Pengen Jadi Papa Mama Hebat? Disini Rahasianya Diungkap

Pengen Jadi Papa Mama Hebat? Disini Rahasianya Diungkap

Lori Official Writer
211

Setiap orangtua pasti menghadapi tantangan yang berbeda-beda dalam proses pengasuhan anak. Apalagi mendapati kenyataan anak bukannya tumbuh lebih baik, tapi justru lebih nakal. Di satu sisi, banyak orangtua yang memilih membiarkannya namun ada juga mereka yang justru menerapkan pola pengasuhan yang lebih keras kepada anak.

Apakah dua pilihan ini sudah tepat? Lewat acara Webinar Parenting yang diselenggarakan oleh CBN Indonesia pada 5 September 2020 lalu yang bertajuk #BeraniBergerak Jadi Papa Mama Hebat untuk Anakku, Pdt. Dr. Julianto Simanjuntak MDiv, MSi seorang pakar terapis keluarga dan penulis yang saat ini aktif melayani serta memiliki Lembaga Konseling Keluarga Kreatif (LK3), memaparkan tentang cara tepat bagi orangtua dalam mendidik anak.

Pada acara ini Pdt.Julianto menjelaskan kesalahan mendasar orangtua dalam mendidik anak. Yaitu mereka sering mendidik anak untuk kebaikan orangtua sendiri. Menurutnya hal tersebut sama sekali berbeda dengan nasihat yang disampaikan dalam Amsal 22: 6 “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.”

“Budaya kita sangat kuat mengajarkan seolah-olah anak dididik untuk kebanggaan. Anak-anak dididik untuk masa depan orangtuanya, bukan untuk anaknya sendiri,” kata Julianto.

Sayangnya, budaya mendidik semacam ini dinilai tidak lagi relevan dengan generasi saat ini yang begitu unik secara karakter.

Menurut Julianto, generasi Z dan Alpha yang dihadapi orangtua saat ini adalah anak-anak yang secara karakter sangat berbeda dengan anak di generasi orangtua.

Terdapat 5 karakteristik anak generasi Z dan Alpha yang perlu dipahami oleh semua orangtua, diantaranya:

1. Generasi saat ini hidup di tengah dunia digital

Orangtua harus memahami karakteristik setiap generasi berbeda-beda. Untuk generasi sekarang, mereka hidup di zaman digital. Yang artinya mereka sangat melek teknologi dan informasi.

Perbedaan inilah yang menimbulkan gap antara orangtua dan anak.

2. Berbudaya global dan selalu terhubungan dengan internet

Selain itu, generasi Z dan Apha juga sangat terhubung dengan dunia global sehingga membentuk karakter anak menjadi sama di seluruh belahan dunia.

“Mereka juga berbudaya global, selalu terhubungan dengan internet, dengan hp. Akibatnya, jangan lupa seluruh desa, seluruh kota Indonesia sampai Eropa, Amerika itu semua budaya anak-anak kita budaya yang sangat mirip. Lihat dari cara pilihan makanannya, dari cara berpakaiannya, dari cara memilih rambut,” ungkapnya.

Budaya global inilah yang membuat anak selalu terhubung dengan segenerasinya dari seluruh dunia.

3. Anak menjadi lebih sekuler karena dipengaruhi oleh pandangan humanisme dan relativisme

Aktivitas sosial di dunia online pun membuat anak zaman sekarang menjadi lebih sekuler. Hal ini bisa dipengaruhi oleh pandangan-pandangan humanisme dan relativitas dunia yang mereka terima.

“Jangan heran anak-anak kita mempertanyakan gereja, mempertanyakan agama. Kenapa ini? Kenapa itu? Kenapa gay itu dosa? Mereka mempertanyakan beberapa hal yang gereja menekankan itu adalah sesuatu yang salah. Mereka sangat lentur dalam pemahaman iman mereka. Mereka kadang-kadang juga merasa ke gereja boleh, gak ke gereja juga ok. Ini berbeda dengan pemahaman orangtua yang harus gereja,” jelasnya.

