Turki, Hagia Sofia dan Sejarah Kelam Genosida Kristen Armenia

Turki, Hagia Sofia dan Sejarah Kelam Genosida Kristen Armenia

Puji Astuti Official Writer
2646

Pada 10 Juli 2020 lalu pengadilan Turki membatalkan keputusan tahun 1943 yang mengubah status bangunan Gereja Hagia Sofia menjadi museum, dan pada tanggal yang sama Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan membuat dekrit yang menyatakan bahwa bangunan itu difungsikan kembali menjadi masjid dimulai pada 24 Juli 2020 lalu. Walau demikian, Turki menyatakan bahwa bangunan itu terbuka untuk umum. 

Beberapa negara mayoritas muslim mendukung keputusan Turki tersebut, namun negara-negara eropa dan barat mengecamnya, salah satunya dari pemimpin gereja Katolik, Paus Fransiskus yang menyatakan kesedihannya atas perubahan status bangunan gereja yang berusia 1500 tahun itu. 

Perjalanan Hagia Sofia, Dibangun Sebagai Gereja Hingga Difungsikan Sebagai Masjid

Hagia Sofia atau Aya Sofya yang artinya adalah Kebijaksanaan Suci adalah warisan dari Gereja Ortodoks yang dibangun di era Bizantium, di masa kekristenan bertumbuh subur dan menjadi agama negara saat itu. Dibangun pertama kali oleh Kaisar Konstantius II  yang diresmikan pada 360 SM dan  rumornya pondasi gereja ini adalah sebuah kuil pagan. Saat itu bangunan gereja sangat sederhana, sebuah basilika hanya dengan atap kayu. Namun setelah terbakar pada tahun 404, gereja ini dibangun kembali oleh Kekaisaran Theodosius II, namun terbakar kembali pada kerusuhan Nika di tahun 532. 

Hingga pada Kaisar Yustinuanus I, gereja ini dibangun dengan megah dan luas lebih dari sebelumnya. Gereja ini kemudian diresmikan pada tahun 537, namun baru selesai pada pemerintahan Kaisar Yustinus II. Gereja Hagia Sofia ini kemudian menjadi pusat Patriark Ortodoks Konstantinopel, dimana berbagai acara penting Kekaisaran Romawi Timur dilakukan seperti penobatan kaisar dan lainnya. 

Hingga tiba masa jatuhnya Konstantinopel di bawah kesultanan Ottoman pada tahun 1453, Gereja Hagia Sofia diubah menjadi masjid walau namanya tidak diubah. Di masa pemerintahan Sultan Mehmed II, banyak mozaik dan lukisan bernuansa Kristen di bangunan gereja tersebut ditutupi dan diplester. Mereka juga menambahkan kaligrafi dan hiasan bercorak Islam. Di masa Kesultanan Ottoman ini Hagia Sofia digunakan sebagai masjid selama 482 tahun. 

Hingga pada tahun 1935, presiden pertama Turki dan pendiri Republik Turki, Mustafa Kemal Ataturk yang memiliki visi negaranya menjadi negara sekuler memutuskan untuk menjadikan Hagia Sofia menjadi museum. 

Kecaman dan Hubungannya Dengan Genosida Kristen Armenia 

Keputusan Presiden Erdogan  memfungsikan Hagia Sofia kembali menjadi masjid menuai kritikan pedas, salah satunya dari kelompok Kristen Armenia, kelompok minoritas Kristen yang mengalami pembantaian kejam sekitar tahun 1914-1923. Peristiwa itu sering disebut Armenian Genocide atau Armenian Holocaust, walau hingga saat ini pemerintah Turki tidak pernah mengakui hal tersebut. 

Dalam sebuah artikel yang dirilis oleh laman National Geographic, saat itu diperkirakan kurang lebih 1 juta orang Armenian tewas di bawah pemerintahan Ottoman. Kelompok minoritas Kristen Armenian dituduh oleh sultan melakukan pemberontakan dan memihak kepada Rusia yang merupakan musuh Turki saat itu sehingga berujung pada peristiwa mengerikan itu. Para prajurit Turki dan milisi Kurdi membunuh para pria Armenia dan melakukan pemerkosaan masal kepada para wanita. Dari jumlah populasi sekitar dua juta orang, saat itu Kristen Armenian tersisa hanya 500.000 orang dan mereka harus melarikan diri ke berbagai negara untuk menyelamatkan diri. Para sejarawan mencatat hal tersebut sebagai genosida terburuk dalam sejarah modern. 

“Saya percaya bahwa sepanjang sejarah ras manusia tidak ada episode seburuk ini. Pembantaian besar-besaran dan persekusi di masa lalu seperti tidak berarti ketika dibandingkan dengan penderitaan ras Armenian di tahun 1915,” demikian tulisan duta besar Amerika untuk Konstantinople, Henry Morgenthau, Sr., yang dikutip oleh National Geographic. 

Pada tahun 2016 Paus Fransiskus meminta dunia untuk tidak melupakan pembantaian terhadap 1,5 juta orang Armenia tersebut dan menyebut peristiwa itu adalah genosida, hal serupa pernah ia nyatakan juga pada tahun 2015 yang membuat hubungan Vatikan dengan Turki memanas. 

Pihak Turki sendiri sejak awal membantah bahwa peristiwa itu adalah bentuk genosida, negara tersebut mengklaim bahwa jumlah korban lebih sedikit dari yang dituduhkan dan peristiwa itu adalah perang sipil. 

Genosida Armenia, Isu Sensitif Bagi Turki

Christianpost.com menuliskan bahwa bertahun-tahun Turki telah melobi Amerika untuk tidak mengakui peristiwa pembantaian tersebut sebagai genosida, namun setelah hubungan Turki dan Amerika merenggang, Kongres AS membuat pengakuan tersebut. 

Turki juga memberikan tekanan pada negara-negara tetangganya ketika ada pihak-pihak yang mengkritik negera tersebut berkaitan dengan isu Armenia, salah satu contoh kasusnya adalah seorang pembawa acara televisi di Libanon di seret ke pengadilan dengan tuduhan telah menghina presiden Turki dan masyarakat Turki. 

Menurut International Christian Concern, apa yang terjadi di Libanon ini adalah pola besar, “Turki tidak akan mentoleransi dihubungkan kepada sejarah genosida itu, tetapi sebaliknya akan membuat sebuah kebijakan yang akan melanggar kedaulatan negara itu dan memperburuk kebebasan beragama di wilayah tersebut.” 

International Christian Concern memberikan contoh bagaimana intervensi Turki terhadap perang sipil di Libya, dan bagaimana Turki melakukan serangan militer brutal terhadap orang-orang Kristen di tengah kekacauan Suriah. 

Lalu, apakah langkah Turki memfungsikan Hagia Sofia sebagai masjid ini barulah sebuah langkah awal untuk sebuah isu yang lebih besar? Hal ini menjadi pertanyaan penting, terutama untuk kondisi sosial politik di wilayah Timur Tengah yang masih belum stabil hingga saat ini.

Baca juga :

Turki Bikin Bekas Gereja Hagia Sophia Jadi Masjid, Kenapa Negara Kristen Harus Marah? Sadis! Pendeta Korea Selatan Ini Tewas Dengan Luka Tikaman di Turki

Sumber : Berbagai Sumber | Jawaban.com
Halaman :
Tampilkan per Halaman

Ikuti Kami