Keluarga Amerika Ini Berani Datang ke Indonesia Karena Terpanggil Layani Orang Papua Loh!

Keluarga Amerika Ini Berani Datang ke Indonesia Karena Terpanggil Layani Orang Papua Loh!

Lori Official Writer
238

Bapak Wallace Wiley atau yang akrab dipanggil pak Wiley adalah warga negara Amerika yang sengaja datang ke Indonesia karena panggilan Tuhan. Dia mengikuti organisasi yang memang ditugaskan untuk membantu orang-orang di daerah yang terpencil untuk bisa menyejahterakan masyarakat di sana.

Sebagai anak yang lahir dari keluarga missionaris, Wiley terpanggil untuk bermisi seperti yang dilakukan orangtuanya. Karena itulah dia tak segan-segan mengatakan ‘iya’ kepada panggilan yang diterimanya dari lembaga misi penerbangan bernama Mission Aviation Fellowship (MAF) di Papua.

Saat pertama kali tiba di Papua, Wiley pun ditunjuk untuk melayani orang-orang yang berada di wilayah-wilayah terisolasi di Irian Jaya. Dengan pengetahuan yang sama sekali buta tentang wilayah tersebut, Wiley pun meyakinkan dirinya untuk tetap menjalankan tugas tersebut sesuai dengan apa yang Tuhan mau untuk ia lakukan. "Pada waktu saya tiba di MAF, mereka minta saya ke satu tempat yang namanya Irian Jaya. Saya kaget sekali karena saya pada waktu itu sama sekali tidak tahu dimana Irian Jaya. Tapi pada akhirnya kalau itu panggilan Tuhan, saya ikut," ucap Wiley.

Sejak itulah, mata Wiley terbuka dengan segala permasalahan yang terjadi di sana. Salah satunya adalah betapa terbelakangnya penduduk Papua akan pendidikan.

“Beban untuk pendidikan itu muncul pada waktu saya ke pedalaman Papua. Karena saya frustrasi kami tidak bisa mendapat orang Papua untuk training mereka sebagai pilot atau mekanik,” ungkapnya.

Menurut Wiley, sistem pendidikan di Papualah yang menjadi masalah kenapa orang-orang  di sana tidak mudah dididik dengan cepat, khususnya di bidang penerbangan.

Masalah ini pun mendorong Wiley dan timnya untuk mulai membangun pendidikan bagi masyarakat di sana.

“Kami pikir kami akan mengumpulkan beberapa anak untuk mengajari mereka dalam beberapa hal. Tapi akhirnya kami menyadari bahwa bukan hanya pilot mekanik yang dibutuhkan, tapi semua jurusan dari membangun leader-leader untuk menjadi pimpinan Papua di masa depan,” ungkapnya.


Baca Juga: Tewas Kecelakaan, Begini Perjalanan Iman Joyce Lin Jadi Pilot Missionaris di Papua


Wiley pun memulai pendidikan dengan 8 murid di awalnya. Dari waktu ke waktu, sekolah itupun sudah memiliki puluhan anak.

“Karena mereka punya otak yang belum dikotori dari video, dari televisi, dari apa-apa, mereka ada kehausan untuk belajar yang luar biasa. Dalam satu tahun, mereka yang tidak bisa berbahasa Indonesia mulai baca Alkitab dalam bahasa Indonesia. Luar biasa kecepatan mereka untuk belajar,” ungkapnya.

Wiley memperhatikan kalau sebenarnya potensi anak-anak Papua ini sangat besar. Karena kondisi lingkungan mereka yang belum tercemar oleh teknologi. “Saya pikir mereka tangkap jauh lebih cepat daripada orang biasa,” katanya.

Kecintaannya akan orang Papua, membuat Wiley harus memboyong seluruh keluarga ke sana. Dan selama tinggal di Papua mereka berkomitmen membangun pendidikan anak-anak Papua melalui Yayasan Pendidikan Harapan Papua. Yang mereka kerjakan selama inipun telah menghasilkan buah yang manis. Ada banyak anak Papua yang mulai menumbuhkan impian-impian besar mereka untuk mengikuti jejak Wiley melayani orang-orang pedalaman sebagai pilot dan mekanik.

“Saya pikir semuanya orang Kristen yang betul-betul kenal dengan Tuhan harus ada satu passion, satu keinginan untuk pelayanan. Dan Tuhan tidak bisa membagikan semua passion-Nya untuk seluruh dunia. Tapi Dia akan kasih passion dari bagian Dia kepada tiap orang yang ada,” pungkasnya.


Baca Juga: Billy Mambrasar, Staf Khusus Presiden yang Hapus Stigma Jelek Soal Anak Papua


Apakah kamu terinspirasi dari apa yang dilakukan oleh Wallace Wiley dan keluarganya? Mari saat ini ambil waktu untuk merenungkan apa sebenarnya panggilan yang sudah Tuhan taruhkan dalam dirimu. Mari mempersiapkan warisan kita bagi generasi berikutnya lewat hidup kita.

Sumber : Solusi TV

Ikuti Kami