Film Disney ‘Mulan’ Ramai-ramai Diboikot, Ternyata Ini Sebabnya…

Film Disney ‘Mulan’ Ramai-ramai Diboikot, Ternyata Ini Sebabnya…

Lori Official Writer
144

Raksasa rumah produksi film Disney mendapat banyak kritikan minggu ini, yang bertepatan dengan mulai dirilisnya film ‘Mulan’.

Banyak pihak yang menilai Disney telah melakukan kesalahan besar karena bekerja sama dengan pemerintah China, yang selama ini memiliki track record pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM).

Seperti diketahui, minggu lalu Disney memberikan penghargaan kepada beberapa lembaga pemerintah China atas reka ulang live-action dari animasi klasik Mulan tahun 1998. Film ini sendiri diangkat dari kisah legendaris seorang pahlawan keturunan China yang menggantikan sang ayah dalamwajib militer dan berlatih bersama kaum pria.

Sayangnya, pemberian penghargaan ini dianggap tidak tepat. Karena pemerintah China, khususnya di Provinsi Xinjiang yang menerima penghargaan tersebut, terbukti banyak melakukan praktek pelanggaran HAM terhadap ratusan ribu orang Uighur dan etnis Muslim yang ditahan di kamp-kamp interniran.

Pengadilan Kriminal Internasional sendiri telah melakukan penyelidikan terhadap tindakan genosida tersebut.

Pihak Disney sendiri memberikan penghargaan khusus kepada Departemen Publisitas Xinjiang dan Biro Keamanan Publik dan Periwisata di Turpan, sebuah kota yang berada di luar ibu kota Xinjiang, Urumqi.

Menurut Departemen Luar Negeri AS, beberapa daftar pelanggaran HAM terburuk yang dilakukan oleh pemerintah China terjadi di Daerah Otonomi Uighur, Xinjiang. Dimana sebanyak 800.000 sampai 2 juta orang Uighur dan etnis Muslim ditahan di kamp interniran sejak tahun 2017 silam.

Pada tahun 2019 lalu, Biro Industri dan Keamanan AS memasukkan Badan Keamanan Umum Kota Turpan ke dalam daftar pelaku pelanggaran HAM dimana mereka dengan semena-mena melakukan penahanan massal masyarakat China dan mengekang kebebasan orang Uighur.

Seruan boikot inipun diwarnai beragam komentar terkait tindakan brutal pemerintah China yang selama ini tidak tersorot.

"Mulan secara khusus berterima kasih kepada departemen publisitas komite daerah otonom Uighur BPK Xinjiang atas kreditnya. Anda tahu, tempat itu adalah tempat terjadinya genosida budaya. Mereka memfilmkan wilayah Xianjiang, dimana dalam subtitlenya disebut China Barat Laut," tulis Jeannette Ng, seorang penulis novel yang pernah meraih penghargaan.

Baca Juga: Selain India, Kasus Penganiayaan Orang Kristen Terus Meningkat di 3 Negara Ini Loh!

Walaupun film Mulan tidak banyak mengambil latar Xinjiang, CNN Business melaporkan bahwa beberapa orang yang mengerjakan film tersebut menyatakan di media sosial dan melalui wawancara media bahwa mereka mencari dan mendokumentasikan lokasi yang ada di sana.

“Untuk membuat Mulan, Disney bekerja sama dengan empat departemen propaganda di wilayah Xinjiang, China, situs genosida terhadap umat Muslim, dan biro keamanan publik Xinjiang,” tulis kolumnis Washington Post Isaac Stone Fish lewat Twitter.

Seorang imigran China, Helen Raleigh sendiri menyampaikan bahwa versi film Mulan saat ini justru lebih menunjukkan bagaimana rakyat hanya menunjukkan kepatuhan kepada kekuasaan Partai Komunis Tiongkok (PKT). Berbeda dengan versi animasi tahun 1998 yang menekankan tentang bagaimana setiap orang memiliki kebebasan untuk menentukan nasibnya sendiri.

“Karena negara identik dengan kesetiaan kepada negara tidak berbeda dengan setia kepada PKT.  Loyalitas mutlak di Tiongkok didefinisikan sebagai melakukan apapun yang diminta oleh PKT dan tidak pernah mempertanyakan atau tidak mematuhi perintah apapun dari PKT. Memang, jika dianggap perlu, seseorang harus siap mengorbankan dirinya untuk PKT,” tulis Raleigh.

Baca Juga: Tak Kunjung Usai, Umat Kristen China Dianiaya Bahkan di Tengah Pandemi

Dia bahkan menyinggung Disney bahwa masyarakat tidak perlu heran karena produksi film kenamaan ini akan melakukan apapun untuk mendapatkan keuntungan.

Raleigh juga menyerukan boikot terhadap film Mulan karena aktris utama yang bermain di film tersebut, Liu Yifei tahun lalu ikut mendukung supaya pemerintah China melakukan tindakan keras terhadap pengunjuk rasa di Hong Kong seiring mencuatnya RUU ekstradisi.

Sebagai informasi, selama beberapa tahun belakangan China telah masuk dalam daftar merah sebagai negara yang sangat tidak aman bagi umat beragama. Rumah ibadah sendiri sudah dikuasai oleh Partai Komunis. Setiap umat beragama yang terbukti melakukan ibadah keagamaan di rumah atau di tempat-tempat umum akan mendapatkan sanksi. Sayangnya, pemerintah Internasional masih belum berhasil melakukan tindakan yang mumpuni terkait pelanggaran HAM yang terjadi di sana.

Sumber : Jawaban.com

Ikuti Kami