Silahkan login terlebih dahulu sebelum
memasukkan pertanyaan Anda.

Register Login

believers24

Official Writer
191


Persekutuan Perempuan Berpendidikan Teologi di Indonesia (PERUATI) mengeluarkan sikap resmi organisasi terkait maraknya kasus kekerasan seksual yang terjadi di tanah air. Berisikan 6 poin sikap, pernyataan ini disampaikan di Grha Oikoumene PGI, Jalan Salemba Raya No.10, Jakarta Pusat, Selasa (4/12/2018).

Pernyataan Sikap PERUATI ini dibacakan langsung oleh ketua mereka, Pdt. Ruth Ketsia Wangkai, M.Th.

“Kami Badan Pengurus Nasional PERUATI dengan ini menyatakan sikap sebagai berikut: 1 (satu) PERUATI sepakat bahwa kekerasan seksual adalah setiap perbuatan melanggar martabat kemanusiaan seseorang berdasarkan diskriminasi gender yang menyasar pada tubuh dan seksualitas seseorang, yang berakibat atau dapat berakibat kerugian atau penderitaan fisik, psikis, ekonomi, seksual, politik, dan/atau sosial korban. Kekerasan seksual adalah tindakan kejahatan yang merusak gambar Allah. Oleh karena itu, kekerasan seksual adalah dosa,” ujar Ruth Ketsia.

Dua (2), sambung Ruth Ketsia, PERUATI memandang bahwa RUU Penghapusan Kekerasan Seksual merupakan bagian dari bentuk tanggungjawab dan pemenuhan tanggungjawab Negara bagi setiap warga negara untuk bebas dari ancaman dan kekerasan, khususnya kekerasan seksual. Oleh karena itu RUU Penghapusan Kekerasan Seksual sangat mendesak untuk dibahas dan disahkan.


(Pengurus PERUATI berfoto bersama pemateri dan peserta Diskusi Publik tema “Konsolidasi dan Pendalaman Substantif Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual” / Sumber: Harian Nasional / Winanti)

“Tiga (3), PERUATI memandang urgensi pembahasan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual merupakan salah satu bentuk keberpihakan negara kepada korban kekerasan seksual. Dengan hadirnya UU Penghapusan Kekerasan Seksual maka ada payung hukum yang akan mendekatkan akses keadilan dan jaminan perlindungan dan ketidakberulangan bagi korban. Empat (4), PERUATI menyerukan seluruh Badan Pengurus dan Anggota yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia untuk bergerak bersama menjadikan isu kekerasan seksual sebagai persoalan teologis dan isu publik. Sebagai persoalan teologis, isu kekerasan seksual harus menjadi konteks dan perhatian gereja dalam berteologi. Sebagai isu publik, narasi pengalam korban kekerasan seksual khususnya perempuan dan anak yang selama ini masih dibisukan dan didomestifikasi, perlu disuarakan kembali,” imbuh Ruth Ketsia.

Lima (5), lanjut Ruth Ketsia, PERUATI menyerukan seluruh Badan Pengurus dan Anggota yang tersebar di 16 Provinsi di Indonesia untuk bergerak bersama mensosialisasikan substansi RUU Penghapusan Kekerasan Seksual dalam seluruh aktivitas organisasi maupun perorangan sebagai bagian dari pendidikan publik terutama membangun upaya kesadaran akan pentingnya mendesak pemerintah SEGERA mengesahkan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual.

“Enam (6), PERUATI bersama dengan segenap elemen masyarakat akan turut mengawal dan mendesak agar DPR RI segera membahas dan mengesahkan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual. Jakarta, 4 Desember 2018, Badan Pengurus Nasional PERUATI Periode 2015-2019, Ketua Pdt. Ruth Ketsia Wangkai, M.Th, Sekretaris Pdt. Ratnawati L., S.Si.Teo,” kata Ruth Ketsia.

Sebelum mengeluarkan pernyataan sikapnya, PERUATI menyelenggarakan Diskusi Publik dengan tema “Konsolidasi dan Pendalaman Substantif Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual”. Acara ini dibuat dalam rangka Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan Tahun 2018.

Baca Juga: Menyesakkan, Pendeta Ini Lakukan Pelecehan Seksual Kepada 3 Anak Perempuan Tetangganya

Adapun yang menjadi pemateri dalam Diskusi Publik tersebut antara lain Pdt. Septemmy Lakawa (Dosen Sekolah Tinggi Teologi Jakarta), Maria Ulfah Ansor (Kongres Ulama Perempuan Indonesia), Veny Siregar (LBH APIK Jakarta), Jhonny Simanjuntak (Biro Hukum PGI), dan Magdalena Sitorus (Komisioner KOMNAS Perempuan).

Tampak hadir sebagai peserta, antara lain David Sitorus (Wakil Ketua Pengurus Pusat GMKI), Pindawati  (PERKHIN / Perkumpulan Kong Hu Chu Indonesia), Nur Mantik (PHDI Pusat / Parasida Hindu Dharma Indonesia), dan  Pdt. Repelita Tambunan, M.Th (Kepala Biro Perempuan dan Anak PGI).

Sumber : Jawaban.Com

Share this article :

Setiap Persoalan selalu ada Harapan dan Jawaban. Hubungi kami sekarang !

Hendri Sianturi 19 December 2018 - 03:13:24

Kenapa kita sebagai agama kristen memakan babi..Bu.. more..

0 Answer

traveller cantik 19 December 2018 - 00:01:26

Kalau kita tidak menyukai hobby pasangan bagaimana.. more..

0 Answer

Rizam Lede 17 December 2018 - 13:25:45

Mencari pacar yang Takut akan Tuhan

0 Answer


chintya agustin sulistiani 15 December 2018 - 12:51:18
Tolong bantu doa saya. Saya mau ikut Yesus, tapi k... more..

chintya agustin sulistiani 11 December 2018 - 05:02:40
I am a Muslim, butI believe this December I will s... more..

sea_regardz 8 December 2018 - 13:19:50
Ada teman sekerja, perempuan, punya anak hanya 1, ... more..

Lina 2 December 2018 - 15:32:08
Bantu saya Dan doakan saya selalu kuat di dalam Tu... more..

Banner Mitra Week  3


7227

advertise with us