Anak Meninggal Karena Covid-19, Rev. Andre Roland Sempat Kecewa Sama Tuhan

Anak Meninggal Karena Covid-19, Rev. Andre Roland Sempat Kecewa Sama Tuhan

Lori Official Writer
4337

Orangtua mana yang rela kehilangan anak yang mereka kasihi dalam waktu yang begitu singkat? Bahkan seorang pendeta sekalipun mengalami dukacita yang begitu mendalam setelah mendapatkan kabar bahwa putranya meninggal dunia setelah terjangkit virus mematikan Covid-19.

Dukacita yang begitu mendalam dialami oleh Rev. Dr. Andre Roland, salah satu pemimpin gereja di Jakarta yang harus kehilangan anak keempatnya Michael Angel setelah sepekan dirawat di rumah sakit.

Dalam sesi live streaming Solusi TV, Rev. Andre pun menceritakan masa-masa kehilangan berat yang dia rasakan di akhir Maret lalu.

Dia memulai dengan menceritakan kronologi kematian putranya yang ternyata terjangkit virus corona di bulan Maret. Setelah memeriksakan diri ke rumah sakit, keadaannya tidak tetap sama dan malah bertambah buruk.

Kondisi ini pun memaksanya untuk dirujuk ke salah satu rumah sakit khusus pasien penderita Covid-19 pada 22 Maret 2020. Keadaan pernapasan yang semakin memburuk memaksa Michael harus dipasang alat ventilator.

Sementara di sisi lain, seluruh keluarga terus berdoa untuk kesembuhan Michael, terlebih pria berusia 33 tahun ini sebenarnya sedang merencanakan pernikahan di bulan Juni 2020 mendatang. Sehingga seluruh keluarga calon istri pun turut serta berdoa untuk kesembuhannya.

Meskipun dengan iman mereka percaya kalau Michael akan sembuh. Tapi Tuhan justru berkehendak lain. Michael pun dipanggil pulang pada Sabtu, 28 Maret 2020 pagi kira-kira pukul 7 pagi.

Sebagai gembala di salah satu gereja, Rev, Andre merasa sangat terpukul. Dia mulai mempertanyakan maksud Tuhan. Dia seakan tak percaya kenapa Tuhan harus mengambil putranya dari tengah-tengah keluarganya.

Sepanjang Sabtu malam, dia hanya bisa menangis kepergian putranya tersebut. Tak ada kata yang mampu mengungkapkan betapa hancurnya hidupnya saat itu. Sampai pada akhirnya duka itu pun membuat hatinya kecewa kepada Tuhan dan memutuskan untuk berhenti melayani-Nya.

"Hari minggu seharusnya saya harus mempersiapkan khotbah saya untuk jemaat saya secara online. Tapi hari minggu itu saya betul-betul depress. Saya katakan saya gak akan mau lagi melayani. Saya akan berhenti saja. Saya bangun, saya duduk di tempat tidur kemudian saya berkata, “Berdoa gak ya? Berdoa apa gak ya? Seperti ada keengganan untuk berdoa. Tetapi saya putuskan untuk tetap berdoa. Ketika saya berdoa, ‘Tuhan saya gak tahu aku harus ngomong apa sama Kamu. Tapi yang aku ingin katakan kepadaMu aku sangat rindu anakku Michael.’ Itu yang keluar dari mulut saya," terang Rev Andre.

Seketika itulah dia mendengar Tuhan berbicara secara pribadi. Tuhan kembali menanyakan alasan kenapa anak keempatnya itu dinamakan Michael.

“Dia katakan, “Andre kamu ingat waktu kamu meminta nama anakmu bahwa waktu dia belum berada di dalam kandungan istrimu. Kamu mengingat?” Saya katakan, “Saya ingat.” Nama yang kamu kasih adalah Michael Angel. Kemudian Dia katakan kamu pernah lihat wajah Michael sejak kecil sampai dia dewasa. Wajah yang penuh duka, wajah yang suka marah atau wajah yang suka mengomel atau mengeluh. Saya berpikir sejenak. Saya katakana, ‘Iya Tuhan saya gak pernah lihat dia seperti itu.’” terangnya.


Baca Juga: 

Suami Meninggal Saat Jalani Isolasi Covid-19, Helena Selvie Berperang Sembuh Karena Tuhan

Berjuang Sembuh Dari Virus Covid-19, Kapten Ricoseta Masih Tetap Doakan Pasien Lain


Bagi Rev Andre, momen itu mengingatkan dia bahwa Tuhan punya maksud dan tujuan-Nya sendiri atas hidup Michael.

