Firman Tuhan, Kunci Tetap Berdiri Teguh dan Tidak Goyah!

Firman Tuhan, Kunci Tetap Berdiri Teguh dan Tidak Goyah!

Lori Official Writer
1652

1 Timotius 3 mengisahkan tentang peristiwa ketika Paulus mengirim muridnya Timotius dari Athena ke Tesalonika. Perjalanan itu menempuh jarak sekitar 200 mil atau setara dengan satu setengah minggu perjalanan. Dia diminta untuk melihat keadaan orang-orang yang baru percaya di sana. 

Kebanyakan ahli memperkirakan kalau Timotius mungkin pergi sekitar satu bulan atau lebih sebelum bertemu kembali dengan Paulus di kota Korintus. Saat kembali bertemu Paulus, dia memberitahukan kabar baik yang terjadi, bahwa orang-orang percaya di Tesalonika tetap berdiri teguh dalam iman mereka bahkan sekalipun saat itu ada begitu banyak penganiayaan dan berbagai macam godaan dunia luar yang menggiurkan.

Kabar itu membuat Paulus bersukacita dan berbangga diri. Karena dia sendiri juga sudah banyak mengalami penganiayaan seperti dipukul dan dipenjara karena Kristus. Dia banyak melalui masa-masa sulit dan bahaya yang mengintai sepanjang waktu. Bahkan di hari pertemuan mereka, Paulus mungkin sedang menghadapi suatu tekanan. Tapi kabar dari Timotius membuatnya lebih tenang.

Bagi seorang pemimpin rohani, adalah suatu kebahagiaan ketika menyaksikan satu orang percaya kepada Kristus dan hidup mengandalkan iman. Kita bisa melihat bahwa Paulus begitu bersukacita mengetahui orang-orang Kristen di Tesalonika mengalaminya. Bahkan dia sendiri mengungkapkan betapa bersyukurnya dia atas hal itu.

“Sebab ucapan syukur apakah yang dapat kami persembahkan kepada Allah atas segala sukacita, yang kami peroleh karena kamu, di hadapan Allah kita?” (1 Tesalonika 3: 9)

Paulus menggarisbawahi bahwa penderitaan dan penganiayaan yang dia terima selama melayani Tuhan itu pantas terjadi ‘asal saja tetap teguh berdiri di dalam Tuhan’.

Teguh berdiri di dalam Tuhan adalah konsep yang kita temukan berulang kali dalam surat-surat Paulus. Di 1 Korintus 16: 13, misalnya dia berkata, ‘Berjaga-jagalah! Berdirilah dengan teguh dalam iman!’ Lalu di Galatia 5: 1, Paulus menulis, ‘Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.’

Paulus berulang kali memberitahukan saudara-saudaranya di dalam Kristus untuk tetap berdiri teguh dan tetap berada di barisan. Hal ini sering kita dengar dalam konteks militer. Misalnya dalam film peperangan seperti Braveheart atau Patriot, keduanya berisi adegan dimana Mel Gibson mendesak pasukannya untuk tetap berada di barisan.

 

Baca Juga: Di Tengah Penderitaan Pun, Belajarlah Berdiri Teguh dan Berdoa Bagi Orang Lain

 

Konteks ini juga berlaku dalam kehidupan keseharian kita sebagai orang percaya. Masing-masing dari kita tentu saja punya masalah dan perjuangan sendiri dalam hidup. Ada yang berjuang menghadapi dosa tertentu yang berulang sehingga membuat kita merasa rendah diri. Tapi pertanyaannya adalah apakah kita sudah mencoba untuk menghadapi dosa tersebut dengan firman Tuhan?

Dalam Mazmur 119: 11 Daud berkata, ‘Dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu, supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau.’ Daud mengandalkan firman Tuhan untuk menjaga dirinya dari dosa. Hal serupa juga dilakukan oleh Yesus ketika Dia dicobai di padang gurun. Dia memakai firman Tuhan dan perintah-Nya untuk menolak rayuan si iblis.

Kita punya firman Tuhan sebagai alat untuk kita pakai menghadapi godaan si iblis. Mengenal firman Tuhan adalah salah satu cara terbaik supaya kita bisa berdiri teguh dalam cara kita berpikir, berbicara dan bertindak dalam segala hal.

Karena itulah Paulus memperingatkan supaya kita tetap ‘berdiri teguh dalam Tuhan’. Kita harus tahu bahwa orang-orang Kristen di Tesalonika belum pernah melihat Tuhan secara pribadi, sama seperti kita. Tapi Paulus menekankan pentingnya membangun hubungan pribadi mereka dengan Dia. Kita tidak akan bisa berdiri teguh, kecuali kita berada di dalam Tuhan.

Jadi, hari ini mari merenungkan kembali bagaimana hubungan kita dengan Tuhan. Apakah kita cenderung suam-suam kuku atau sudah menjadi dingin? Ingatlah bagaimana kamu pertama kali bertemu dengan Tuhan.

Ingatlah bahwa sebelum kita menjadi pribadi yang kuat dan berdiri teguh dalam iman, kita harus berakar kuat lebih dulu di dalam injil. Kita perlu memahami siapa kita di dalam Dia.

Kita bisa berdiri teguh di dalam Tuhan dan tetap berada di barisan karena Firman Tuhan. Karena dari situlah sumber hikmat, pengertian dan kekuatan yang kita terima.

"Sekarang kami hidup kembali, asal saja kamu teguh berdiri di dalam Tuhan." (1 Tesalonika 3: 8)

Sumber : Jawaban.com
Halaman :
1

Ikuti Kami