Apa Artinya Menjadi Pria jika Tidak Menjadi Suami?

Apa Artinya Menjadi Pria jika Tidak Menjadi Suami?

Claudia Jessica Official Writer
872

Kapan kamu bisa dikatakan menjadi seorang pria? Ketika mendapatkan mobil? Lulus dari perguruan tinggi?Mendapatkan pekerjaan? Kehilanga keperawanan? Menikah? Atau mungkin memiliki anak.

Apa yang harus dilakukan soeorang pria agar bisa mengklaim kejantanannya?’

Masalahnya adalah beberapa orang mendefinisikan kejantanan diperoleh dengan beberapa jenis pencapaian fisik, perkawinan, dan pencapaian profesional.

Sedangkan Yesus adalah contoh utama dalam hal ini. Yesus tidak memiliki rumah, mengenakan topi kelulusan, mendapatkan pekerjaan, kehilangan keperawanannya, menikah, atau memiliki anak. Namun kita tahu bahwa dia sepenuhnya manusia dan sepenuhnya laki-laki pada saat itu.

Model peran kita dalam kemanusiaan adalah Yesus sendiri. Yesus adalah seorang pria. Kesaksian dari Alkitab mengatakan bahwa Yesus sepenuhnya manusia, dengan semua yang disyaratkan.

Sebagai bayi Yahudi, Ia disunat pada hari kedelapan. Dia harus belajar berjalan, berbicara, dan buang air kecil seperti semua balita lainnya, dan dia mengalami semua hormon dan pertumbuhan yang muncul saat pubertas.

Bertolak belakang dengan anjuran film-film zaman datang yang populer, Yesus tidak melewatkan ritual penting menuju kedewasaan karena ia mati sebagai perawan.

Yesus sepenuhnya manusia, sepenuhnya laki-laki, sepenuhnya hormonal adalah bahwa ia memberi tahu kita sesuatu yang penting tentang kedewasaan dan seksualitas. Yesus menunjukkan kepada kita bahwa kerohanian dan seksualitas dapat dan harus hidup berdampingan.

Tuhan menciptakan kita dalam gambar-Nya: kita adalah imago dei (rupa Allah) baik pria maupun wanita. Spiritualitas yang dewasa tidak menyerukan kita untuk menekan seksualitas kita, melainkan menyerukan kita untuk menjaga seksualitas kita dengan cara yang suci dan sepenuhnya sesuai.

Pria dipanggil untuk mengekspresikan kejantanan yang diberikan Tuhan, mereka tidak perlu mendapatkannya.

Yesus mungkin tidak memiliki istri, rumah, atau perut six-pack, tetapi ia adalah seorang manusia yang sepenuhnya manusia dan sepenuhnya Allah. Dua sifatnya yang berbeda tidak tercampur; Yesus memilih untuk menjalani kehidupan manusia tanpa bergantung pada keilahiannya untuk membantu saat pencobaan datang.

Dia menjalani kehidupan manusia yang sempurna untuk menjadi korban yang sempurna bagi saya dan kamu. Ibrani 1: 3 dan Ibrani 2:14 memperkuat identitas Yesus:

Ibrani 1:3 “Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan. Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi.”

Ibrani 2:14 “Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematian-Nya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut.”

Manusia diciptakan menurut gambar Allah dan itu membuat mereka cukup manusia, tdak ada yang harus dibuktikan.

Sumber : crosswalk.com

Ikuti Kami