Pasanganku Meninggalkanku Saat Keuanganku Sedang Terpuruk, Mengapa Ini Terjadi?

Pasanganku Meninggalkanku Saat Keuanganku Sedang Terpuruk, Mengapa Ini Terjadi?

Puji Astuti Official Writer
1363

Dia baru saja di PHK karena perusahaan tempatnya bekerja terdampak pandemi. Belum lagi di rumah serasa seperti di neraka karena pertengkaran tiada henti dengan pasangan,dan akhirnya pasangannya memutuskan menggugat cerai.

Ini seperti pribahasa, sudah jatuh tertimpa tangga; terpuruk, ditinggalkan dan menderita. Kondisi tersebut adalah gambaran dari banyak keluarga di Indonesia saat ini.

Memasuki masa new normal dimana aktifitas di berbagai bidang mulai menggeliat, Indonesia menghadapi sebuah fenomena di mana tingkat perceraian meningkat.

Di bulan Mei-Juni 2020 ini ada banyak perceraian terjadi, mulai dari para artis hingga masyarakat biasa, salah satu faktor utamanya adalah kondisi ekonomi yang semakin sulit.

Media memberitakan pada Juni 2020 saja, terjadi 2000 kasus perceraian di Kabupaten Garut, Jawa Barat. Hal serupa juga dialami di wilayah Padang, dimana gugatan cerai naik hingga 75 persen.

“Banyak istri yang menggugat cerai suaminya, karena faktor ekonomi. Tidak hanya ketidakmampuan suami menafkahi istri, tetapi juga karena istri memiliki pendapatan lebih dari pada suami,” demikian ungkap Wakil Ketua Pengadilan Agama Padang Kelas IA, Drs. Lazuarman MAg.

Jika dari istri gugatan karena faktor ekonomi, para suami yang menggugat cerai lebih karena tidak tahan dengan pertengkaran yang terus menerus terjadi dalam rumah tangga.

Kenyataan ini tentu sangat menyedihkan, sebab rata-rata usia mereka yang mengajukan perceraian adalah para pasangan muda yang berusia antara 25-35 tahun, dengan lama pernikahan antara 2-5 tahun.

Berdasarkan artikel di Focusonthefamily.com, pertengkaran yang terjadi di antara pasangan muda dengan usia antara 18 – 40 tahun adalah tentang masalah uang.  Bahkan karena sering bertengkar karena uang, 82 persen responden survei menyatakan bahwa mereka menyembunyikan barang belanjaannya dari pasangan mereka.

Apakah kamu juga sedang mengalami permasalahan yang sama dalam keluargamu?

Jika jawabannya adalah “ya”, ketahuilah bahwa masih ada harapan untuk memperbaiki hubunganmu dengan pasanganmu dan juga memperbaiki kondisi keuangan keluarga kalian. 

Sebagai orang Kristen, tentu kita menginginkan sebuah pernikahan yang langgeng, sebab sudah berjanji di hadapan Tuhan dan jemaat untuk “bersama dalam susah dan senang, saat kaya maupun miskin, saat sehat maupun sakit, hingga maut memisahkan.”

Berikut adalah 7 kesalahan berkaitan dengan uang yang sering terjadi dalam pernikahan dan bagaimana cara mengatasinya:

1.   Tidak melibatkan Tuhan dalam keuangan keluarga

Ada banyak orang yang berpikir bahwa masalah uang adalah hal duniawi dimana Tuhan tidak tertarik atau tidak perlu dilibatkan dalam urusan keuangannya, baik secara pribadi ataupun keluarga.

Namun itu adalah sebuah kesalahan fatal, masalah uang adalah hal penting di hadapan Tuhan, karena manusia sering terpikat kepada uang hingga bisa melupakan Tuhan.

Itu sebabnya Yesus berkata, “Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” (Matius 6:24)

Jadi langkah awal yang harus dilakukan adalah datang kepada Tuhan sebagai sebuah keluarga, bersama pasanganmu, untuk bertobat dan membawa seluruh masalah keuanganmu di hadapan Tuhan.

Berdoalah bersama untuk kehidupan keuangan keluarga kalian, mintalah bimbingan Tuhan, dan ijinkan Tuhan terlibat dalam setiap proses dan pengambilan keputusan keuangan yang kalian lakukan.

Ingatlah bahwa pernikahan adalah sebuah hubungan antara suami, istri dan Tuhan.

2.   Memiliki keuangan yang terpisah antara suami dan istri

Beberapa pasangan berpikir untuk menghindari pertengkaran karena uang mereka memisahkan rekening keuangan mereka. Gaji suami dan istri akan masuk ke rekening masing-masing, lalu tagihan akan dibagi, dan masing-masing memiliki kebebasan menggunakan uangnya.

Sepertinya tidak salah ya, kan tidak ada yang dirugikan?

Salah! Hal tersebut malah menjadi dasar masalah keuangan keluarga.

Matius 19:5 menyatakan, “Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.”

Pernikahan adalah peleburan semua bagian kehidupan. Suami ataupun istri hilang identitas pribadinya dan menjadi satu kesatuan. Kata “aku” berubah menjadi “kita”, termasuk dalam hal keuangan.

Satu rupiah yang dibawa pulang ke rumah adalah milik seisi rumah itu.

Mulai sekarang, suami dan isteri adalah satu dalam keuangan, memiliki tanggung jawab yang sama dan hak yang sama. Hapus semua kata “milik pribadi”, sebab kini semua adalah milik bersama. 

Sumber : Berbagai Sumber | Jawaban.com

Ikuti Kami