Kisah Tragis Tiga Anak Korban Serangan Bom Gereja Surabaya, Dua Diantaranya Kakak Adik

Kisah Tragis Tiga Anak Korban Serangan Bom Gereja Surabaya, Dua Diantaranya Kakak Adik

Lori Official Writer
4508

Kapolri Jenderal Tito Karnavian menyampaikan bahwa pelaku serangan bom bunuh diri kelompok JAD di tiga gereja Surabaya melibatkan perempuan dan anak-anak. Dia menilai ini adalah pola aksi baru yang dilakukan pelaku teroris dan diyakini baru pertama kali dilakukan di Indonesia.

“Pelibatan anak-anak baru pertama di Indonesia. Memprihatinkan,” kata Tito, Senin (14/5).

Tindakan melibatkan anak-anak, yang dipastikan adalah anggota keluarga pelaku sendiri ini bahkan dikutuk keras oleh Presiden Joko Widodo. Dia menilai tindak kejahatan ini sebagai perbuatan biadab terhadap kemanusiaan karena mengorbankan anak-anak di bawah umur.

Selain melibatkan anak-anak, serangan bom bunuh diri di tiga gereja Surabaya kemarin, Minggu (13/5) juga menyebabkan jatuhnya korban di kalangan anak-anak.

Seperti dihimpun dari data pemberitaan di media, ditemukan bahwa terdapat sedikitnya tiga anak dari jemaat gereja yang jadi korban. Jumlah itu tak termasuk anak pelaku yang juga tewas.

Adapun identitas dari ketiga anak ini terdiri dari Vincensius Evans (11 tahun) dan Nathanael (8 tahun) yang merupakan korban serangan bom di Gereja Santa Maria Tak Bercela. Sedihnya, kedua anak ini diketahui kakak beradik. Saat kejadian ledakan, keduanya baru tiba di gerbang gereja bersama dengan orangtuanya. Baik Vincencius dan Nathan berjalan bergandengan dengan sang ibu Wenny. Saat sebuah motor mencoba menghadang satpam gereja di dekat gerbang, keluarga ini diketahui tak jauh dari lokasi. Akibatnya, serpihan ledakan bom mengenai ketiganya.

Ketiganya mengalami luka yang cukup parah akibat serpihan ledakan bom. Segera setelah dibawa ke Rumah Sakit Bedah Surabaya nyawa Vincencius tak lagi tertolong. Sementara adiknya Nathanael masih bisa bertahan dan harus menjalani otopsi di bagian kaki. Sayangnya, Nathan tak lagi mampu bertahan akibat komplikasi luka yang dialaminya dan menghembuskan napas terakhirnya pada Minggu (13/5) malam kemarin.


  Keterangan: Nathan bersama sang ibu Wenny

Wenny dan suaminya dikabarkan masih terguncang dengan peristiwa yang mereka alami. Wenny yang juga mengalami luka-luka masih dalam proses perawatan medis.

Sementara anak lainnya yang juga jadi korban dari serangan bom di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS). Seorang jemaat gereja mengaku menyelamatkan anak yang belum diketahui identitasnya itu. “Saya turun dan menuju keluar gereja. Saya kemudian menolong anak kecil yang terluka karena ia tampak sendiri,” ucap saksi mata.

Dari kondisinya anak tersebut dikabarkan mengalami luka di bagian pelipis. “Saya lalu bawa ke poliklinik di dekat sini dan setelah bertemu orangtuanya, saya serahkan ke mereka,” ucapnya.

Tentu saja kita sangat menyayangkan bahwa serangan bom bunuh diri di tiga gereja ini menjatuhkan korban dari kalangan anak-anak. Lewat serangan ini semoga gereja diingatkan untuk selalu waspada dan meningkatkan penjagaan di setiap proses ibadahnya. Mari juga berdoa supaya para pelaku yang menggunakan motif bunuh diri ini segera diberantas supaya tak lagi menjatuhkan korban dari kalangan anak-anak.

Sumber : Berbagai Sumber/Jawaban.com

Ikuti Kami