Silahkan login terlebih dahulu sebelum
memasukkan pertanyaan Anda.

Register Login

Lori Mora

Official Writer
1997


Suasana sore pada Jumat, 28 September 2018 di Desa Jono Oge, Sigi, Sulawesi Tengah tampak begitu cerah dan indah. Tak ada firasat buruk apa-apa yang dirasakan oleh Fermans, salah satu warga desa Jono Oge.

Malahan, Fermans menyempatkan diri mengabadikan indahnya mentari sore hari yang saat itu menunjukkan pukul 18.00 WITA. Sementara di tempat lain, tepatnya di Pusdiklat Jono Oge yang berlokasi di sekitar daerah itu sedang berlangsung retret siswa SMA.

Sama halnya seperti yang dirasakan Fermans, para siswa ini sama sekali tak mengalami firasat apa-apa. Kegiatan retret berjalan dengan baik sampai selesainya sesi kedua sore itu. Mereka bahkan sempat menikmati waktu rehat dengan bercerita dan berkumpul menikmati hidangan sore di sekitar gedung.

Tak satupun yang mungkin bisa percaya kalau momen indah itu tiba-tiba berubah menjadi sesuatu yang mengerikan saat permukaan tanah mulai bergerak kencang dan mengguncang seisi gedung.

Baik Fermans yang saat itu berada di luar maupun para siswa SMA ini mulai gugup. Masing-masing dari mereka mulai berlarian, mencari pintu keluar gedung berusaha menyelamatkan diri.

Sejak gempa pertama pada pukul 18.06 WITA, tanah mulai bergeser. Situasi semakin parah setelah gempa kedua menyusul dengan catatan kekuatan gempa mencapai 7.4 magnitudo.

“Saya melihat orang-orang di sekitar saya sudah mulai berlarian. Nah, kemudian ketika gempa kedua, gempa yang dahsyat itu semakin kencang, saya rasa saya lari tapi dalam hati saya, saya bilang, ‘Tuhan apakah ini betul saya alami? Ini saya rasa kayak mimpi’” tutur Jenifer, salah satu siswi korban selamat.

Sementara Vetman, salah satu pembimbing para siswa ini hanya bisa mengingat kalau saat gempa kedua, semua anak mulai berlarian. Ada yang berjatuhan dan berdesak-desakan mencari pintu keluar.

Saat gempa terjadi, salah satu siswa yang selamat Gigan menuturkan bagaimana dirinya yang saat itu sudah berada di luar gedung berusaha menyelamatkan ibunya yang masih terjebak di dalam gedung.

“Waktu gempa itu, saya tiba-tiba langsung lari. Kemudian saya sudah di luar saya teringat pada ibu saya, masih ada di dalam. Ya. Kemudian saya tunggu kalau saya seandainya mau masuk ke dalam saya pasti akan kena juga reruntuhan,” terangnya.

Syukurnya, ibu Gigan Leni Tatodang berhasil menyelamatkan diri. Meski dirinya mengaku hampir tertimpa reruntuhan atap gedung.

Siapa kira kalau gempa dahsyat yang mengguncang tanah Palu sore itu rupanya dibarengi dengan terjadinya likuifaksi yang mengubah permukaan tanah menjadi lumpur dan menelan setiap perumahan dan gedung di Desa Jono Oge.

Menurut penuturan Fermans, likuifaksi terjadi akibat jebolnya tanggul penampungan air persawahan yang berada di atas permukiman warga.

“(Di) Atas itu ada tanggul, tanggul besar untuk perairan sawah. Mungkin itu yang jebol membawa lumpur itu,” terang Fermans.

Saat gempa dan likuifaksi terjadi, rumah Fermans ikut terseret lumpur. Dia bahkan harus menyelamatkan diri dengan berpegangan di atas atap rumah. Dari sanalah dia mengabadikan peristiwa bergesernya permukaan tanah dan gedung-gedung di sekitarnya dengan ponsel pribadinya. “Pikiran saya waktu itu dunia sudah kiamat. Saya lihat sekeliling, sudah tidak ada lagi tempat yang bisa berpijak. Sudah lumpur semua. Saya pikir kota Palu itu sudah tenggelam,’ terangnya.

Sementara para siswa SMA di Pusdiklat Jono Oge berada dalam kekalutan. Sekitar belasan siswa berhasil selamat. Mereka bahkan tak tahu sudah berada di mana lantaran tak ada penerangan, semua lampu padam dan saat itu hari sudah beranjak malam.

