Inta

Official Writer
754


Beberapa hari yang lalu, seorang ibu menceritakan kisah anaknya yang tiba-tiba sakit. Sehari sebelumnya, anak tersebut nampak sangat sehat, ia bahkan bisa bermain dengan anak-anak lain di komplek, juga pergi ke sekolah seperti biasanya.

Hari itu, sang anak sudah berulang kali mengatakan kepada ibunya dengan suara yang riang dan semangat, "Hari ini kita pergi berenang ya, Ma? Aku nggak sabar mau berenang sama Mama." Namun, di sore harinya, ternyata hujan turun, sehingga mereka tidak bisa pergi berenang.

Di malam harinya, sang anak berkali-kali pula mengatakan, "Aku tuh mau banget renang sama Mama lho, Ma.” Sampai akhirnya terlontar dari mulut anak bahwa dirinya berkata kalau ia kecewa. “Aku mau main air sama Mama. Aku kecewa nggak bisa renang hari ini."

Besokannya, sang anak mengalami demam. Setelah membagikan ceritanya ini, ternyata ada banyak ibu yang juga mengalami hal ini. Kadang, kekecewaan anak bisa mempengaruhi kondisi fisiknya. Apakah salah satu diantara kita juga pernah mengalami hal yang sama?

Rasa kecewa pada anak itu merupakan hal yang wajar, dan ini peran kita sebagai orang tua

Kita saja, sebagai orang dewasa perlu waktu untuk bisa menyikapi rasa kecewa, bukan? Apalagi anak. Tugas kita sebagai orang tua bukan mencegah mereka agar nggak kecewa, melainkan mendampingi mereka dari rasa kecewa tersebut.

Dengan begitu, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang kuat, ia bisa bangkit dari rasa kecewa tersebut. Kita kan nggak tahu sampai kapan kita akan terus bersama dengan anak-anak. Setidaknya, kita sudah mengajarkan pada anak untuk bisa menata hidup saat dihadapkan dengan rasa kecewa.

Lingkungan kita ini nggak akan menjamin anak-anak bebas dari rasa kecewa. Bahkan, kalau anak kita dijanjikan untuk beli mainan, tetapi ternyata kita nggak bisa memenuhinya, anak bisa saja langsung kecewa.

Agar mempersiapkan anak dengan rasa kecewa ini, kita bisa melakukan beberapa cara berikut.

1.  Kenali rasa kecewa pada anak

Buat contoh kasus di atas, mungkin agak lebih mudah buat mengenalinya karena si anak sudah mengatakan kalau dirinya kecewa. Namun, tidak bagi beberapa anak yang lain. Anak yang kecewa biasanya langsung terlihat murung, menangis, atau emosi yang tidak biasa lainnya.

Jadi, buat mengenalinya, cobalah langsung menamai masalahnya. Misalnya, ia kecewa karena nggak dibelikan mainan, nggak jadi jalan-jalan, atau masalah lain yang membuatnya kecewa. Selanjutnya, kita mencari tahu perasaan anak: kecewa, sedih, marah, atau hal lainnya.

Setelah kita tahu masalahnya dan perasaan anak terhadap masalah tersebut, cobalah berikan waktu pada anak untuk meluapkan unek-uneknya. Pastikan kita mendengarkan hal tersebut. Sebagai orang tua, kita juga harus bisa menjadi pendengar yang baik, tanpa menawarkan solusi terlebih dahulu.

Mengetahui anak bisa mengungkapkan perasaannya itu juga merupakan salah satu pertanda kalau anak kita berkembang secara emosional. Jadi, biarkan mereka berbicara.

2. Beri tahu kalau pada setiap masalah, pasti ada solusinya

Kita sudah mengenali masalah, perasaan anak, dan mendengarkan unek-unek mereka. Kini, saatnya kita bertanya mengenai solusi yang kira-kira bisa membuat perasaannya jadi lebih baik. Kalau anak memilih untuk diam, kita juga bisa berinisiatif untuk mencari tahu bersama soal ini.

Sekarang, solusi sudah ketemu. Saatnya kita menjalankan solusi tersebut. Jangan lupa pula untuk bertanya kepada anak soal bagaimana perasaannya setelah melakukan solusinya itu. Kalau solusi ini bisa dilakukan dan bekerja dengan baik, maka kita bisa melakukan hal yang sama kalau anak-anak kembali kecewa terhadap sesuatu.

3. Menjadi contoh yang baik buat anak-anak

Kita tahu betul kalau anak-anak melakukan apa yang mereka lihat. Coba deh, kita lihat kembali pada diri sendiri, bagaimana cara kita menanggapi kekecewaan? Apakah kemudian kita langsung marah-marah pada orang lain? Apakah kita menyalahkan orang lain?

Tugas menjadi orang tua memang nggak hanya untuk mendidiknya, tetapi juga mendampingi anak-anak. Terkadang, saat anak kecewa, kita langsung melakukan segala cara untuk memastikan kalau perasaan anak kita jadi lebih baik. Padahal, sudut pandang kita sebagai orang tua dan anak itu pasti berbeda.

Untuk itu, kita harus bisa melibatkan anak dalam solusinya seperti tahapan yang ada di atas. Pahami pula kalau kekecewaaan bisa menjadi salah satu hal yang cukup sulit untuk dilakukan. Pahami kalau anak juga perlu waktu buat menanggapi perasaan kecewanya.

 

Sumber : berbagai sumber


Share this article :

Setiap Persoalan selalu ada Harapan dan Jawaban. Hubungi kami sekarang !

Erik Siahaan 27 May 2020 - 08:13:10

Karena Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.".. more..

0 Answer

Margaretha Ltor 15 May 2020 - 11:07:59

Apa yg kita harus lakukan,,untuk tau ada atau tida.. more..

2 Answer

tolala 2 May 2020 - 03:25:35

Covid 19

1 Answer


IMA SAMOSIR 29 May 2020 - 14:22:54
'Terimkasih Tuhan Yesus untuk Semua yg Terjadi did... more..

Dian Parluhutan 7 May 2020 - 23:12:30
shalom Saudara-saudari yang terkasih, mohon doan... more..

anre vin 21 April 2020 - 13:19:08
Nama saya Ernawati, saya minta tolong saya jatuh d... more..

Reginald Rambing 14 April 2020 - 14:28:50
Saya minta dukungan melalui bantuan doa dari sauda... more..

Banner Mitra Juni Week 1-2


7253

Banner Mitra Juni Week 1-2