Brian Houston Bantah Tudingan Adanya Skandal Keuangan Perpuluhan di Gereja Hillsong

Brian Houston Bantah Tudingan Adanya Skandal Keuangan Perpuluhan di Gereja Hillsong

Puji Astuti Official Writer
986

Brian Houston, Pendeta Senior Global Hillsong Church menyatakan bahwa gerejanya memegang teguh komitmen integritas keuangan dan juga akuntabilitas pencatatan keuangan, menjawab tudingan adanya penyalahgunaan keuangan gereja oleh beberapa pendeta di bawahnya. 

“Saya menulis kepada Anda hari ini karena beberapa cerita yang beredar online menuduh penyalahgunaan kepercayaan yang serius - penyalahgunaan dana gereja oleh karyawan Gereja Hillsong,” demikian isi surat Brian Houston kepada jemaat, Senin (1/2/2021) lalu yang dikutip oleh The Christian Post.

“Kami sangat berduka bahwa, dalam banyak kasus, laporan yang tidak akurat dalam cerita ini dikabarkan seolah-olah benar. Gereja Hillsong dengan tegas membantah bahwa budaya kita membiarkan adanya penyalahgunaan dana gereja yang begitu besar. Faktanya, kisah-kisah ini sangat meresahkan karena Hillsong memiliki catatan keunggulan dalam akuntabilitas keuangan secara global dan komitmen yang teguh terhadap integritas keuangan,” demikian tegasnya.

Tuduhan penyalahgunaan perpuluhan di Hillsong Amerika

Sebelumnya Gereja Hillsong cabang Amerika Serikat diguncang skandal dengan adanya tuduhan penyalahgunaan keuangan dari beberapa mantan jemaatnya. Tuduhan tersebut menyatakan bahwa para pendeta disana sering membelanjakan uang persepuluhan untuk gaya hidup mewah. 

Salah satu yang menyatakan tuduhan adalah mantan jemaat dan juga mantan Pendeta Layanan Hillsong LA Nicole Herman. Ia mengungkapkan kepada New York Post bahwa banyak pendeta Hillsong NYC sering menggunakan uang perpuluhan dari kartu debit "PEX" (prepaid expense) untuk gaya hidup mewah seperti ke restoran mahal, baju bermerek, perawatan manikur serta tempat tinggal di kawasan mahal di gedung Williamsburg, Brooklyn. 

Nicole Herman yang mengundurkan diri dua tahun lalu menyatakan bahwa dia secara pribadi menyetor uang ke kartu PEX sesuai arahan atasannya. 

"Saya diperintahkan untuk mengisinya,"demikian jelas Nicole yang membantu mendirikan Hillsong cabang California pada tahun 2013. "Kami memiliki tim yang menghitung persepuluhan setiap selesai ibadah dan mereka akan mengalokasikan sejumlah X uang untuk kartu PEX."

Kartu tersebut berfungsi untuk para relawan gereja membelanjakan kebutuhan gereja dan pendeta, jelas Nicole. Mereka yang mendapatkan fasilitas ini salah satunya adalah Pastor Carl Lentz yang dipecat November 2020 lalu karena isu "kepemimpinan dan moral", termasuk karena selingkuh. Selain fasilitas kartu debit ini, ia juga mendapatkan fasilitas kartu kredit dari gereja. 

Brian Houstan akan memeriksa kembali keuangan gerejanya

Namun seperti pernyataan di atas, Brian Houston membantah tuduhan tersebut dan menyatakan bahwa gerejanya memiliki sistem untuk mencegah penyalahgunaan perpuluhan dan persembahan. Walau demikian ia mengungkapkan bahwa gerejanya akan "memeriksa dengan cermat" berkaitan dengan tuduhan tersebut, dan mengambil tindakan jika diperlukan. 

Tantangan audit keuangan gereja di Indonesia

Akuntabilitas keuangan pada sebuah organisasi sangatlah penting, terlebih gereja bukan hanya organisasi sosial tapi juga keagamaan dimana arus keuangan berasal dari jemaat. Mampu mempertanggungjawabkan setiap uang yang disumbangkan kepada gereja adalah sebuah kewajiban, terlebih gereja menjadi perwakilan dari pelayan Tuhan yang mengajarkan nilai-nilai kebenaran, kejujuran dan keadilan yang dituliskan Alkitab. Tantangan melakukan audit dan akuntabilitas kepada gereja juga pernah muncul di Indonesia, hal ini dilontarkan oleh lembaga Komisi Pemberantas Korupsi (KPK) pada tahun 2017 lalu. 

Apakah Anda setuju gereja perlu dilakukan audit keuangan? Yuk, berikan pendapat Anda. 


Baca juga : 

Dipecat Dari Hillsong Church, Pendeta Carl Lentz Akui Lakukan Kesalahan Ini

Gereja Didiskriminasi, Pendeta Hillsong Ini Protes Pemerintah Australia


 

Sumber : Christianpost.com
Halaman :
1

Ikuti Kami