Mark Zuckerberg, Pendiri Facebook Akui Tantangan Ini Membuatnya Jadi Lebih Religius

Mark Zuckerberg, Pendiri Facebook Akui Tantangan Ini Membuatnya Jadi Lebih Religius

Lori Official Writer
1578

Mark Zuckerberg, pendiri sekaligus CEO Facebook menyampaikan bahwa beberapa tahun belakangan dirinya menjadi lebih religius. Perubahan ini tentu saja bukan karena sebab. 

Dalam sebuah wawancara di Silicon Slopes Tech Summit pekan lalu, Zuckerberg menyampaikan bahwa tantangan yang dia hadapi beberapa tahun belakangan membuatnya lebih rendah hati. Hal ini tampak dari munculnya berbagai kecaman yang menuduh Facebook melakukan bias anti-konservatif. 

Dengan berbagai proses yang dia hadapi, akhirnya Zuckerberg sampai di satu titik pemikiran bahwa ada sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri. 

"Saya menjadi lebih religius. Beberapa tahun terakhir benar-benar membuat saya rendah hati. Saya pikir ada kenyamanan dalam mengetahui dan memiliki keyakinan bahwa ada hal-hal yang lebih besar dari dirimu sendiri. Itu sebabnya saya memiliki uman yang begitu besar pada demokrasi secara keseluruhan, itu sebabnya saya sangat peduli memberikan suara kepada orang lain," jelasnya.

Sayangnya, kendati dia mengaku mengalami sesuatu yang lebih religius. Namun pria keturunan Yahudi ini menjawab pertanyaan dari host soal apakah dia punya sosok seorang mentor dengan pesan yang sangat jelas. Dia menyangkali jika Tuhan adalah mentornya.

“Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa Tuhan adalah seorang mentor,” ucapnya.

Tak bisa disangkali jika di masa lalunya, Zuckerberg adalah seorang penganut Yahudi. Namun dalam sebuah postingan Facebook pada Desember 2016 silam, dia mengatakan bahwa dirinya pernah menjadi seorang ateis. Namun sejak saat itu dia mengaku percaya bahwa agama itu penting. Postingan itu sendiri muncul saat dia hendak mengucapkan ‘Selamat Natal dan Selamat Hanukkah’ kepada para pengikutnya pada 25 Desember 2016 silam.


Baca Juga: Akhirnya Mark Zuckerberg Beberkan Ide Bangun Komunitas Onlinenya Seperti Komsel Gereja


Sementara istrinya, Priscilla Chan adalah seorang penganut agama Buddha. Pasangan ingin dikarunia dua anak perempuan. Setelah menjadi ayah, dirinya mengaku lebih mementingkan keluarga lebih daripada pekerjaan. Karena itulah dia selalu menyisihkan waktu untuk mengurus anak-anaknya.

“Saya mencoba untuk menempatkan anak-anak perempuan saya ke tempat tidur setiap malam…Saya tidak selalu bisa melakukan itu tetapi itu penting bagi saya. Pekerjaan itu penting…tapi pada akhirnya kita semua adalah manusia, dan kita butuh keluarga, teman dan komunitas di sekitar kita,” ucapnya.

Sementara beberapa tahun sebelumnya, Mark Zuckerberg sempat belajar banyak tentang membangun komunitas dari gereja-gereja besar seperti Saddleback yang dipimpin oleh Pendeta Rich Warren. Dia bahkan terinspirasi dari pertumbuhan komunitas gereja yang pesat dan kuat. Bahkan ide ini menurutnya bisa diaplikasikan di Facebook, sebagai platform yang menghadirkan komunitas yang kuat bersama orang lain.

Namun, terlepas dari apapun yang sedang dia alami saat ini. Mari berdoa supaya Roh Kudus bekerja dengan cara yang ajaib atas hati dan hidupnya, sehingga dia bisa merasakan bimbingan Tuhan secara langsung dalam hidupnya.

Sumber : Berbagai Sumber | Jawaban.com

Ikuti Kami