Silahkan login terlebih dahulu sebelum
memasukkan pertanyaan Anda.

Register Login

Inta

Official Writer
190


Beberapa hari yang lalu, seorang ibu menceritakan kisah anaknya yang tiba-tiba sakit. Sehari sebelumnya, anak tersebut nampak sangat sehat, ia bahkan bisa bermain dengan anak-anak lain di komplek, juga pergi ke sekolah seperti biasanya.

Hari itu, sang anak sudah berulang kali mengatakan kepada ibunya dengan suara yang riang dan semangat, "Hari ini kita pergi berenang ya, Ma? Aku nggak sabar mau berenang sama Mama." Namun, di sore harinya, ternyata hujan turun, sehingga mereka tidak bisa pergi berenang.

Di malam harinya, sang anak berkali-kali pula mengatakan, "Aku tuh mau banget renang sama Mama lho, Ma.” Sampai akhirnya terlontar dari mulut anak bahwa dirinya berkata kalau ia kecewa. “Aku mau main air sama Mama. Aku kecewa nggak bisa renang hari ini."

Besokannya, sang anak mengalami demam. Setelah membagikan ceritanya ini, ternyata ada banyak ibu yang juga mengalami hal ini. Kadang, kekecewaan anak bisa mempengaruhi kondisi fisiknya. Apakah salah satu diantara kita juga pernah mengalami hal yang sama?

Rasa kecewa pada anak itu merupakan hal yang wajar, dan ini peran kita sebagai orang tua

Kita saja, sebagai orang dewasa perlu waktu untuk bisa menyikapi rasa kecewa, bukan? Apalagi anak. Tugas kita sebagai orang tua bukan mencegah mereka agar nggak kecewa, melainkan mendampingi mereka dari rasa kecewa tersebut.

Dengan begitu, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang kuat, ia bisa bangkit dari rasa kecewa tersebut. Kita kan nggak tahu sampai kapan kita akan terus bersama dengan anak-anak. Setidaknya, kita sudah mengajarkan pada anak untuk bisa menata hidup saat dihadapkan dengan rasa kecewa.

Lingkungan kita ini nggak akan menjamin anak-anak bebas dari rasa kecewa. Bahkan, kalau anak kita dijanjikan untuk beli mainan, tetapi ternyata kita nggak bisa memenuhinya, anak bisa saja langsung kecewa.

Agar mempersiapkan anak dengan rasa kecewa ini, kita bisa melakukan beberapa cara berikut.

1.  Kenali rasa kecewa pada anak

Buat contoh kasus di atas, mungkin agak lebih mudah buat mengenalinya karena si anak sudah mengatakan kalau dirinya kecewa. Namun, tidak bagi beberapa anak yang lain. Anak yang kecewa biasanya langsung terlihat murung, menangis, atau emosi yang tidak biasa lainnya.

Jadi, buat mengenalinya, cobalah langsung menamai masalahnya. Misalnya, ia kecewa karena nggak dibelikan mainan, nggak jadi jalan-jalan, atau masalah lain yang membuatnya kecewa. Selanjutnya, kita mencari tahu perasaan anak: kecewa, sedih, marah, atau hal lainnya.

Setelah kita tahu masalahnya dan perasaan anak terhadap masalah tersebut, cobalah berikan waktu pada anak untuk meluapkan unek-uneknya. Pastikan kita mendengarkan hal tersebut. Sebagai orang tua, kita juga harus bisa menjadi pendengar yang baik, tanpa menawarkan solusi terlebih dahulu.

Mengetahui anak bisa mengungkapkan perasaannya itu juga merupakan salah satu pertanda kalau anak kita berkembang secara emosional. Jadi, biarkan mereka berbicara.

2. Beri tahu kalau pada setiap masalah, pasti ada solusinya

Kita sudah mengenali masalah, perasaan anak, dan mendengarkan unek-unek mereka. Kini, saatnya kita bertanya mengenai solusi yang kira-kira bisa membuat perasaannya jadi lebih baik. Kalau anak memilih untuk diam, kita juga bisa berinisiatif untuk mencari tahu bersama soal ini.

Sekarang, solusi sudah ketemu. Saatnya kita menjalankan solusi tersebut. Jangan lupa pula untuk bertanya kepada anak soal bagaimana perasaannya setelah melakukan solusinya itu. Kalau solusi ini bisa dilakukan dan bekerja dengan baik, maka kita bisa melakukan hal yang sama kalau anak-anak kembali kecewa terhadap sesuatu.

3. Menjadi contoh yang baik buat anak-anak

Kita tahu betul kalau anak-anak melakukan apa yang mereka lihat. Coba deh, kita lihat kembali pada diri sendiri, bagaimana cara kita menanggapi kekecewaan? Apakah kemudian kita langsung marah-marah pada orang lain? Apakah kita menyalahkan orang lain?

Tugas menjadi orang tua memang nggak hanya untuk mendidiknya, tetapi juga mendampingi anak-anak. Terkadang, saat anak kecewa, kita langsung melakukan segala cara untuk memastikan kalau perasaan anak kita jadi lebih baik. Padahal, sudut pandang kita sebagai orang tua dan anak itu pasti berbeda.

Untuk itu, kita harus bisa melibatkan anak dalam solusinya seperti tahapan yang ada di atas. Pahami pula kalau kekecewaaan bisa menjadi salah satu hal yang cukup sulit untuk dilakukan. Pahami kalau anak juga perlu waktu buat menanggapi perasaan kecewanya.

 

Sumber : berbagai sumber

Share this article :

Setiap Persoalan selalu ada Harapan dan Jawaban. Hubungi kami sekarang !

Reni Agustin 17 October 2019 - 23:18:07

Kata sia-sia

0 Answer

Haikal saputra 17 October 2019 - 20:06:54

Virus Bersifat......?yang Tidak Memiliki oragel or.. more..

0 Answer

Dede Mm14 16 October 2019 - 21:18:10

Tulislah satu dalil naqli yang berkaitan dengan wa.. more..

0 Answer


Berkat Melimpah 8 October 2019 - 05:08:21
Tolong doakan supaya Tuhan beri jalan / pekerjaan ... more..

Cristian Sipahutar 1 October 2019 - 12:41:13
Perkenalkan nama saya Cristian Sipahutar, saya sdh... more..

nafty louise 21 September 2019 - 21:18:28
Selamat malam, nama saya nafty saat ini saya mohon... more..

Merry Sine 28 August 2019 - 14:42:33
Salom sahabat.. peekenalkan saya merry

Banner Mitra Oktober Week 3


7269

Banner Mitra Oktober Week 3