Nama Besar Pdt Abraham Alex Tanuseputra Dibalik Perjalanan Panjang Gereja Bethany Nginden

Nama Besar Pdt Abraham Alex Tanuseputra Dibalik Perjalanan Panjang Gereja Bethany Nginden

Lori Official Writer
4173

Kabar meninggalnya pemimpin besar Gereja Bethany Nginden Pendeta (Pdt) Abraham Alex Tanuseputra bisa dibilang sama sekali tidak terendus media. Satu-satunya kabar yang mengkonformasi kematian sosok fenomenal Gereja Bethany ini adalah Dahlan Iskan lewat sebuah tulisannya yang diterbitkan pada Minggu, 9 Agustus 2020.

Di kalangan umat Kristen Surabaya, nama Pdt Abraham Alex Tanuseputra tentu saja begitu akrab. Karena memang dia adalah sosok utama dibalik berdirinya Gereja Bethany Jalan Manyar tahun 1978.

Bersama dua rekannya, ia pun memperluas pelayanan Gereja Bethany. Pada tahun 1988, ia mengutus Pendeta Niko Njotorahardjo mendirikan GBI Bethany Barat dengan membangun GBI di ibukota Jakarta. Setahun kemudian, ia mengutus Pendeta Timothius Arifin Tedjasukmana untuk mendirikan GBI Bethany Timur, yang saat ini dikenal dengan GBI Rock Lembah Pujian di Bali.

Sementara Pdt Alex memimpin Gereja Bethany Jalan Manyar sebagai gereja pusat. Sejalan dengan itu, pembangunan Graha Bethany di Jalan Nginden pun terus berjalan dan selesai pada tahun 2000.

GBI Bethany pun resmi keluar dari Sinode Gereja Bethel Indonesia (GBI) dan mendirikan sinode baru pada tahun 2002 atas nama Sinode Gereja Bethany. Pembentukan sinode inilah yang membuat nama Pendeta Leonard Limato muncul.

Pada tahun 2003, Pdt Alex pun terpilih sebagai Ketua Sinode Gereja Bethany. Sejak saat itulah, Pdt Alex menjalankan pelayanannya sebagai Gembala Gereja Bethany Jalan Manyar dan Ketua Sinode Gereja Bethany.

Tapi siapa sangka masalah mulai menerpa Gereja Bethany di bawah kepemimpinannya. Konflik demi konflik terus berdatangan. Perselisihan bahkan muncul dari orang-orang terdekatnya, baik dengan mantan sekretarisnya Pendeta Leonard Limato maupun anaknya sendiri Pendeta Aswin Tanuseputra. Keberadaan Gereja Bethany yang bertumbuh pesat dan berdiri megah itu justru jadi sumber persengketaan yang tiada akhir.


Baca Juga: Jadi Sosok Penting Sejarah Gereja Bethany, Ini Kiprah Pelayanan Pendeta Leonard Limato


Meskipun belum ada yang tahu pasti apa yang sebenarnya terjadi dibalik sengketa tersebut, kiprah pelayanan Pdt Alex patut dikenang. Apalagi mengingat perjalannya saat pertama kali mengalami perjumpaan dengan Tuhan.

Mantan pengusaha apotek ini memang berasal dari keluarga Kristen. Namun siapa sangka dia yang pada awalnya hanya datang sekedar beribadah ke gereja justru mendengar nubuatan bahwa dia akan menjadi Pelayan Tuhan pada 1954.

Penggenapan nubuatan inipun terjadi pada tahun 1965. Saat itu dia terancam akan dibunuh setelah menabrak seorang anak yang terluka parah. Ketakutan itu pun membawa Pdt Alex pergi ke sebuah gereja dan berdoa di sana semalaman. Dia bernazar jika anak itu sembuh, maka dia akan menyerahkan dirinya untuk melayani di gereja dan menjual semua hartanya. Alhasil, anak itupun sembuh dan dia menepati nazarnya dengan menjadi pendeta dan mendirikan gereja di Mojokerto.

Setelah berhasil mendirikan 14 gereja, dia memutuskan pindah ke Surabaya bersama seluruh keluarganya pada 1977. Di kota inilah dia membangun gereja baru kembali. Pada tahun 1987, dia berhasil membangun gedung gereja di Jalan Manyar. Kisah inilah yang mengawali perjalanan panjang GBI Bethany yang kita kenal sekarang.

Di usia 79 tahun, Pdt Alex meninggal dunia tanpa ditandai sakit. Bahkan sebulan belakangan dia masih aktif melayani di komunitas gereja yang dibangunnya. Berita duka ini muncul hanya berselang dua minggu setelah rekannya Pendeta Leonard Limanto meninggal dunia.

Seperti ditulis oleh Dahlan Iskan, Pdt Alex meninggal pada Kamis, 6 Agustus 2020 malam. Jenazahnya dimakamkan di pemakaman Kristen Kembang Kuning Surabaya pada Sabtu, 8 Agustus 2020.

Sumber : berbagai sumber | jawaban.com

Ikuti Kami