4. Dibesarkan dalam keluarga yang rusak

“Banyak orangtua single. Papa meninggalkan rumah. Papa di rumah tapi tidak berfungsi sebagai papa. Papa yang pasif. Atau sebaliknya, Papa yang aktif mama yang tidak berperan sebagai mama,” katanya.

Faktor ini bisa sangat mempengaruhi tumbuh kembang anak.

 

Baca Juga: Sebagai Berkat Dari Tuhan, Orangtua Patut Perlakukan Anak Dengan 3 Tindakan Ini

 

5. Mengalami krisis kesehatan mental

Berbeda dengan generasi sebelum-sebelumnya, generasi saat ini ditemukan sangat rentan dengan berbagai masalah kesehatan mental. Kecanduan games, misalnya, membuat anak tidak bisa berkembang dengan baik. Ada juga yang diserang perasaan kuatir berlebihan, depresi dan juga kecemasan.

Faktor-faktor di atas pun bisa jadi penyebab utama anak mengalami perubahan pandangan dalam berbagai hal, diantaranya:

- Anak berpandangan bahwa gereja dan orangtua itu bertindak munafik, membosankan dan suka menghakimi. Hal inilah yang membuat anak tidak lagi pergi ke gereja dan tidak lagi berdoa. Sebagai contoh saat orangtua yang suka bertengkar di rumah, tapi mereka terlihat baik-baik saja di gereja, hal tersebut membuat kepercayaan mereka memudar.

“Ibadah-ibadah mulai membosankan. Itu-itu aja. Sangat monolog, tidak ada dialog dan kebanyakan isi khotbah dan ajaran di gereja adalah menghakimi, menyalahkan, menyudutkan, menuntut, menasihati,” ucapnya.

- Gereja dan orangtua tidak lagi dipandang sebagai sosok teladan untuk memahami Alkitab. Anak tidak lagi melihat orangtua sebagai teladan karena perkataan dan ucapan mereka biasanya tidak sejalan.

- Anak memandang orangtua miskin pengetahuan. Karena setiap kali diajak berdiskusi, orangtua mengaku tidak paham tentang apa yang anak sedang bicarakan. Akibatnya, anak pun memilih mencari jawaban dari teman-temannya, yang kebanyakan dari jawaban yang mereka dapat sangat keliru.

- Anak memilih untuk hidup mandiri karena tidak ada yang mendampingi. Kesibukan orangtua dengan pekerjaan maupun urusan sendiri, membuat anak harus menjalani kehidupannya sendirian. Mulai dari belajar sendiri, makan sendiri dan sebagainya.

“Jarang sekali orangtua sekarang yang membudayakan makan bersama, nonton bersama, cerita bersama, ngobrol bersama. Anak-anak kita di zaman ini banyak yang tumbuh sendiri. Besar dengan pembantu, baby sitter, digital baby sitter, electronic baby sitter,” ucapnya.

- Anak tidak lagi mengenal Tuhan karena orangtua lupa menginjil dan memuridkan. Ada banyak keluarga dan gereja yang akhirnya lupa untuk menjalankan perannya di tengah generasi ini. Sehingga membuat anak tidak mengenal Tuhan dengan benar.    

Supaya anak tidak mengalami hal-hal di atas, Julianto pun menyarankan kepada setiap orangtua supaya mulai memperhatikan tiga kebutuhan utama anak yaitu terhubung secara fisik dan emosional, diterima dan mendapatkan perhatian dan kepedulian dari orangtua.

“Maka investasi terbesar untuk papa hebat, untuk mama yang hebat adalah investasi waktu dan emosi. Kalau orangtua tidak menginvestasikan tiga hal ini, tidak mungkin terjadi,” ungkapnya.

Selain itu, orangtua juga perlu memberikan pendampingan secara langsung baik dari orangtua maupun dari mentor. Anak yang kerap diajak berdiskusi oleh orangtua, akan jauh lebih terkoneksi dibanding dengan hanya diberikan instruksi dan nasihat.

Dengan mengenal karakteristik anak di zaman ini, orangtua diharapkan bisa lebih mudah untuk berperan menjadi papa dan mama yang hebat.

Sumber : Jawaban.com

Ikuti Kami