#FaktaAlkitab - Penyakit Berbahaya di Alkitab

#FaktaAlkitab - Penyakit Berbahaya di Alkitab

Puji Astuti Official Writer
1050

Wabah virus corona kian membayangi kehidupan manusia. Menurut Worldmeters Info Corana Virus, sejak kemunculan Covid-19, tercatat korban meninggal sudah mencapai 39.038 jiwa dari 803.466 kasus di 201 negara (Data 31 Maret 2020, Pukul 20:46 WIB).


Covid-19 terus menyebar dan belum menunjukan tanda-tanda untuk berhenti. Para ahli dan ilmuan di bidangnya masih terus berlomba-lomba menciptakan vaksin penangkal Covid-19. 


Sebelum adanya Covid-19, banyak juga pendemi yang telah melanda dunia. Namun, menarik untuk kita mengetahui bahwa di dalam Alkitab sendiri juga terdapat satu penyakit yang seringkali disebutkan di sepanjang Alkitab dan sangat mengerikan. Penyakit apakah itu?

 

Penyakit Kusta Sebagai Hukuman Tuhan

E.W.C. Masterman dalam bukunya Dictionary of Christ and the Gospels, hal. 205). Mengatakan, “Tidak ada penyakit lain yang bisa mematikan manusia melalui penderitaan yang bertahun-tahun dan mengerikan seperti penyakit kusta."


Di dalam Alkitab penyakit kusta bukan dilihat semata-mata sebagai sebuah persoalan medis melainkan sebuah persoalan teologis, di mana kusta dikaitkan sebagai hukuman terhadap dosa tertentu (Bilangan 12: 9 – 10 dan 2 Tawarikh 26: 19)


Di kalangan orang Ibrani, penyakit ini dianggap najis dan berbahaya, karena dapat menular. Oleh karenanya seorang penderita kusta harus diasingkan dari masyarakat (Keluaran 13 & 14 dan Lukas 18: 12 -19). Penyakit kusta dapat menjangkiti bagian manapun dari tubuh manusia. 


Mengapa ada anggapan demikian? Karena dalam Perjanjian Lama dalam beberapa kasus, kusta terjadi sebagai akibat langsung dari hukuman Tuhan kepada orang-orang tertentu.


  • Miryam. Miryam dihukum Tuhan dengan penyakit kusta karena mengata-ngatai dan iri hati terhadap Musa (Bilangan 12:1-2,9-10).
  • Gehazi. Gehazi (bujangnya Elisa) dihukum dengan kusta karena meminta pemberian dari Naaman yang sebelumnya sudah ditolak Elisa (2 Raj 5:21-27).
  • Raja Uzia. Ketika Raja Uzia merasa kuat, sombong, tinggi hati dan tidak setia kepada Tuhan maka Tuhan menghukumnya dengan penyakit kusta (2 Taw 26:16-21)  

Karena itulah maka orang Yahudi lalu beranggapan bahwa penyakit kusta adalah penyakit dari Tuhan. Bahkan para tabib terkenal pada saat itu pun tidak pernah berupaya untuk menemukan obat bagi sakit kusta karena mereka percaya bagaimana pun sakit ini tidak bisa disembuhkan karena ini adalah penyakit yang diberikan langsung oleh Allah. 

 

Penderita kusta dalam Alkitab mengalami penderitaan fisik dan psikis. 


Secara fisik, muncul bintil-bintil kecil pada bagian-bagian tubuh tertentu. Bintil-bintil kecil ini makin lama makin banyak dan besar dan berisi nanah. Lalu bintil-bintil yang berisi nanah ini pecah sehingga area kulit yang diserang semakin membesar.


Lama kelamaan seluruh tubuh penderita kusta akan dipenuhi dengan bintil-bintil semacam ini dan nanah yang sukar mengering. Bahkan ada kalanya bintil-bintil dengan nanah yang memenuhi seluruh tubuh penderita itu menjadi pecah sehingga nampak sangat mengerikan dan menakutkan.


Di bagian tangan dan kaki, kusta ini bisa menyerang dengan hebat sampai membuat luka-luka yang menganga dan dalam. Bagian wajah pun tidak ketinggalan. Penyakit ini sampai merontokkan seluruh alis mata dan bulu mata korban di samping luka-luka yang memenuhi wajah penderita. Sampai taraf tertentu dia menyerang bola mata sehingga mata bisa membelalak bahkan bisa sampai tertutup seluruhnya.


Dalam keadaan wajah yang mengerikan semacam ini seringkali penderita kusta sangat menakutkan sehingga ada yang lalu membungkus seluruh tubuh dan wajahnya dengan kain / perban. 


