Gereja Bala Keselamatan Minta Pemerintah Antisipasi Agar Kasus Sigi Tak Terulang

Gereja Bala Keselamatan Minta Pemerintah Antisipasi Agar Kasus Sigi Tak Terulang

Puji Astuti Official Writer
632

Dalam pernyataan resminya, Pimpinan Pusat Gereja Bala Keselamatan meminta pemerintah dan pihak kepolisian melakukan antisipasi sehingga kejadian sadis seperti di Sigi, Sulawesi Selatan tidak terulang kembali. Selain itu pihak gereja juga mengecam tindakan sadis dan tidak berperikemanusiaan yang menghilangkan nyawa 4 orang dan juga pembakaran pos pelayanan dan rumah warga di  Lewonu, Lembantongoa, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah.

Pernyataan pers yang bertanggal 28 November 2020 tersebut, dirilis oleh Pimpinan Pusat Gereja Bala Keselamatan yang berada di Bandung, Jawa Barat. Pihak gereja juga meminta untuk anggotanya tidak menyebarkan gambar dan informasi yang tidak benar/tidak layak untuk disebarkan melalui media apa saja. 

Mereka juga mengajak untuk semua lembaga gereja dan keagamaan untuk selalu siaga dan membangun jejering keamanan dan berkoordinasi antar lembaga untuk mencegah aksi kejahatan serupa terjadi di Indonesia. 

Berikut adalah penyataan lengkapnya yang di rilis melalui website resmi mereka wm4.salvationarmy.org : 

PRESS RELEASE 

Ungkapan Duka dan Pernyataan Resmi Atas Tindakah kekerasan yang menghilangkan nyawa dan pembakaran Pos Pelayanan Gereja Bala Keselamatan serta rumah warga di Lewonu, Lembantongoa, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah.

Pimpinan Pusat Gereja Bala Keselamatan menyatakan bahwa peristiwa di atas, yang informasinya lebih terinci kami terima pagi ini MERUPAKAN PERBUATAN YANG TIDAK BERPERIKEMANUSIAAN DAN MENGECAMNYA DENGAN KERAS.

Berkaitan dengan hal tersebut, Pimpinan Gereja Bala Keselamatan menyatakan:

1. Perasaan duka dan simpati yang mendalam terhadap korban yang meninggal dan keluarganya serta seluruh jemaat yang terdampak. Mendoakan keluarga yang berduka, bahwa Allah Roh Kudus memberikan penghiburan bagi keluarga yang berdukacita.

2. Bahwa tindakan kekerasan, dengan alasan dan cara apapun, merupakan tindakan pelanggaran hukum dan hak asasi manusia.

3. Memberi apresiasi setinggi-tingginya bagi Komandan Divisi dan para Opsir Bala Keselamatan yang telah berkoordinasi cepat dengan aparat kepolisian serta pemerintah Kabupaten Sigi dan Propinsi Sulawesi Tengah untuk langkah penanganan peristiwa ini serta perlindungan bagi warga.

4. Meminta dengan sangat Pemerintah dan Kepolisian terkait untuk terus meningkatkan langkah antisipatif terhadap gerakan kejahatan dan sadis yang masih ada sampai saat ini, agar peristiwa yang terjadi di Lewonu, Lembantongoa tidak terulang kembali di kemudian hari.

5. Mengharapkan Pemerintah dan Kepolisian Kabupaten Sigi-Sulawesi Tengah dapat segera mengungkap pelaku serangan brutal ini, memberi tindakan yang sesuai dan mengusut serta membasmi jaringan-jaringan kejahatan ini.

6. Menghimbau agar para Opsir Bala Keselamatan dan seluruh jemaat Gereja Bala Keselamatan tetap tenang namun waspada dan berhati-hati. Diharapkan tidak menyebarkan informasi dan gambar yang tidak benar/tidak layak disebarkan berkaitan dengan peristiwa ini melalui media apa saja, agar tidak meresahkan kehidupan sosial kemasyarakatan. Mari sebarkan berita pengharapan dan galang kesatuan dalam doa untuk saling menguatkan. Kami mengajak agar dalam ibadah Hari Minggu, 29 November 2020 dilaksanakan doa khusus di masing-masing tempat (rumah dan gereja sesua protokol kesehatan) dengan hening 3 menit untuk mendoakan keluarga dan jemaat yang berduka dan meminta Damai Sejahtera Allah dinyatakan di bumi ini.

7. Mengajak lembaga gereja dan lembaga keagamaan lainnya beserta seluruh masyarakat untuk selalu siaga, serta membangun jejaring keamanan dan koordinasi antar lembaga agar dapat bersama-sama mencegah aksi-aksi kejahatan serupa di negeri yang kita cintai ini.

Berkat damai sejahtera Allah, Kasih Tuhan Yesus Kristus, dan Kuasa Roh Kudus menyertai, melindungi dan menguatkan kita semua!

Bandung, 28 November 2020

Pimpinan Gereja Bala Keselamatan di Indonesia

Berdasarkan pernyataan dari Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD, pelaku pembunuhan sadis dan pembakaran rumah warga tersebut adalah kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT), dan saat ini pemerintah sedang mengejar pelaku melalui Satgat Operasi Tinumbala.  MIT sendiri adalah pecahan dari kelompok teroris Santoso yang berafiliasi dengan ISIS. 

Mari berdoa bagi umat Kristen dan masyarakat di Sigi, seperti harapan pemerintah agar masyarakat tidak terpancing oleh isu SARA dan tetap menjaga kesatuan dan kedamaian. 

Sumber : Berbagai Sumber
Halaman :
1

Ikuti Kami