Kontroversi  Kalung Eucalyptus, Aromaterapi Yang Disebut-sebut Sebagai Anti Virus

Kontroversi Kalung Eucalyptus, Aromaterapi Yang Disebut-sebut Sebagai Anti Virus

Puji Astuti Official Writer
843
Produk kalung eucalyptus yang dikabarkan bisa ampuh menangkal virus corona atau COVID-19 menimbulkan kontroversi di tengah masyarakat,  banyak  pihak tidak mempercayai dampak dari kalung anti-virus Corona tersebut.
Diteliti dan dipatenkan oleh Kementan
Kepala Badan penelitian dan pengembangan pertanian (Balitbangtan) Kementerian Pertanian,  Fadjry Djufry menyatakan bahwa laboratorium Balitbangtan telah melakukan pengujian terhadap  eucalyptus sp. 
"Setelah kita uji ternyata Eucalyptus sp yang kita uji bisa membunuh 80-100 persen virus, mulai dari avian influenza hingga virus corona model yang digunakan. Setelah hasilnya kita lihat bagus, kita lanjutkan ke penggunaan nanoteknologi agar kualitas hasil produknya lebih bagus," demikian pernyataan Djufry  yang dikutip oleh Kompas.com, Selasa (7/7/2020).
"Ini bukan obat oral, ini bukan vaksin, tapi kita sudah lakukan uji efektivitas, secara laboratorium secara ilmiah kita bisa buktikan," demikian  tambahnya. 
Kalung aroma terapi, masuk dalam kategori jamu
Dalam penjelasan yang diberikan oleh Kementan, produk ini sebenarnya adalah aromaterapi berbentuk kalung yang memiliki kandungan eucalyptus . Bahan aktif utamanya adalah cineol-1,8 yang bermanfaat sebagai anti antimikroba mikroba dan anti virus melalui mekanisme M Pro. 
Menurut studi mereka, dengan menginhalasi atau menghirup Antara 5 sampai 15 menit Dapat secara efektif  bekerja  sampai  ke alveolus.   bahkan Kementan mengklaim dengan konsentrasi 1% saja sudah cukup membunuh virus 80 sampai  80-100 persen.
Kalung eucalyptus ini sudah dipatenkan oleh Kementan dan Rencananya akan diproduksi cara masal. 
Produk ini termasuk dalam kategori jamu, yang menurut Djufry ijinnya tidak membutuhkan uji klinis. 
Belum terbukti secara ilmiah 
Beberapa ahli masih meragukan  kebenaran Tentang kalung eucalyptus yang  disebut-sebut sebagai anti virus itu. 
"Saya tidak setuju jika kalung eucalyptus disebut sebagai kalung antivirus. Cukuplah disebut Kalung kayu putih atau Kalung Eucalyptus," demikian pernyataan akademisi dan praktisi klinis Prof Dr dr H Ari Fahrial Syam SpPD-KGEH MMB FINASIM FACP, yang dikutip oleh Republika.co.id.
Senada dengan pernyataan Prof Ari, Epidemiolog dari Griffith University Australia Dicky Budiman menyatakan kepada Kompas.com, bahwa kalung anti-virus ini belum terbukti secara ilmiah. 
"Belum terbukti secara ilmiah dan dimuat di jurnal ilmiah tentang potensi mencegah virus SARS-CoV-2," demikian pendapat Dicky.
"Saya tidak melihat relevansi yang kuat antara kalung di leher dengan paparan virus ke mata, mulut, dan hidung," tambahnya. 
Baca juga :
Alami Pelonjakan, India Gantikan Rusia Menjadi 3 Negara dengan Kasus Covid-19 Terbanyak
Menjenguk Bayi Baru Lahir Di Masa COVID-19 Memang Rentan. Ini Yang Harus Kamu Perhatikan
Selain belum terbukti secara ilmiah, menurut Dicky, kehadiran kalung eacalyptus tersebut dapat menimbulkan rasa aman palsu dan membuat orang menjadi lalai kepada protokol kesehatan yang telah terbukti penting untuk mencegah penyebaran COVID-19 seperti cuci tangan dan menjaga jarak.
Berdasarkan pemaparan di atas,  pada masa new normal  di mana aktivitas sudah dilakukan di berbagai bidang,  masyarakat harus tetap waspada dan tidak mudah panik. Penting  bagi masyarakat untuk  tetap  menjalankan   protokol kesehatan yang dianjurkan oleh pemerintah,  seperti cuci tangan  menggunakan sabun atau hand sanitizer, memakai masker, menjaga jarak dan menjaga kesehatan dengan mengkonsumsi makanan bernutrisi  serta olahraga yang teratur. 

Sumber : Berbagai Sumber

Ikuti Kami