“Kami semua itu sekarang ada di tengah lumpur. Dan di seberang jalan, tempat acara berlangsung itu ada toko bangunan. Toko bangunan itu sudah masuk dalam lumpur, tinggal atapnya. Akhirnya saya naik di atas seng itu. Berdiam dan beberapa anak, ya, saya hitung ada 15 anak-anak yang naik di atas seng itu,” terang Vetman.

Sekitar enam jam, Vetman dan para siswa SMA itu berada di atas lumpur. Sampai pada akhirnya warga berdatangan dan memberikan pertolongan.

“Saat itu, anak-anak meminta saya untuk berdoa. Mereka berkata, ‘Pak berdoa..berdoa.’” ucap Vetman.

Baca Juga :

Leonard Gunawan, Bandar Sabu yang Bertobat Karena Doa Ibu

Dengar Suara Ajaib, Kapten Ricoseta Mafella Luput Dari Bencana Maut Gempa Palu

Dengan tubuh yang dipenuhi lumpur dan kedinginan, Pierre dan teman-temannya berdoa di atas atap. Mereka tak henti-hentinya meminta pertolongan dari Tuhan. Pierre sendiri mengaku jika saat itu, hal yang dia hanya bisa lakukan adalah memuji Tuhan.

“Kita di situ terus sampai jam 10 (malam). Kita doa, kita pujian penyembahan. Waktu itu saya nyanyikan lagu ‘Apapun yang terjadi di dalam hidupku, slaluku berkata Tuhan Yesus baik.’ Jadi lagu itu yang jadi teguhan untuk saya,” terang Pierre.

Meski tak tahu apakah akan bisa bertahan atau tidak, Vetman percaya betul kalau mereka pasti akan selamat. Pertolongan Tuhan pasti akan tiba. “Iman saya itu, kita pasti hidup,” kata Vetman.

Melalui dua orang pria yang datang malam itu, Vetman dan 15 siswa itu akhirnya dievakuasi. Karena lumpur dan air yang masih tergenang di sekitarnya, proses evakuasi berlangsung hampir dua jam. Sampai akhirnya mereka bisa tiba di jalan besar pada pukul 12 malam.

“Pagi-paginya warga mulai berdatangan untuk bantu kami keluar dari tempat itu,” tutur Jenifer.

Di berikan kesempatan hidup kedua adalah hal paling mereka syukuri. Baik Vetman, Gigan, Pierre, Fermans, Jenifer dan korban selamat lainnya mengaku bersyukur kepada Tuhan.

“Kasih Tuhan itu benar-benar luar biasa dalam hidup saya. Tuhan mampu mengguncangkan bumi, Tuhan mampu memulihkan. Luar biasa. Terpujilah nama Tuhan,” tandas Fermans.

Apakah kamu percaya kalau Tuhan itu hidup? Apakah kamu punya iman sebesar iman korban selamat gempa Palu ini? Jika kamu percaya, jangankan gempa masalah hidup apapun yang kamu alami saat ini juga akan Tuhan selesaikan. Karena itu, bagi kamu yang punya pergumulan dan rindu ditolong sama Tuhan, segera hubungi konselor Sahabat24 kami di SMS/WA 081703005566 atau telp di 1-500-224 dan 0811 9914 240 bisa juga email ke [email protected] atau lewat  Live Chat dengan KLIK DI SINI.

Sumber : Solusi TV/Jawaban.com

Share this article :

Setiap Persoalan selalu ada Harapan dan Jawaban. Hubungi kami sekarang !

Reni Agustin 17 October 2019 - 23:18:07

Kata sia-sia

0 Answer

Haikal saputra 17 October 2019 - 20:06:54

Virus Bersifat......?yang Tidak Memiliki oragel or.. more..

0 Answer

Dede Mm14 16 October 2019 - 21:18:10

Tulislah satu dalil naqli yang berkaitan dengan wa.. more..

0 Answer


Berkat Melimpah 8 October 2019 - 05:08:21
Tolong doakan supaya Tuhan beri jalan / pekerjaan ... more..

Cristian Sipahutar 1 October 2019 - 12:41:13
Perkenalkan nama saya Cristian Sipahutar, saya sdh... more..

nafty louise 21 September 2019 - 21:18:28
Selamat malam, nama saya nafty saat ini saya mohon... more..

Merry Sine 28 August 2019 - 14:42:33
Salom sahabat.. peekenalkan saya merry

Banner Mitra Oktober Week 3


7269

Banner Mitra Oktober Week 3