Jadi Saksi Perang Dan Penjajahan, Ini Sejarah GPIB Malang Yang Jadi Warisan Cagar Budaya

Jadi Saksi Perang Dan Penjajahan, Ini Sejarah GPIB Malang Yang Jadi Warisan Cagar Budaya

Inta Official Writer
1665

Peninggalan masa kolonial biasanya meninggalkan arsitektur bangunan yang menawan. Paduan dari tembok yang kokoh, bentuk bangunan yang sangat khas merupakan salah satu ciri dari bangunan pada masa kolonial.

Salah satu bangunan peninggalan masa itu adalah Gereja Protestan Indonesia bagian Barat (GPIB) Immanuel Malang. Bangunan ini bahkan sudah menjadi sebuah warisan cagar budaya Kota Malang yang sudah berdiri 157 tahun dan sudah menjadi saksi bisu sejarah di Kota Malang.

Berlokasi di kawasan Alun-alun Malang, Keluarahan Kauman, Kecamatan Klojen, Kota Malang, gedung ini sudah menjadi tempat beribadah orang-orang Belanda dan sempat dijadikan tempat logistik penjajah Jepang.

Gereja ini dijadikan gudang sebagai tempat penyimpanan beras pada zaman itu. Atas dasar nilai-nilai historis inilah Pemkot Malang akhirnya menjadikan GPIB Immanuel diusulkan menjadi salah satu warisan cagar budaya.

Sejarah gereja

Sejarah mencatat kalau saat pecahnya Perang Dunia II, gedung GPIB ini beralih fungsi jadi tempat perkumpulan kerohanian Kristen. Begitu pula saat masa pendudukan Jepang, banyak jemaat gereja yang merupakan orang-orang Belanda melarikan diri dan kemudian GPIB diambil kuasa oleh orang-orang Kepang. Hal ini dijelaskan oleh sekretaris Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Malang, Agung H Buana.

Kemudian, tepat pada tanggal 3 Desember 1948, kepemilikan gereja yang saat itu merupakan hak jemaat Belanda diserahkan kepada GPIB Jemaat Malang, termasuk di dalamnya Panti Asuhan Kristen (kini PAK Kampar).

Dilansir dari Malang Post, Keputusan itu berdasarkan Staatsblad Indonesia tahun 1948 No.305 tanggal 3 Desember 1948 tentang penetapan GPIB sebagai gereja berdiri sendiri dan sebagai badan hukum.

“Gereja Immanuel didirikan sejak 31 Oktober 1861 dan masih berdidi kokoh sampai saat ini. Bangunan gereja ini juga tidak mengalami perubahan bentuk dalam struktur bangunan dan tetap mempertahankan keaslian bentuk bangunan,” terang Agung.

Selain bangunan gedung yang menarik, dalam gereja juga terdapat dua Alkitab yang sudah berusia ratusan tahun yang masih terjaga rapi dalam lemari gereja. Dua Alkitab tersebut dicetak pada tahun 1618 dan keduanya berada dalam posisi yang utuh.

Gereja ini sempat dibongkar pada tahun 1912 karena bentuknya yang masih sangat sederhana dan dibangun kembali dengan tema gereja gothic.

 

 

Sumber : malang post
Halaman :
1

Ikuti Kami