Penyakit kusta ini juga menyerang sistem saraf ditandai dengan hilangnya daya rasa pada bagian-bagian tubuh tertentu disusul dengan otot-otot yang melemah, namun ada juga, urat otot yang mengencang   sehingga   jari-jari   tangan   mencengkeram terus  menerus.


Dalam tahap selanjutnya jari-jari tangan dan kaki menjadi putus / tanggal bahkan bisa sampai putus seluruh kaki dan tangan penderita. Seiring dengan kehancuran tubuh, tali suara di kerongkongan pun menjadi bengkak, suara si penderita menjadi parau, serta nafas terengah-engah. Penyakit kusta yang demikian itu bisa berlangsung selama 9 tahun, dan akan mengakibatkan kemunduran mental, bahkan pingsan tak sadarkan diri (atau koma), dan akhirnya penderita bisa meninggal dunia.

 

Secara Psikis, Penderita kusta mengalami penderitaan fisik yang luar biasa. Tapi sesungguhnya penderitaan fisik yang dialami penderita kusta pada masa itu tidak sebanding dengan penderitaan psikisnya. Penyakit kusta saat itu dianggap sebagai sebuah kenajisan sehingga penderita juga dianggap najis.


Kepada penderita kusta dikenakan pakaian yang tercabik-cabik dan rambutnya harus dibiarkan terurai, ia harus menutupi mukanya dan harus berteriak : Najis! Najis! Ia harus diasingkan dari masyarakat (Imamat 13:44-46). Teriakan najis! Najis! ini sebenarnya adalah peringatan bagi orang lain supaya tidak mendekati dirinya / menjauh darinya jika tidak maka orang itu akan menjadi najis pula 

 

Pada zaman Yesus di Yerusalem semua penderita penyakit kusta dilarang memasuki kota Yerusalem dan kota-kota lain yang bertembok keliling. Di dalam sinagog ada ruangan khusus yang terpencil yang dikhususkan bagi mereka. Ruangan itu biasanya dalam ukuran sempit sekali, dan disebut Mekhitsah. 


Di dalam hukum agama Yahudi ada 61 macam sentuhan yang bisa menajiskan. Yang pertama adalah menyentuh mayat, dan yang kedua menyentuh penderita kusta. Jadi penderita penyakit kusta memang dianggap hampir sama dengan orang yang sudah mati. 


Jika ada penderita kusta yang menyandarkan kepalanya ke sebuah rumah, maka seluruh rumah itu pun menjadi najis. Menyapa atau memberi salam kepada penderita kusta di  tempat umum pun dianggap melanggar hukum. Tak boleh ada orang yang mendekati penderita penyakit kusta kurang dari setengah meter. Kalau ada angin yang bertiup dari arah penderita kusta, maka semua orang harus menyingkir paling sedikit sejauh 50 meter. 


Para rabi Yahudi  tidak akan  mau  membeli makanan apa pun yang dijual di jalan yang dilewati penderita penyakit kusta. Bahkan ada seorang rabi yang bangga karena ia selalu mengusir penderita kusta dengan jalan melemparinya dengan batu. Sedang rabi yang lain lebih suka bersembunyi atau menyingkir jauh-jauh kalau melihat ada orang yang sakit kusta. 

 

Jadi penyakit kusta adalah penyakit yang benar-benar telah memisahkan manusia dari sesamanya. Penderita penyakit kusta benar-benar tersingkir dari sesamanya. Inilah penderitaan psikis / batin dari penderita kusta. 

 

Namun, dibalik semua kengerian dan kenajisan seseorang yang menderita Kusta. Tertulis di dalam Alkitab, ada satu pribadi yang dengan penuh belas kasihan mengulurkan tanganNya dan menyembuhkan orang dengan penyakit Kusta. Pribadi tersebut adalah Yesus  (Matius 4:1-4 dan Markus 1:40-45). Maka dari itu percayalah tidak ada penyakit yang terlalu berat untuk Tuhan Yesus tidak bisa sembuhkan.

 

Demikianlah gambaran tentang penderitaan orang yang sakit kusta. 

Penyakit kusta nama lainnya adalah “lepra” atau “hansen” sesuai dengan nama penemu virusnya sekaligus obatnya yakni seorang ilmuwan Norwegia bernama Gerhard Henrik Armauer Hansen pada tahun 1837. Pada zaman sekarang kusta yang kini dikenal sebagai  lepra ini sudah ditemukan obatnya dan penderita kusta bisa disembuhkan secara medis.

 

Itulah Fakta Alkitab kali ini, kalau kamu mau menonton video-video inspiratif dan membangun lainnya, yuk kunjungi dan Subscribe JC Channel di link YouTube ini. God bless you!

Sumber : JC CHANNEL

Ikuti Kami