Lori Mora

Official Writer
1381


Kesibukan selalu menyita waktuku setiap hari, mulai dari bekerja, mengerjakan tugas rumah dan membayar tagihan. Hal itu membuatku hampir lupa dengan orang lain. Sampai akhirnya calon ibu mertuaku meninggal.

Dia meninggal setelah melawan kanker selama lebih dari 10 tahun, bahkan saat aku sudah bertemu suamiku. Aku tak pernah menyangka di detik-detik terakhir hidupnya, aku melewatkan perbincangan singkat dengan dia.

Aku selalu berada di sampingnya di hari-hari terakhirnya. Aku bahkan mengaku begitu bersyukur karena ibu mertua ku telah membesarkan pria yang begitu luar biasa seperti suamiku.

Saat pertama bertemu ibu mertuaku, dia terlihat sangat sabar, kuat dan optimis. Aku tak pernah tahu kalau dia berjuang melawan kanker kalau saja suamiku tak memberitahuku. Dia dan aku berkencan selama hampir lima tahun sebelum kami bertunangan dan aku tak sabar lagi jadi menantu perempuannya.

Di mataku, dia adalah wanita yang sangat optimis. Sekalipun kanker yang dideritanya tampak begitu buruk, rasa optimisnya membuatku berpikir kalau dia akan baik-baik saja.

Tapi kankernya mulai menyebar, suamiku dan keluarganya tampak tak terlalu berkecil hati. Meskipun dari raut wajah ibu mertuaku, dia tampak mulai kehilangan harapan. Dia menyampaikan kalau mungkin dia tak akan ada bersama dengan kami di pernikahan kami nanti. Komentar-komentar kecil seperti itu terus muncul.

Sampai suatu hari, aku dan suamiku mengajaknya jalan-jalan. Dia tampak biasa-biasa saja karena memang kondisi kesehatannya yang sudah semakin menurun.

Mempertimbangkan kesehatannya, aku berpikir untuk mengundur tanggal pernikahan kami yang sebelumnya dijadwalkan di akhir bulan Desember. Lalu kami meminta pengunduran tanggal dengan pihak gedung, gereja dan fotografer. Kami akhirnya memutuskan menikah di bulan Mei.

Beberapa minggu sebelum pernikahan, kesehatannya semakin menurun. Suamiku memberitahuku bahwa dia kuatir jika ibunya tak sempat hadir dalam pernikahan kami. Di sisi lain, aku juga kuatir jika dia tak ada di sana untuk menyaksikanku resmi menjadi menantunya.

Tanpa pikir panjang, aku segera melaju menuju kediaman suamiku. Setiba di sana, aku duduk di sebelah tempat tidurnya dan memegang tangannya. Aku berterima kasih karena sudah membesarkan putranya yang akan menjadi suamiku. Aku ingin memastikan kalau putranya adalah sosok yang lembut, baik hati, penuh kasih sayang, bijaksana, setia dan kuat. Dia benar-benar telah mewariskan karakter yang persis sama kepada putranya. Aku bahkan menyampaikan kalau aku begitu mencintai putranya dan merasa terhormat bisa menjadi istrinya. Aku berterima kasih kepadanya karena sudah mendidik putranya untuk menghormati wanita dan mencintai dengan setia.

Mendengar hal itu, dia pun kembali menyampaikan kalimat yang membuatku begitu bahagia. Dia mengaku bersyukur atas apa yang saya sampaikan soal putranya. Dan itu adalah percakapan terakhir yang pernah kami lakukan.

Selama 24 jam kemudian, kondisi ibu mertuaku semakin buruk. Dia tak lagi bisa merespon dengan benar. Hal ini membuatku untuk menyarankan bagaimana jika kami memanggil pendeta untuk menikahkan kami di rumah saja. Awalnya, suamiku menolak dan yakin kalau ibunya akan baik-baik saja. Sementara anggota keluarga lainnya mengaku setuju denganku. Saat kami mencoba membangunkannya dengan lembut untuk memberitahukan rencana ini, matanya terbuka. Dia menarik napas dan dengan pelan bergumam, ‘Itu rencana yang bagus.’

Pada tanggal 6 Mei, kami menikah di samping tempat tidurnya. Kakak ipar dan keponakan perempuanku mengenakan gaun pengiring pengantin. Suamiku duduk bersama ibu mertuaku saat kami menyanyikan lagu yang seharusnya kami nyanyikan di pernikahan kami nanti.

Perlahan, aku membungkuk dihadapannya dan berbisik kalau aku sudah resmi jadi istri dari putranya. Matanya tak terbuka, tapi terpancar senyum kecil di wajahnya. Aku benar-benar percaya dia tahu apa yang terjadi pada hari itu.

Aku tak bisa membiarkannya meninggalkan dunia ini tanpa mengetahui dampak yang dia buat atas hidupku. Hari itu, aku belajar bahwa kematian tak akan bisa membatasi kita untuk tidak mengakui perasaan kita kepada orang lain. Peristiwa itu membuatku menjadi seorang yang selalu mau dengan berani mengakui perasaanku kepada orang lain.

Hari ini, peristiwa itu sudah 7 tahun berlalu. Tiga tahun setelah peristiwa itu kami menyambut anak pertama kami dan menamainya nama akhir dari ibu mertuaku. Dan aku selalu bersyukur bisa memiliki kesempatan untuk menyampaikan apa yang aku rasakan sebelum dia meninggalkan kami.

Sumber : Popsugar.com/jawaban.com


Share this article :

Setiap Persoalan selalu ada Harapan dan Jawaban. Hubungi kami sekarang !

Erik Siahaan 27 May 2020 - 08:13:10

Karena Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.".. more..

0 Answer

Margaretha Ltor 15 May 2020 - 11:07:59

Apa yg kita harus lakukan,,untuk tau ada atau tida.. more..

1 Answer

tolala 2 May 2020 - 03:25:35

Covid 19

1 Answer


IMA SAMOSIR 29 May 2020 - 14:22:54
'Terimkasih Tuhan Yesus untuk Semua yg Terjadi did... more..

Dian Parluhutan 7 May 2020 - 23:12:30
shalom Saudara-saudari yang terkasih, mohon doan... more..

anre vin 21 April 2020 - 13:19:08
Nama saya Ernawati, saya minta tolong saya jatuh d... more..

Reginald Rambing 14 April 2020 - 14:28:50
Saya minta dukungan melalui bantuan doa dari sauda... more..

advertise with us


7253

advertise with us