Menjadi Kristen Di Cina, Gereja Tak Lagi Tawarkan Rasa Aman. Ini Perjuangannya!

Menjadi Kristen Di Cina, Gereja Tak Lagi Tawarkan Rasa Aman. Ini Perjuangannya!

Inta Official Writer
926

Pihak pemerintah Cina hingga saat ini masih menindaklanjuti  penutupannya pada agama, para Kristen di negara komunis itu harus melarikan diri agar bisa bertahan hidup.  

Partai Komunis Cina yang berkuasa melakukan menyisiran dan menggusur semua lembaga agama dalam beberapa tahun terakhir ini, tidak terkecuali gereja dan masjid. Pemerintah telah memenjarakan lebih dari satu juta orang Islam dan menyebutnya sebagai sebuah program 'pusat pendidikan ulang'.

Presiden XI Jinping, yang juga merupakan pemimpin partai telah memerintahkan kalau semua agama harus mengikuti peraturan pemerintah. Sehingga mereka semua harus setiap pada partai komunis resmi atau jika tidak, mereka harus bersedia menanggapi kemarahan dari rezim Komunis.

Salah seorang yang sedang melarikan diri dari kejaran pemerintah adalah Liao Qiang, anggota jemaat dari gereja Early Rain Convenant. Gerejanya digrebek dan menjadi sasaran pemerintah karena dianggap menentang presiden dan partainya.

Kini, ia sedang bersembunyi dan berharap untuk mendapatkan tempat tinggal di Taipei, Taiwan, sambil berharap kalau akan mendapatkan kehidupan yang lebih layak di Amerika Serikat.

Dari anggota jemaat gereja Liao Qiang, terdapat lebih dari 100 orang yang ditahan, baik saat mereka sedang beribadah di gereja maupun dirumahnya. Diantara orang itu termasuk pendetanya, Wang Yi.

Ren Ruiting, putri Liao yang berusia 23 tahun lah yang paling merasakan bahwa keselamatannya tidak lagi dijamin. Ia harus melaporkan keberadaannya ke polisi melalui sosial medianya setiap kali dia meninggalkan rumah.

"Saat itulah saya menyadari kalau kami tidak lagi aman disini. Anak-anak saya yang paling berada dalam bahaya," terang Liao setelah kebaktian Minggu, yang dihadiri hanya oleh 30 orang, di gereja Xinan Presbiterian Reformed kecil di Taipei.

 

Sumber : Fox News

Ikuti Kami