Apakah Saat Meninggal Orang Kristen Wajib Jalani Upacara Kematian?

Apakah Saat Meninggal Orang Kristen Wajib Jalani Upacara Kematian?

Lori Official Writer
2034

Alkitab gak menulis secara spesifik tentang bagaimana tubuh seseorang harus dikuburkan setelah meninggal. Beberapa tokoh Alkitab yang disebutkan menjalani penguburan adalah Sara (Kejadian 23: 1-20), Rachel (Kejadian 35: 19-20) dan Ribka (Kejadian 35: 8). Di masa itu, jasad seseorang yang meninggal biasanya akan dikuburkan di dalam gua. Orang Ibrani biasanya tidak mengkremasi tubuh orang mati, kecuali dalam keadaan darurat seperti kasus Raja Saul dan putra-putranya (1 Samuel 31: 11-13).

Walaupun di masa Alkitab, orang Kristen menerapkan tradisi penguburan dan kremasi. Namun hal itu sama sekali tidak berkaitan dengan rohnya yang sudah kembali kepada sang pencipta. Saat seseorang mati, secara otomatis rohnya berpindah dari tubuh. Sementara tubuh menjadi simbol kebangkitan, transformasi dan penyatuan kembali dengan roh ketika nantinya Yesus datang untuk kedua kalinya.

Upacara Kematian Orang Kristen

Bicara soal upacara kematian di masa modern saat ini, orang Kristen biasanya akan melakukan upacara kematian seperti memandikan jenazah lebih dulu, memakaikan pakaian terbaik dan memasukkan jenazah ke dalam peti. Lalu kemudian akan dilanjutkan dengan menggelar ibadah penghiburan, ibadah penutupan peti dan penguburan. Setelah seseorang meninggal, keluarga yang meninggal biasanya akan melakukan ibadah penghiburan sebelum peti ditutup.

Tapi jangan salah kaprah karena ibadah penghiburan dalam Kristen ditujukan untuk memberikan kekuatan kepada keluarga yang ditinggalkan dan menjadi mengenang seseorang yang meninggal selama masa hidupnya. Hal inilah yang merefleksikan tentang kematian sama seperti yang dialami oleh Yesus sendiri. Sehingga bisa kita simpulkan bahwa prosesi atau upacara kematian tidak lagi ada hubungannya dengan roh dan tubuh yang meninggal. Bahkan sekalipun keluarga dan orang-orang mendoakan jenazah yang meninggal, doa itu sama sekali tidak lagi berdampak terhadap kedaulatan Tuhan atas rohnya.

Ibadah penghiburan sendiri dilakukan sebagai bentuk dukungan kepada seluruh keluarga yang ditinggalkan. Biasanya orang-orang terdekat maupun saudara seiman akan mendatangi rumah duka untuk bersama-sama berdoa dan menaikkan pujian kepada Tuhan dan bahkan mendengarkan pesan khotbah dari pendeta. Hal ini gak lebih dari memberikan dukungan penuh kepada seluruh keluarga selama masa-masa duka. Inilah momen bagi semua orang mengenang kembali masa hidup orang yang meninggal.


Baca Juga: Agar Kehilangan Tak Lagi Menyiksa, Lakukanlah 3 Hal Ini Kepada Teman Yang Berduka Cita


Bagaimana jika seseorang mati dalam sebuah perjalanan?

Baru-baru ini kita mendengar kabar jasad salah satu anak buah kapal (ABK) Indonesia yang meninggal terpaksa dibuang ke laut. Akibatnya, pihak keluarga menyesalkan tindakan tersebut karena mereka tidak bisa menguburkan  dengan cara yang pada umumnya dilakukan.

Sementara di tengah masa pandemi virus corona ini, ada pasien yang meninggal dunia tidak menjalani upacara kematian seperti umumnya dilakukan oleh orang-orang Kristen. Duka bagi keluarga yang ditinggalkan tentunya makin berat karena mereka bahkan tak bisa melakukan upacara perpisahan terakhir dengan layak.

Dua kasus di atas pastinya menyisakan duka yang sangat mendalam bagi keluarga yang meninggal. Tapi bagi orang Kristen yang sudah percaya, bagaimana pun dia meninggal dan bagaimana jasadnya diperlakukan, entah dikuburkan, dikremasi atau dibuang ke laut, sama sekali tidak lagi mempengaruhi rohnya.

Seperti dalam penjelasan di atas bahwa tubuh dan roh terpisah secara langsung sesaat setelah seseorang meninggal.

Namun upacara kematian menjadi sangat penting bagi kerabat terdekat. Sekaligus menjadi momen perpisahan terakhir bagi orang yang ditinggal pergi.

Selama keadaan memungkinkan, upacara kematian sesuai dengan tradisi tertentu sah-sah saja dilakukan. Asalnya memahami dengan jelas bahwa upacara tersebut tidak lagi berhubungan dengan perjalanan roh orang mati.

"Karena jikalau kita percaya, bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit, maka kita percaya juga bahwa mereka yang telah meninggal dalam Yesus akan dikumpulkan Allah bersama-sama dengan Dia. Ini kami katakan kepadamu dengan firman Tuhan: kita yang hidup, yang masih tinggal sampai kedatangan Tuhan, sekali-kali tidak akan mendahului mereka yang telah meninggal." (1 Tesalonika 4:13-14)

Sumber : Jawaban.com

Ikuti Kami