Meredam Kemarahan, Jangan Sampai Amarah Menguasaimu

Meredam Kemarahan, Jangan Sampai Amarah Menguasaimu

Harry Lee, M.D., Psy. D. Contributor
1239

(Kejadian 4:6-7 TB) Firman TUHAN kepada Kain: “Mengapa hatimu panas dan mukamu muram? Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya.”

Apakah marah itu dosa? Kita mungkin menanyakan pertanyaan ini kepada diri kita sendiri karena banyak orang di luar sana juga bertanya hal yang sama pada diri mereka sendiri. Jika kita ingin menemukan  jawaban yang tepat, kita perlu mencarinya di manual yang disebut Alkitab.

Alkitab dalam Efesus 4:26-27 (TB) mengatakan, “Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmudan janganlah beri kesempatan kepada Iblis.”, dengan kata lain  marah bukanlah dosa selama engkau tidak membiarkan kemarahanmu mengendalikanmu atau selama engkau tidak membawanya dalam jangka waktu yang lama dan menjadi pahit.

Dalam ayat-ayat yang dikutip di atas, kita tahu bahwa Kain membiarkan kemarahannya untuk jangka waktu yang lama dan ia menjadi pahit.

Kecuali kita tahu apa yang menyebabkan kemarahan Kain, apa yang menyebabkan kemarahan kita, apa yang menyebabkan kemarahan orang lain, kita tidak akan bisa menjernihkannya - mengenali akar permasalahannya adalah kunci untuk pemecahan masalah.

Ketakutan kehilangan hubungan misalnya bisa menjadi pemicu kemarahan; ketika Tuhan menerima persembahan Habel, Kain merasa bahwa Habel telah menjadi ancaman bagi hubungan antara dia (Kain) dan Allah. Kain mengkhawatirkan yang lebih buruk bahwa dia akan kehilangan hubungannya dengan Tuhan dan dia menjadi sangat cemburu sampai-sampai dia membiarkan kemarahannya mengendalikannya.

Kemarahan tidak memiliki kekuatan atas kita selama itu berada di bawah kendali kita, kemarahan akan menjadi tak terkendali saat kita memberi kekuatan padanya untuk mengendalikan kita.

Baca juga : 

Benarkan Ada Kemarahan Kudus Yang Tak Berujung Pada Dosa?

20 Nasihat yang Dituturkan Alkitab Tentang Amarah

Kejadian 4:6-8 (TB), Firman TUHAN kepada Kain: “Mengapa hatimu panas dan mukamu  muram? Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya.” Kata Kain kepada Habel, adiknya: “Marilah kita pergi ke padang.” Ketika mereka ada di padang, tiba-tiba Kain memukul Habel, adiknya itu, lalu membunuh dia.

Tuhan mengirim pesan kepada Kain bahwa Habel bukanlah ancaman bagi hubungan antara dia (Kain) dan Tuhan. Faktanya Tuhan juga tidak ingin kehilangan hubunganNya dengan Kain, oleh karena itu Dia mengatakan kepada Kain untuk melakukan apa yang benar, agar dia juga boleh diterima – perubahan pola berpikir dengan meninggalkan rancangan yang jahat, meninggalkan kebiasaan yang membawa kepada kegagalan dan belajar dari orang yang sudah berhasil – apakah ego Kain sebegitu tingginya sehingga dia tidak belajar dari Habel adiknya bahkan membiarkan dirinya dipenuhi oleh kecemburuan akan keberhasilan Habel.

Kain tidak hanya menutup telinganya untuk mendengarkan, ia juga menutup pikirannya untuk menerima solusi apa pun dan terbakar oleh kecemburuan ia memberikan kuasa pada amarahnya untuk  mengendalikan tindakannya. Ketika ini terjadi, Kain tidak menggunakan logikanya untuk berpikir bahwa dengan melenyapkan Habel saudaranya, persembahannya tidak akan secara otomatis diterima, bahkan ia membahayakan hubungannya dengan Allah (Yesaya 59: 2).

