Meresponi Perubahan Hidup Seperti Sikap Maria

Meresponi Perubahan Hidup Seperti Sikap Maria

Lori Official Writer
      988

Lukas 1: 38

"Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu." Lalu malaikat itu meninggalkan dia.

 

 

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 21; 1 Korintus 12; Ayub 20-21

Hidup berubah. Bagi kita, hidup memang bisa berubah sekejap waktu.

Saat sedang mengemudi, tiba-tiba lampu rem menyala dan mobil di depanmu disalib oleh mobil yang lain. 

Putri remajamu mengaku jika dia baru melakukan tes kehamilan dan hasilnya positif. Dia hamil. 

Orang tuamu mengalami penyakit yang ta terduga. Dia menderita Alzheimer. Dua puluh tahun ke depan kamu akan merawatnya.

Semua peristiwa di atas membuat hidup kita berubah dalam sekejab. Kita mulai tercegang dan bertanya, “Kenapa ini bisa terjadi?”

Bayangkan jika saat ini kamu sedang melakukan sesuatu. Lalu seorang malaikat Tuhan menampakkan diri di hadapanmu dan berkata, “Tuhan sudah memilihmu untuk diberikan hadiah yang luar biasa. Kamu akan mengandung seorang anak laki-laki dan kamu akan menamainya Yesus.”

Itu pasti akan mengubah hidupmu bukan? Itulah yang terjadi pada Maria. 

Apakah kamu penasaran apa sih yang sebenarnya dipikirkan Maria saat malaikat memberitahukan kabar itu? Apakah dia bingung? Gugup? Bahagia? Atau Takut?

Mungkin Maria akan bertanya-tanya, “Gimana mungkin itu terjadi? Aku kan masih perawan!”

Bayangkan, bisa jadi Maria saat itu masih berusia 13 tahun atau paling tua 16 tahun. Dia bahkan masih belum mencapai usia 20 atau 30 tahun. Dia sebenarnya masih belasan tahun.

Dia juga sudah memiliki tunangan, bernama Yusuf. Lalu tiba-tiba dia dikabarkan hamil. Yang artinya kabar ini akan memiliki konsekuensi sosial bagi Maria dan Yusuf. Karena kehamilan Maria di luar nikah akan dianggap perzinahan.

Secara pribadi Maria pasti bertanya-tanya bagaimana perasaan Yusuf saat diberitahukan hal itu. Apakah Yusuf akan memutuskan pertunangan tersebut dan meninggalkannya?

Dia juga mungkin mengkuatirkan bagaimana anak itu nantinya bertumbuh. Dia takut jika sang anak akan menerima ejekan atau tuduhan sebagai aank haram dan segala macam label serupa.

Tapi setelah menerima kabar itu, bagaimana tanggapan Maria?

Jujur saja, kalau kita ada di posisi seperti itu, kita mungkin akan marah. Karena perubahan yang tiba-tiba itu mendatangkan konsekuensi yang besar.

Tapi tidak dengan Maria. Dia justru meresponi dengan rendah hati. “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” (Lukas 1: 38).

Daripada takut menghadapi perubahan, dia memilih berdamai dengan keadaan itu. Dan kedamaian itu akhirnya memberinya keberanian untuk taat, menerima apapun yang Tuhan sediakan.

Kiranya teladan Maria mendorong kita di musim Natal ini untuk menerima berbagai perubahan hidup yang terjadi di tahun ini dan menerimanya sebagai langkah besar untuk menjalani hidup yang baru di tahun berikutnya. Dan kiranya mata kita senantiasa tertuju kepada Yesus, sang Pembawa Damai. 

 

Hak cipta Brian Simmons dan The Passion Translation, digunakan dengan izin Cbn.com

Ikuti Kami