Inta

Official Writer
485


Tantangan pengasuhan adalah hal yang pasti terjadi saat kita menjadi orang tua. Mulai dari anak yang ngambek, mogok makan, nggak nurut, bahkan sampai anak mengalami kecelakaan kecil. Saat situasi itu terjadi, nggak jarang kita cenderung menyalahkan pasangan atas apa yang terjadi pada anak.

Kita pikir, kalo aja pasangan lebih cermat dan nggak ceroboh, anak kita pasti akan lebih baik, terhindar dari kecelakaan kecil, lebih nurut, dan lain sebagainya. Cek-cok pun jadi nggak bisa terhindarkan. Nggak sadar kita malah saling melempar tanggung jawab. Ketika kondisi tidak terkendali, kita cenderung mencari kambing hitam daripada cari kebenaran atau solusinya.

Sebagai orang tua, kita diingatkan untuk tidak saling menyalahkan. Sebab, sikap ini bisa berdampak negatif pada anak, lho. Nggak cuma ke anak, bahkan hubungan kita dan pasangan juga akan jadi lebih berjarak. Kira-kira, kenapa bisa begini, ya? Yuk simak alasannya di bawah ini.

1. Memicu ingatan masa kecil yang buruk

Kita: "Lihat tuh, anakmu kok nakalnya bukan main. Kamu sih terlalu manjain dia!"

Pasangan: "Enak aja, yang harusnya ngurus anak kan kamu!"

Cek-cok dan saling menyalahkan merupakan sebuah ingatan yang kita nggak pengin ada pada anak, bukan? Kalau kita terlalu sering melakukan hal ini, anak-anak akan terpicu pada ingatan masa kecil yang terkait dengan kegelisahan, kemarahan, bahkan rasa malu.

2. Merefleksikan ekspektasi kita yang tidak realistis

Buat anak, kita adalah pahlawannya. Kita pasti pengin anak percaya kepada kita, begitu pula sebaliknya. Ornag tua merupakan percontohan tingkah laku anak di masa sekarang atau di masa yang akan datang. Kita pengin menciptakan lingkungan keluarga yang nyaman dan aman bagi semua pihak, tetapi kita justru saling menyalahkan, apalagi di depan anak-anak.

Kalau kita pengin anak punya sikap dan karakter yang baik, maka kita harus bisa memberikan contoh demikian kepada anak. Setidaknya, tidak dilakukan di hadapan anak. Kalau pun saling menyalahkan atau percek-cokan harus terjadi, maka cobalah untuk membahasnya tidak di depan anak-anak.

3. Mencirikan kalau kita belum dewasa secara emosional

Dimana pun, salah satu orang yang dianggap dewasa secara emosional merupakan mereka yang bisa bertanggung jawab atas sikapnya sendiri. Kita percaya kalau pengasuhan merupakan tanggung jawab kita dan pasangan. Bukankah tidak seharusnya kita saling menyalahkan?

Kita harus ingat kalau pengasuhan merupakan sebuah proses pembelajaran. Baik kita mau pun pasangan bisa melakukan kesalahan, kok. Daripada menyalahkan, seharusnya kita bisa lebih bertanggung jawab soal bagaimana solusi dari masalah pengasuhan anak ini.

4. Anak percaya kalau dirinya adalah produk gagal dari pasangan

Menyalahkan pasangan di depan anak bisa membuatnya percaya kalau tingkah buruknya adalah hasil dari pihak orang tua yang salah mengasuh.Kita nggak bisa mengabaikan emosi anak. Mereka bisa merekam apa yang dialaminya, bahkan sejak mereka masih balita.

Ketika aksi saling menyalahkan terjadi, anak bisa berpikir bahwa ternyata pihak pasanganlah yang salah, sebab ia membesarkan anak dengan cara yang salah pula. Siapa sih yang suka disalahkan? Ketika kita menyalahkan pasangan, nggak jarang ini akan memicu pertengkaran. Hal ini kemudian akan mempengaruhi presepsi anak terhadap orang tua.

Lalu, bagaimana kalau pasanganlah yang justru mulai menyalahkan kita? Jawabannya adalah dengan mengabaikannya. Kita bisa langsung meninggalkan pasangan, atau mengingatkannya untuk tidak berbicara dulu saat anak-anak sedang ada di sekitar kita.

Menahan emosi itu nggak ada ruginya sama sekali, lho. Justru lewat menghindari, kita jadi nggak meninggalkan ledakan emosi atau penyesalan. Manusia cenderung bereaksi dengan emosi negatif saat merasa terancam.

Jadi, solusinya adalah dengan menjaga interaksi kita dengan pasangan. Bukan selayaknya orang tua yang marah apda anak, coba arahkan komunikasi kita kepada pasangan. Dari sikap ini, kita akan belajar untuk membangun tanggung jawab buat diri sendiri. Kita harus tahu kalau kita sendiri yang bertanggung jawab atas hal-hal yang dipikirkan, dirasakan, dan dilakukan.

 

 

 

 

Sumber : berbagai sumber


Share this article :

Setiap Persoalan selalu ada Harapan dan Jawaban. Hubungi kami sekarang !

Erik Siahaan 27 May 2020 - 08:13:10

Karena Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.".. more..

0 Answer

Margaretha Ltor 15 May 2020 - 11:07:59

Apa yg kita harus lakukan,,untuk tau ada atau tida.. more..

1 Answer

tolala 2 May 2020 - 03:25:35

Covid 19

1 Answer


IMA SAMOSIR 29 May 2020 - 14:22:54
'Terimkasih Tuhan Yesus untuk Semua yg Terjadi did... more..

Dian Parluhutan 7 May 2020 - 23:12:30
shalom Saudara-saudari yang terkasih, mohon doan... more..

anre vin 21 April 2020 - 13:19:08
Nama saya Ernawati, saya minta tolong saya jatuh d... more..

Reginald Rambing 14 April 2020 - 14:28:50
Saya minta dukungan melalui bantuan doa dari sauda... more..

Banner Mitra April Week 3


7254

Banner Mitra Maret Week 3