Mengenal Sejarah Museum Chora, Bekas Gereja yang Bakal Diubah Pemerintah Turki Jadi Masjid

Mengenal Sejarah Museum Chora, Bekas Gereja yang Bakal Diubah Pemerintah Turki Jadi Masjid

Lori Official Writer
343

Sebulan setelah mengubah Hagia Sophia menjadi rumah ibadah umat Muslim, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan kembali berencana untuk mengubah gereja bersejarah Museum Gereja Kariye (atau dikenal juga dengan Chora) menjadi masjid.

Erdogan memerintahkan bekas gereja yang berlokasi di distrik Fatih Istanbul itu menjadi tempat beribadah umat Muslim dan akan berada di bawah kendali Kantor Urusan Agama Turki (Diyanet).

Museum Chora sendiri memiliki sejarah yang mirip dengan Situs Warisan Dunia UNVESCO Hagia Sophia. Bekas gereja ini dibangun pertama kali oleh Konstantinus Agung dari Kekaisaran Bizantium di abad ke-6. Lalu difungsikan sebagai rumah ibadah yang diberi nama Gereja Juru Slamat Suci di Luar Tembok (Chora secara harafiah berarti negara).

Di masa pemerintahan Kekaisaran Utsmaniyah, penguasa Wazir Agung Bayezids 99, Atik Ali Pasa mengubah gereja menjadi masjid pada tahun 1511. Setelah negara itu menjadi Republik Turki pada tahun 1945, kabinet Turki memutuskan untuk menjadikannya museum.

Bentuk bangunan saat ini bukanlah gereja asli. Sebaliknya, sudah mengalami rekonstruksi setidaknya lima kali, yang paling kentara pada abad ke-11, 12 dan 14.

Museum Kariye ini terkenal dengan lukisan-lukisan dan mozaik era Bizantiumnya yang sangat indah. Sampai sekarang semua kekayaan seni itu masih terawat dengan baik.


Baca Juga:

Hagia Sophia, Persinggahan Rumah Ibadah Dua Agama Turki

 

Turki Bikin Bekas Gereja Hagia Sophia Jadi Masjid, Kenapa Negara Kristen Harus Marah?


Alih Fungsi Museum Mengundang Pro Kontra

Pengalihan kembali fungsi Museum Chora menjadi Masjid sebenarnya tidak lepas dari motivasi Presiden Erdogan untuk mendapatkan dukungan dari basis konservatif Turki. Di tengah ketidakpastian ekonomi dan politik saat ini, dia berharap bisa mendapatkan dukungan dari pihak-pihak lain.

Sayangnya, pengalihfungsian ini justru mengundang penolakan dari komunitas Ortodoks Turki dan Yunani. Mereka menilai langkah ini sebagai tindakan terkutuk dan menghina situs warisan dunia PBB.

"Ini adalah provokasi terhadap semua orang percaya. Kami mendesak Turki untuk kembali kea bad ke-21 dan saling menghormati, berdialog dan memahami peradaban," demikian disampaikan oleh Kementerian Yunani dalam sebuah pernyataan.

Sementara sikap pemerintah Turki ini dinilai hanya akan membuat kaum minoritas semakin tersisihkan. Salah satunya adalah dengan semakin banyaknya anak muda dari kalangan minoritas memilih untuk mencari pekerjaan baru di luar negeri.

Meski umat Kristen menentang langkahnya, Presiden Erdogan tampaknya akan terus melakukan rencananya. Sebagaimana Hagia Sophia, Museum Kariye akan diubah dengan menutupi atau memplester dinding yang berisi lukisan berbau kekristenan. Lalu akan memakainya menjadi rumah ibadah Muslim.

Sumber : Jawaban.com

Ikuti Kami