#KataAlkitab: Kisah 12 Pengintai Bangsa Israel, Belajar Optimisme Dari Kaleb dan Yosua

#KataAlkitab: Kisah 12 Pengintai Bangsa Israel, Belajar Optimisme Dari Kaleb dan Yosua

Claudia Jessica Official Writer
398

Bagaimana caramu melihat suatu masalah? Sebagai penghalang atau sebagai peluang? Orang pesimis akan mengeluh sedangkan orang yang optimis akan jadi bersemangat menaklukkan masalah tersebut. Sudut pandangmu akan menentukan langkah yang selanjutnya akan kamu ambil.

Optimis adalah kecenderungan untuk mengharapkan hasil dan keadaan yang lebih baik di masa depan. Sehingga orang yang optimis biasanya yakin pada perubahan atau keadaan yang buruk itu pasti akan berakhir. Sikap optimis mungkin tidak selalu didasarkan oleh iman.

Ada banyak orang optimis yang memiliki motto atau prinsipnya sendiri. Seperti motto mungkin sering JCers dengar tentang “Don’t worry be happy”. Sikap optimis ini didasari oleh rasa penolakan rasa khawatir yang dirasakan, dan lainnya. Sikap semacam ini mungkin berhasil, meski hanya sementara.

Alkitab mengatakan bahwa Tuhan yang masa besar turut bergerak di setiap langkah hidup manusia. Dia juga selalu hadir dalam setiap keadaan yang baik maupun buruk. Rasul Paulus juga mengingatkan bahwa Tuhan turut bekerja dalam segala hal dengan membawa kebaikan (Roma 8: 28).

Orang optimis, melihat melalui sudut pandang ilahi karena untuk melihat persoalan tidak cukup hanya dengan sudut pandang manusia, kita perlu melihat sudut pandang Tuhan juga.

Kisah 12 pengintai adalah salah satu contoh menarik yang dapat kita temui di Alkitab mengenai sikap pesimis dan optimis (Bil. 13).

Sewaktu 12 pengintai membawa kabar tentang negeri Kanaan pada orang Israel, sebagian besar pengintai mengatakan bahwa negeri itu berlimpah susu dan madu tetapi penduduknya ialah orang Enak, keturunan raksasa.

Dari dua belas orang pengintai, hanya dua orang yang bersikap optimis, yaitu Kaleb dan Yosua. Bilangan 13: 30 mengatakan, “Kemudian Kaleb mencoba menenteramkan hati bangsa itu di hadapan Musa, katanya: “Tidak! Kita akan maju dan menduduki negeri itu, sebab kita pasti akan mengalahkannya!””

Sikap pesimis berfokus pada besarnya masalah sehingga berdampak pada kepercayaan diri, merasa kecil, dan ketidak mampuan. Orang pesimis cenderung mengalami stress, dan berdampak juga pada turunnya daya tahan tubuh sehingga kita jadi lebih mudah sakit.


Baca juga: Berbahagialah yang Selalu Optimis, Kamu Jauh Lebih Sehat dari Mereka yang Selalu Pesimis!


Sedangkan orang optimis cenderung lebih positif dan gembira sehingga membuat mereka tetap sehat dan dapat mencapai keberhasilan dalam hidup.

Bersikap optimis di tengah situasi yang penuh tekanan itu sulit. Namun, Firman Tuhan dapat membantumu menemukan harapan kembali.

Terkadang seseorang dapat kehilangan sikap optimis dan rasa percaya pada Tuhan karena ia lupa besarnya kekuatan Tuhan sehingga mengandalkan kekuatannya sendiri.

Tetap optomis itu penting bagi orang percaya. Sebagaimana Yesus ketika mengahadapi hari penyaliban. Tuhan tetap optimis dan percaya bahwa hari mengerikan itu akan berakhir pada hari yang ketiga yaitu saat minggu Paskah.

Tips untuk menjadi pribadi yang optimis:

1. Tidak bertahan pada sesuatu yang tidak diubah dengan kekuatan sendiri. Serahkan semua kekhawatiranmu pada Tuhan (1 Petrus 5: 7).

2. Berlatih untuk menavigasi kehidupan dengan Firman Tuhan (Mazmur 119: 105).

3. Fokus pada orang lain di sekitar, bukan hanya diri sendiri (Filipi 2: 4).


Baca juga: #KataAlkitab: Membuat Resolusi, Apakah Itu Mendahului Tuhan?


Jika saat ini kamu sedang bergumul dengan tekanan masalah dan merasa seperti kehilangan rasa optimis menghadapi masa depan, maka ini adalah saatnya untuk bangkit. Jika kamu membutuhkan seorang pastor, konselor, atau sahabat untuk bicara. Maka kamu perlu berada di sebuah komunitas yang sehat.

 

Atau mungkin kamu bisa menghubungi pusat konseling kami, SAHABAT24. Tidak hanya menjadi sahabat curhat, tapi juga siap berdoa buat kamu. SAHABAT24 siap untuk melayani 24 jam, 0822-1500-2424 http://bit.ly/inginKonseling

Sumber : jawaban.com

Ikuti Kami