Roslinda, Anak NTT yang Suarakan Dampak Besar Pandemi Pada Anak di PBB

Roslinda, Anak NTT yang Suarakan Dampak Besar Pandemi Pada Anak di PBB

Lori Official Writer
12525

Roslinda, seorang remaja berusia 15 tahun asal Nusa Tenggara Timur (NTT) kembali mewakili suara anak Indonesia di forum Internasional Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Rabu (8/10) lalu.

Jika tahun 2019 lalu dia terbang secara langsung ke kantor pusat PBB di New York, Amerika Serikat untuk menyuarakan tentang kasus penelantaran anak yang banyak terjadi di Indonesia, maka kali ini Roslinda menyuarakan tentang dampak pandemi yang dihadapi anak-anak di Indonesia. Dengan menyampaikan realita yang dihadapi anak-anak di berbagai belahan wilayah, khususnya di daerahnya NTT, dia berharap badan perlindungan anak PBB bisa bertindak memberikan solusi dalam menghadapi pandemi saat ini.

“Kami sedih karena selama pandemi tidak bisa bertemu teman-teman. Setelah belajar di rumah, kalau menemui hal sulit tidak bisa langsung bertanya pada guru seperti kalau di sekolah. Bagi anak-anak yang pendidikan orangtuanya minim maka akan semakin kesulitan,” kata Roslinda.

 

Baca Juga: Kesulitan Mengajar Anak Belajar Online? Ini Tips Dari Psikolog Anak, Queenie Prabakanti

 

Bukan hanya itu, dia juga menyoroti tentang sulitnya anak-anak di daerah pedalaman untuk mengikuti sistem belajar online. Karena bukan saja tidak memiliki jaringan, kebanyakan anak bahkan tidak memiliki telepon seluler.

“Untuk belajar di rumah, kami membutuhkan jaringan internet yang stabil dan juga telepon seluler. Tapi penghasilan orangtua kami menurun. Kami juga diharuskan rajin mencuci tangan, tetapi tidak semua daerah memiliki akses air bersih. Saya berharap, para pemangku kebijakan bisa memberi solusi untuk persoalan yang dihadapi anak selama pandemi,” ungkap Roslinda.

Pandemi membuat keadaan semakin sulit. Bagi anak-anak di daerah terpencil seperti Sumba, bukan saja hanya anak yang kesulitan dalam mengakses pendidikan. Tapi secara ekonomi, masyarakat juga mengalami dampak besar yang menyebabkan banyak keluarga tidak bisa memenuhi kebutuhan dasarnya. 

 

Baca Juga: Dilema Sekolah Online, Orangtua Rela Ngutang Demi Bisa Beli Quota, Duh!

 

Kondisi ini jelas ditemukan dari hasil penilaian cepat World Vision kepada 9 negara yaitu Bangladesh, Kamboja, India, Indonesia, Mongolia, Myanmar, Nepal, Filipina, dan Sri Lanka, berjudul ‘Unmasking the Impact of COVID-19 on Asia’s Most Vulnerable Children’. Beberapa dampak pandemi yang dihadapi diantaranya:

- 61% mata pencaharian masyarakat 

terdampak

- 52% rumah tangga mengonsumsi makanan kurang bergizi 

- 32% keluarga kehilangan aset 

- 27% keluarga sulit mengakses pelayanan medis dasar 

- 24% orangtua/pengasuh memberlakukan hukuman fisik atau kekerasan emosional 

Dampak lain yang tak kalah mengejutkan adalah pandemi juga menyebabkan banyak anak perempuan menjadi korban pelecehan seksual, yang pelakunya berasal dari komunitas mereka sendiri. Oleh karena itu, semua pemangku kepentingan diharapkan bisa melakukan tindakan ril untuk membantu kesulitan anak di negara-negara yang rentan, termasuk Indonesia.

 

Tentu saja persoalan yang dihadapi anak saat ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Tapi kita sebagai masyarakat dan saudara sebangsa dan setanah air, juga bisa meringankan sebagian beban anak-anak di berbagai belahan wilayah. Salah satunya adalah dengan #BeraniBergerak menghadirkan sukacita dan semangat bagi anak-anak di NTT. Selama bulan Oktober-November ini, Superbook Indonesia bekerja sama dengan Patrobas akan membagikan sepasang sepatu seharga Rp 150.000 untuk anak-anak di NTT. Buat kamu yang rindu untuk terlibat dalam gerakan ini, bisa mendaftarkan diri DI SINI.

Sumber : Jawaban.com

Ikuti Kami