Tahun yang Buruk di Tengah Natal yang Indah

Tahun yang Buruk di Tengah Natal yang Indah

Lori Official Writer
      1226

Mazmur 56: 8

Sengsaraku Engkaulah yang menghitung-hitung, air mataku Kautaruh ke dalam kirbat-Mu. Bukankah semuanya telah Kaudaftarkan?

 

 

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 16; Wahyu 22; Ayub 8-10

Wajah Carrie tampak memulas di kursinya setelah mendengar alunan lagi It’s the Most Wonderful Time of the Year. Dia tampak tidak nyaman dan seolah bertanya pada dirinya sendiri, ‘Bagaimana kalau ini bukanlah masa yang paling indah?’

Anak bungsunya menarik-narik lengan bajunya dan tersenyum kea rah Carrie dengan sangat polos. Anak berusia setahun lebih itu sama sekali tidak paham dengan kondisi hati ibunya, kalau saat itu dia merasa sepanjang tahun adalah masa-masa yang paling menyedihkan. Dia banyak mengalami hal buruk, mulai dari kehilangan rumah dan putri sulungnya ikut terbakar di dalamnya. Bau asap sekecil apapun masih membuat Carrie mengingat kejadian mengerikan itu.

Saat alunan lagu itu bergema, pendeta melangkah menuju ke belakang podium. Dengan senyum penuh kasih, dia menyampaikan, “Natal bukanlah waktu yang indah untuk semua orang.” 

Apakah sang pendeta bisa membaca pikiran Carrie? Karena saat itu, dia memang sedang menghadapi masa sulit.

Lalu sang pendeta melanjutkan, “Tetapi Tuhan punya hadiah bagi semua orang yang merasakan patah hati di tahun ini. Di terjemahan baru Mazmur 56: 8 kita diingatkan, “Sengsaraku Engkaulah yang menghitung-hitung, air mataku Kautaruh ke dalam kirbat-Mu. Bukankah semuanya telah Kaudaftarkan?””.

Lalu putri kecil Carrie merengek dan mengadu, “Mama, jari-jariku terluka.”

Carrie menunduk setelah menyadari bahwa dia meremas tangan aanknya yang berusia empat tahun. Dia lalu mengusap kulit yang memerah itu dan berbisik, “Maaf sayang.”

Lalu pendeta melanjutkan, “Banyak yang menderita karena hal-hal yang tidak akan pernah bisa mereka lupakan. Tapi banyak orang sering kali tidak mengerti, bahwa Tuhan sendiri sudah lebih dulu mengalaminya. Bayangkan kesedihan-Nya ketika Dia kehilangan satu-satunya anak-Nya, Yesus Kristus, berkorban untuk orang yang tidak tahu terima kasih seperti kita.”

Perlahan Carrie merasa tetesan air mata jatuh di pipinya.

“Karena Dia benar-benar tahu bagaimana perasaan kita, Tuhan mampu menghibur kita di tempat-tempat menyakitkan kita. Dan di 2 Korintus 1: 4, Dia mendorong kita untuk mengikuti teladan-Nya saat kita diberitahu bahwa ‘Dia menghibur kita untuk setiap masalah kita, jadi kita juga bisa menghibur orang lain. Saat mereka menghadapi masalah, kita bisa memberi mereka penghiburan yang sama seperti yang Tuhan berikan kepada kita,” kata pendeta.

Dengan mata berkaca-kaca, Carrie memandang ke deretan kursi di depannya. Dia memperhatikan seorang ibu muda yang baru kehilangan bayi laki-lakinya saat melahirkan.

Setelah ibadah selesai, Carrie mendekati ibu muda tersebut. Dia memandang wanita itu sama seperti dirinya, hidup dalam luka. Tapi saat itu, dia tertantang untuk membagikan pesan Natal seperti dalam khotbah yang dia dengar.

Tak lama setelah itu, Carrie baru menyadari bahwa melalui setiap peristiwa pahit yang dilaluinya, Tuhan tetap membimbingnya. Dia mendapati dirinya mulai bisa tersenyum dan menikmati hal-hal sederhana yang terjadi dalam hidupnya.

Carrie dan wanita muda itu memang tidak akan bisa melupakan luka yang mereka alami. Tapi mereka menghargai pengorbanan Yesus untuk hidup mereka. Bahwa itu adalah hadiah kasih karunia yang sudah mereka dapatkan dan yang bisa mereka bagikan kepada orang lain.

Dia akhirnya memahami bahwa Kristus yang dirayakan di hari Natal adalah momen untuk mengingat kasih setia Tuhan bagi semua orang yang terluka. Kalau orang lain memandang Natal sebagai momen yang paling indah, maka bagi Carrie itu adalah momen yang paling berarti.

 

Hak cipta Anita Angers-Brooks, digunakan dengan izin Cbn.com

Ikuti Kami