“Tuhan berkata lagi sama saya, “Kamu tahu kenapa saya kasih nama anakmu Michael Angel. Saya bilang aku gak tahu. Kemudian Tuhan bilang, “Kamu sadar 33 tahun dia bersamamu, Aku menitipkan dia bersamamu. He is my angel.” Dan saya merasakan memang Michael seperti malaikat dalam keluarga kami. Dengan etitut yang baik, penuh kasih, yang selalu banyak melakukan pembelaan kepada teman-temannya bahkan orang-orang di sekitar dia. Ketika Tuhan katakan, “Kamu sadar bahwa aku menitipkan padamu dia 33 tahun sebagaimana aku juga 33 tahun berada di bumi.” Saya menangis di dalam doa saya. Hancur (hati) saya saat itu,” ungkapnya.

Dalam keadaan yang begitu hancur, saat itulah Tuhan seakan mengangkat semua duka yang dia rasakan atas kehilangan putra terkasihnya itu. Saat itulah hati Andre yang awalnya dipenuhi dengan rasa kecewa kepada Tuhan berubah menjadi ucapan syukur yang begitu besar.

“Di situ Tuhan tiba-tiba mengangkat seluruh duka saya, mengangkat seluruh beban saya. Sakit yang begitu luar biasa tiba-tiba itu hilang begitu saja. Dan saat itu juga saya bilang, ‘Thanks God. Terima kasih Tuhan. Kau begitu baik.’ Yang tadinya mulut saya penuh dengan pertanyaan, penuh dengan keluhan kepada Tuhan, tiba-tiba Tuhan angkat semua itu dan Tuhan mengubah itu menjadi satu ucapan syukur,” terangnya.

Andre mengaku kekecewaannya kepada Tuhan berubah dalam kurun waktu yang sangat singkat. Dia percaya bahwa itu terjadi karena kasih dan kebaikan Tuhan atas dirinya.

“Saya tidak lagi merasakan kehilangan Michael. Saya selalu merasakan Michael ada bersama saya. Sebab Tuhan katakan begitu, “Do you remember. Kamu ingat Andre, waktu Michael di Jakarta kamu di Medan. Walaupun saya dan Michael sering bertemu saat di Jakarta. Kamu berada di tempat yang berbeda. Dan sekarang Michael sudah selesai tugasnya. Michael harus pulang aku bawa dia pulang ke tempat yang lebih baik.” Ketika saya mendengar itu saya menangis. Tapi tangisan itu tangisan yang penuh sukacita,” katanya.

Di saat yang sama, Andre pun meminta ampun kepada Tuhan karena dirinya tidak menyadari bahwa Tuhan sedang menitipkan pribadi yang begitu dikasihinya dalam hidup Andre.

Pagi itu, Andre seketika mengalami sukacita yang meluap-luap. Kepercayaannya kepada Tuhan kembali dibangkitkan dan dikuatkan. Tuhan bahkan meminta supaya dirinya tidak pernah lengah dan semakin giat memberitakan injil kepada lebih banyak orang. Tuhan bahkan berjanji akan selalu menyertai Dia bersama malaikat-malaikat surgawi-Nya.

Dukacita mendalam yang dia alami di malam sebelumnya pun akhirnya digantikan oleh Tuhan dengan sukacita yang tak terkira di pagi harinya. Benarlah bahwa Tuhan sendiri menyatakan bahwa Dia sendiri telah mengubahkan ratapan umat-Nya menjadi sukacita. Kehilangan bukan lagi menjadi sebuah duka yang memilukan, tapi sukacita ketika kita tahu bahwa orang yang kita kasihi telah menyelesaikan tugasnya di dunia dan kembali ke tempat yang lebih baik bersama Bapa.

“Berbahagialah orang-orang mati yang mati dalam Tuhan, sejak sekarang ini." "Sungguh," kata Roh, "supaya mereka boleh beristirahat dari jerih lelah mereka, karena segala perbuatan mereka menyertai mereka.” (Wahyu 14: 13)


Anda butuh didoakan langsung? Klik link dibawah ini untuk terhubung dengan Tim doa kami: http //bit.ly/InginDidoakan. Anda butuh konseling? Klik link dibawah ini untuk konseling: http //bit.ly/inginKonseling.

Sumber : Solusi TV | Jawaban.com

Ikuti Kami