer telah mengambil alih penuh negara dan mereka berkomitmen akan menegakkan nasionalisme Budha. 

Kondisi ini akan semakin mempersulit gereja di Myanmar. Karena kalangan militer Myanmar selalu menjadikan umat Kristen sebagai sasaran penganiayaan. Melihat catatan beberapa decade belakangan, pasukan militer Myanmar sendiri kerap menyerang desa-desa Kristen dan merusak gereja yang ada. 

“Sekarang tentara berkuasa sepenuhnya, tanpa struktur parlemen, debat dan dialog. Itu artinya, kita tidak tahu apa yang akan terjadi pada kaum minoritas,” ungkap Julia Bicknell, analis dari Open Doors.

Setelah saluran telepon dan internet kembali pulih, masyarakat Myanmar sendiri membagikan kondisi yang mereka alami kepada Open Doors. Mereka mengaku jika mereka sudah mulai bisa tenang. Tapi sebagian lainnya masih diserang rasa panik dan takut.

Mereka sendiri menyaksikan bagaimana semua daerah dijaga ketat oleh pasukan militer. Tidak diketahui pasti sampai kapan situasi buruk ini akan mereda. Namun ribuan warga telah bersatu untuk turun kejalan menentang tindakan pasukan militer. Demonstrasi ini diharapkan bisa menjadi bentuk perlawanan terhadap kudeta militer yang terjadi dan berharap bisa menghasilkan gencatan senjata agi Myanmar.

Mari terus berdoa bagi umat Kristen di Myanmar. Situasi yang terjadi saat ini di sana telah membuat mereka menderita dan diserang ketakutan. Jadi, mari bersatu hati untuk meminta terjadi syalom dan damai atas Myanmar. Biar kerajaan dan kehendak Tuhan hadir di negara ini.

Sumber : Jawaban.com
Halaman :
1

Ikuti Kami