Uskup Ini Lepas Jabatan Karena Dinyatakan Bersalah Tak Ijinkan Pemberkatan Pernikahan LGBT

Uskup Ini Lepas Jabatan Karena Dinyatakan Bersalah Tak Ijinkan Pemberkatan Pernikahan LGBT

Puji Astuti Official Writer
435

Seorang uskup dari Gereja Episkopal Amerika melepaskan jabatannya karena dinyatakan bersalah oleh sinodenya setelah ia tidak mengijinkan pernikahan  LGBT atau sesama jenis di keuskupan yang ia pimpin. 

Pendeta William Love, Uskup Episkopal Albany menyatakan bahwa dirinya melepaskan jabatannya per 1 Februari 2021 nanti. Keputusan ini ia ambil setelah pada 5 Oktober 2020 lalu ia dinyatakan bersalah oleh  Panel Dengar Pendapat Sinode Episkopal. Pasalnya ia dinyatakan telah terbukti melanggal Resolusi B012 yang disahkan pada tahun 2018 bahwa keuskupan Episkopal mengijinkan untuk pemberkatan pernikahan sesama jenis. 

“Saya sangat kecewa dan tidak setuju dengan Keputusan Panel Dengar Pendapat, terutama keyakinan mereka bahwa saya melanggar sumpah pentahbisan saya dan argumen mereka bahwa B012 disahkan sebagai revisi resmi dari Kitab Doa Umum (Book of Common Prayer-red),” demikian pernyataan resmi Uskup William Love yang dirilis oleh Anglican Ink. 

Selain mengundurkan diri, Uskup William juga mempertanyakan interpretasi dari aturan B012, apakah aturan itu sudah sesuai konstitusi dan disahkan secara resmi atau tidak. Menurutnya dan tim legal yang membantunya, aturan tersebut hanyalah keputusan alternatif yang memungkinkan pernikahan sesama jenis namun di saat yang sama tidak mengubah aturan yang terdapat dalam Buku Doa yang dibuat tahun 1979. 

Namun karena menyadari bahwa keputusan sinode tidak akan berubah, maka ia memilih untuk mengundurkan diri. 

Kasus ini bermula saat November 2018 Uskup William Love membuat surat resmi yang menyatakan bahwa pernikahan sesama jenis tidak diijinkan di keuskupan yang ia pimpin sekalipun telah ada aturan baru Resolusi B012. 

“Yesus memanggil Gereja untuk mengikuti teladan-Nya. Dia memanggil Gereja untuk berani bicara tentang Kebenaran-Nya dengan kasih tentang prilaku homoseksual - walaupun secara politik hal itu tidak benar, “ demikian tulis Uskup Love saat itu. 

“Hubungan seksual antara dua pria atau dua wanita tidak pernah menjadi bagian dari rencana Tuhan dan itu adalah distorsi dari rancangan Dia dalam penciptaan dan hal itu harus dihindari,” demikian tegasnya. 

Namun sebaliknya, Sinode Episkopal dalam dengar pendapat tentang kasus Uskup William Love ini menyatakan bahwa, ““Merampas akses pasangan sesama jenis ke perkawinan secara material dan substansial berdampak pada kesejahteraan spiritual, emosional dan fisik mereka sebagai umat Tuhan. Ekspresi cinta berubah secara dramatis ketika dikenali, disambut dan disaksikan. Hilangnya upacara publik berdampak pada pasangan, keluarga, teman, dan komunitas.”

Gereja harus berani untuk tetap berpegang kebenaran menghadapi arus dunia yang semakin kuat untuk membelokkan manusia untuk keluar dari rencana Tuhan. Namun jika gereja sudah kompromi, maka seperti yang Yesus katakan dalam Matius 5:13, "Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.”

Semoga teladan yang ditunjukkan oleh Uskup William Love menjadi panutan bagi para hamba Tuhan saat menghadapi tantangan yang sedang menerpa gereja saat ini. Terima kasih untuk keberanian Anda Uskup Love.

Sumber : Christianpost.com

Ikuti Kami