Retas Data Hasil Penelitian Vaksin AS dan Email Pendeta, 2 Mata-mata China Ini Dipolisikan

Retas Data Hasil Penelitian Vaksin AS dan Email Pendeta, 2 Mata-mata China Ini Dipolisikan

Lori Official Writer
643

Dua warga negara China, yang diduga sebagai mata-mata pemerintah Tiongkok, dipolisikan karena kedapatan meretas data hasil penelitian vaksin Covid-19, ratusan perusahaan serta email pribadi pendeta Amerika Serikat (AS).

Kedua pelaku yang bernama Li Xiaoyu (34) dan Dong Jiazhi (33) juga dituduh menagetkan serangan cyber terhadap informasi aktivis HAM di AS, China dan Hong Kong. Asisten Jaksa Agung AS John Demers menyampaikan jika kedua pelaku yang bekerja bersama biro intelijen China ini telah menyerahkan data informasi kepada pemerintah Tiongkok.

Keduanya diyakini melakukan aksinya untuk mendapatkan keuntungan pribadi dan juga untuk mendukung kepentingan Kementerian Keamanan Negara China.

"China sekarang sudah mengambil tempatnya, bersama Rusia, Iran dan Korea Utara, di klub negara-negara memalukan yang menyediakan tempat yang aman bagi para penjahat cyber," kata Demers.

Departemen Kehakiman menyampaikan jika nama Li dan Dong, yang sudah bersahabat sejak masuk jurusan Teknik Listrik di Chengdu, sudah melakukan kejahatan cyber selama 10 tahun terakhir. Baru-baru ini mereka meretas jaringan komputer perusahaan pengembang vaksin Covid-19, jaringan biotek, teknologi pengujian dan perawatannya.

“Tiongkok telah mencuri penelitian semacam ini selama bertahun-tahun, tetapi Departemen Kehakiman benar-benar menarik benang merahnya hari ini dan menegaskan jika hal itu harus dihentikan. Ini sudah cukup (parah) dan kami akan meminta pertanggungjawaban kalian,” terang Kerri Kupec, juru bicara Departemen Kehakiman AS.

Bukan hanya itu, keduanya juga meretas informasi orang-orang yang dinilai sebagai pembangkang terhadap pemerintah. Salah satunya adalah menargetkan email pribadi pendeta China dan menyerahkannya kepada Kementerian Keamanan China. Informasi inilah yang kemudian menjadi alasan pemerintah untuk menangkap para pendeta di China.

“Pemerintah CChina menutup sebuah gereja Kristen, dan dalam waktu seminggu, dua orang ini meretas ke dalam email pendeta Kristen China, mengumpulkan email-email itu dan mengirimkannya ke pemerintah China. Pemerintah China kemudian menangkap pendeta itu. Jadi dua orang ini melakukan kerusakan yang cukup (besar),” terang Kupec.


Baca Juga: 

China Larang Gereja Adakan Sekolah Minggu, Umur 18 Tahun Ke Bawah Dilarang Beribadah

 

Lari Dari China, Keluarga Kristen Ini Ungkapkan Orang Kristen Tak Aman Lagi Disana


Dakwaan terhadap keduanya pun muncul sejak presiden Donald Trump melayangkan kritik terhadap China, baik karena kejahatan cyber maupun kegagalan pemerintah China menahan penyebaran virus Covid-19. Pencurian data ini dianggap sebagai penghambat upaya penelitian vaksin yang sedang dikerjakan oleh AS dan negara-negara lain. Tuduhan itu juga muncul beberapa hari setelah AS dan negara-negara sekutu menuduh Rusia berusaha mencuri informasi pengembangan vaksin mereka.

Informasi ini tentunya membuat kita menyadari bahwa persaingan antar negara adikuasa masih terus berlanjut. Bahkan di tengah penelitian vaksin saat ini, semua negara berlomba-lomba untuk menjadi penemu pertama.

Tentunya kita tidak mengharapkan terjadinya permusuhan yang tidak sehat semacam ini. Ketegangan hubungan Amerika dengan China maupun Rusia sudah seharusnya diakhiri dengan baik.

Sumber : Berbagai Sumber | Jawaban.com

Ikuti Kami