Habel bukanlah masalah yang dapat membahayakan hubungannya dengan Allah, kecemburuannya (Kain) yang dapat membahayakan hubungannya dengan Tuhan, dan kecemburuan dapat memunculkan kekerasan yang dapat merusak dan menghancurkan hubungan baik yang telah dibangun selama bertahun-tahun. Tuhan pasti tidak menolak Kain, Dia menolak persembahan Kain dan bukan Kain, Kain tidak mengikuti instruksi seperti saudaranya Habel - Kain tidak melakukan apa yang benar, dia tidak melakukan apa yang seharusnya dia lakukan!

Bahkan setelah dia membunuh Habel saudaranya, meskipun Tuhan tidak pernah menyetujui perbuatannya karena Tuhan telah terlebih dahulu memperingatinya seperti yang tertulis dalam Kejadian 4:6-8, Dia tetap mencintai Kain sebagai orang yang IA ciptakan dalam gambar dan rupa-Nya (Kejadian 4:15).

Yunus 4: 9-11 Tetapi berfirmanlah Allah kepada Yunus: "Layakkah engkau marah karena pohon jarak itu?" Jawabnya: "Selayaknyalah aku marah sampai mati." Lalu Allah berfirman: "Engkau sayang kepada pohon jarak itu, yang untuknya sedikitpun engkau tidak berjerih payah dan yang tidak engkau tumbuhkan, yang tumbuh dalam satu malam dan binasa dalam satu malam pula. Bagaimana tidak Aku akan sayang kepada Niniwe, kota yang besar itu, yang berpenduduk lebih dari seratus dua puluh ribu orang, yang semuanya tak tahu membedakan tangan kanan dari tangan kiri, dengan ternaknya yang banyak?"

Dalam ayat ini kita melihat Yunus juga marah (dia marah tentang tanaman yang layu), Tuhan yang sama mengirimkan juga pesan kepada Yunus seperti yang dapat kita baca dalam Yunus 4: 10-11 untuk mempertimbangkan keberadaan orang Niniwe yang tidak tahu bagaimana melepaskan diri dari murka Allah yang akan datang kecuali mereka bertobat. Alkitab memberi tahu kepada kita bahwa Yunus terlibat langsung dalam proses pertobatan orang Niniwe karena Allah menggunakan dia sebagai alat untuk memberitakan kabar baik agar mereka (orang Niniwe) sadar dan bertobat tetapi Yunus merasa bahwa  keakuhannya (ego) terluka karena Tuhan dalam kemurahan-Nya mengampuni mereka dan menyelamatkan hidup mereka.

Ketika Tuhan meminta Yunus untuk mempertimbangkan kembali apakah ia layak menjadi marah ketika Tuhan menunjukkan belas kasihan-Nya kepada orang-orang Ninewe, Alkitab tidak memberi kita penjelasan lebih lanjut, tetapi adalah keyakinan pribadi Penulis bahwa Yunus meredakan amarahnya dan tidak melukai dirinya sendiri lagi atau orang lain demi didengarnya keterangan yang diberikan Tuhan.

Untuk meredakan amarah kita, kita perlu menyadari bahwa kita memiliki amarah kita (sebagai pemilik amarah kita mempunyai kuasa untuk melakukan sesuatu dengan amarah itu) dan jangan sampai amarah memiliki kita karena jika ini terjadi kita dapat melakukan tindakan yang akan membawa kita kepada penyesalan yang tak terhingga (Jika amarah yang memiliki kita maka kita tidak mempunyai kuasa untuk melakukan sesuatu perubahan terhadap amarah itu), dan mengenali dari mana asalnya dan membuat perubahan yang sesuai dengan tidak membiarkan kemarahan itu mengendalikan kita atau membiarkan amarah itu berlangsung untuk jangka waktu yang lama yang dapat menimbulkan kepahitan. Dan jangan biarkan keadaan eksternal apa pun memicu kemarahan kita tetapi tahu bagaimana meresponsnya dengan melakukan apa yang benar. Amin.

Semoga bermanfaat dan boleh menjadi berkat!

Rev. Dr. Harry Lee, MD.,PsyD

Gembala Restoration Christian Church di Los Angeles - California

restoration117.org

Sumber : Rev. Dr. Harry Lee, MD.,PsyD

Ikuti Kami