Kasus Covid Korea Selatan Bertambah, Klaster Baru Rupanya Muncul Dari Gereja Sarang Jeil

Kasus Covid Korea Selatan Bertambah, Klaster Baru Rupanya Muncul Dari Gereja Sarang Jeil

Lori Official Writer
577

Sejak maraknya wabah pada 12 Agustus 2020 lalu, lebih dari 1500 kasus baru dilaporkan muncul Secara Nasional di Korea Selatan. Menteri Kesehatan Korea Selatan (Korsel) Park Neung-hoo sendiri sudah memperingatkan jika wabah kemungkinan akan menjadi besar dan menyebabkan kerusakan serious jika tidak ditangani dengan benar.

Seiring berjalannya waktu, Lembaga Kesehatan Korsel pun mengumumkan  penemukan 288 kasus baru di salah satu gereja besar di negara itu. Klaster baru ini muncul di Gereja Sarang Jeil.

Dengan cepat pihak kepolisian setempat telah diminta untuk membantu mengidentifikasi dan melacak individu-individu yang terkait dengan gereja. Pemerintah pun meminta semua jemaat yang menghadiri ibadah antara 27 Juli sampai 13 Agustus untuk menjalani yes Dan karantina mandiri. Upaya ini diharapkan bisa mencegah penyebaran virus yang lebih luas.

Senada dengan ini, Presiden Moon Jae-in mengumumkan larangan kegiatan agama di gereja-gereja di Seoul dan kota-kota lainnya.

Menteri Kesehatan Korsel bahkan meminta ganti rugi kepada Gereja Sarang Jeil dan pendetanya, Jun Kwang-hoon karena dianggap sudah menghalangi pemerintah melakukan penanganan terhadap wabah saat ini.


Baca Juga: Keadaan Makin Membaik, Gereja Korea Selatan Ini Dibuka Kembali Buat Ibadah


Namun, pihak Gereja Sarang Jeil menolak tuduhan tersebut. Karena gereja sama sekali tidak menutup pintu kepada pemerintah dalam melakukan pelacakan. Hanya saja gereja mengakui jika mereka tidak mengetahui semua identitas dari jemaat yang ada. "Gereja tidak memiliki daftar lengkap dari semua orang yang hadir," kata Pengacara Gereja Sarang Jeil, Kang Yeon-jae.

Sarang Jeil akan mengajukan tuntutan pidana kepada Menteri Kesehatan Park karena dianggap telah menyebarkan tuduhan palsu terhadap gereja.

Pada Sabtu (15/8), ratusan jemaat gereja pun turun ke jalan memprotes kebijakan Presiden Moon Jae-in yang dianggap mengekang kebebasan beragama.

Sumber : Jawaban.com

Ikuti Kami