Pertolongan yang Tepat Waktu, School of Life Bantu Masyarakat Nias Hadapi Krisis Ekonomi

Pertolongan yang Tepat Waktu, School of Life Bantu Masyarakat Nias Hadapi Krisis Ekonomi

Lori Official Writer
578

Dalam dua bulan terakhir ini, masyarakat Nias bukan hanya terpuruk dalam krisis ekonomi karena pandemi covid-19. Tapi mereka juga harus mengalami kerugian yang sangat besar sejak wabah virus flu babi muncul.

Selain harus kehilangan penghasilan karena harus berdiam diri di rumah selama sosial distancing, masyarakat Nias juga harus kehilangan pendapatan terbesar mereka dari beternak babi. Di Nias, babi adalah sumber pendapatan utama bagi masyarakat. Sehingga saat virus flu babi menyebar di wilayah tersebut, para peternak babi mulai panik dan stress. Mereka stress bukan karena satu ekor babinya yang mati mendadak, tapi bahkan bisa mencapai puluhan ekor dalam waktu yang sangat singkat. Terlebih babi-babi yang mati ini sama sekali tak lagi bisa dikonsumsi.

Wabah virus flu babi ini juga menyebabkan peternak babi kesulitan menjual babinya. Tanpa penjualan babi, maka pendapatan utama mereka pun sama sekali tak ada. Sementara masyarakat harus memenuhi kebutuhan sehari-hari termasuk membayar biaya sekolah anak-anak mereka.

"Nias ini dalam bulan ini mengalami perekonomian yang sangat terpuruk sekali. Oleh karena apa, selain Covid yang mmebuat perekonomian kita lumpuh tapi juga ada yang namanya flu babi. Flu babi ini yang membuat masyarakat di sini begitu sulit sekali. Kenapa? Babi itu merupakan satu kebutuhan utama bagi Nias ini. Selain memang untuk keperluan adat tetapi babi ini juga kalau mereka mengalami kesulitan (ekonomi) babinya dijual," ungkap Febly penanggung jawab sekolah OBI di Nias.


Baca Juga: Menyatakan Aksi dengan Kasih


Febly menjelaskan bahwa tak sedikit dari masyarakat Nias yang akhirnya stress dan bahkan memilih untuk bunuh diri akibat himpitan ekonomi. Di tengah masa-masa krisis inilah School of Life (SOL) berkesempatan membantu masyarakat dengan membagikan paket sembako dan melayani masyarakat yang sedang kesulitan lewat doa.

“Yang dibutuhkan utama yaitu masalah rohani mereka. Bagaimana bisa melewati masa-masa sulit seperti ini. Karena ada yang sakit dan stress ketika babinya ada 17 ekor tiba-tiba mati. Harapan dia berarti hancur. 17 ekor itu berarti duit itu, bisa puluhan juta. Mereka sudah capek memelihara akhirnya mati begitu saja. Ada yang stress, jantungan, lalu mati. Ada yang gantung diri kalau yang saya dengar,” jelas Febly.

Melalui SOL, masyarakat Nias pun dibekali akan kebutuhan rohani mereka. Sehingga mereka bisa melewati masa-masa krisis ini dengan tetap berpengharapan kepada Tuhan.

“Lewat doa mereka yang mau bunuh diri karena begitu peliknya masalah itu. Tapi lewat doa akhirnya mereka tidak jadi (bunuh diri). Artinya apa? Kesempatan kedua ini yang kami berikan, membagi sembako, tidak sekedar membagi tetapi mendoakan mereka. Karena masalah utama mereka adalah masalah rohani. Sehingga kalau rohaninya kuat, mereka pasti bisa melewati masa-masa sulit seperti ini,” jelasnya.

Pembagian sembako tahap dua ini pun tidak hanya berhenti di situ saja. SOL juga berencana akan membagikan sembako untuk tahap ketiganya sebanyak 150 paket yang digarap melalui aksi #LOVEINACTION CBN Indonesia.

Kita berharap supaya masyarakat di Nias bisa melewati masa-masa sulit ini dengan tetap mengandalkan Tuhan. Jawaban com juga mengajak setiap kita untuk berdoa bagi Nias supaya masalah pandemi dan juga flu babi yang terjadi di sana bisa segera berakhir.

Sumber : Jawaban.com

Ikuti Kami