Silahkan login terlebih dahulu sebelum
memasukkan pertanyaan Anda.

Register Login

lori_mora

Official Writer
848


Mengasuh anak menjadi pribadi yang dikehendaki Tuhan adalah tanggung jawab orangtua. Mereka harus memastikan anak-anaknya hidup sesuai dengan firman Tuhan. Tak mudah untuk membawa anak pada apa yang sebenarnya baik bagi mereka karena biasanya anak, khususnya yang mulai beranjak remaja dan dewasa cenderung akan mengikuti pikiran dan keinginannya sendiri.

Padahal, jika saja anak tahu bahwa semua orangtua pasti ingin anak-anaknya hidup di track yang benar. Bukan berarti ketika mereka duhukum setelah melanggar kesepakatan, maka orangtua itu kejam dan tak mengasihi anaknya. Sebaliknya, Tuhan sendiri bahkan menganjurkan supaya orangtua perlu mendisiplinkan anaknya.

Hal ini disampaikan dalam Amsal 23: 13-14, Jangan menolak didikan dari anakmu ia tidak akan mati kalau engkau memukulnya dengan rotan. Engkau memukulnya dengan rotan, tetapi engkau menyelamatkan nyawanya dari dunia orang mati.”

Kasih sayang orangtua dan pendisiplinan yang dilakukan terhadap anak itu akan selalu berjalan beriringan. Dan kita hanya perlu belajar dari firman Tuhan tentang cara untuk melakukannya dengan benar.

Baca Juga : Apakah Hukuman Bagian dari Disiplin?

Misalnya, waktu orangtua menyuruh anakmu untuk membereskan kamarnya berulang kali. Tapi dia tetap saja mengabaikan perintahmu kemudian orangtua mulai geram dan naik pitam. Tanpa mampu menahan emosi, orangtua lalu mulai memerintah dengan suara keras. Perasaan marah orangtua kepada anak tentu saja tidak mengurangi rasa kasih sayang yang dimiliki orangtua. Tapi orangtua melakukannya supaya anak tahu bahwa mengabaikan perintah orangtua adalah tindakan yang tidak baik.

Proses pendisiplinan itu tentu saja sangat alkitabiah. Karena seorang anak juga perlu mengerti bahwa ada konsekuensi yang akan mereka terima jika melanggar aturan. Proses disiplin yang dilakukan orangtua kepada anak diharapkan akan menjadi proses pembelajaran yang berharga bagi anak dengan tujuan supaya mereka tak lagi mengulangi kesalahannya.

Cara orangtua mendisiplinkan anak tanpa mengurangi kasih sayangnya

Sama seperti Yesus, Dia menawarkan kasih karunia dan memberikan semua orang kehendak bebas. Disiplin pun demikian. Orangtua mengasihi anak tapi mereka juga harus menyadari bahwa proses disiplin pun perlu diterapkan kepada anak. Kita bisa menyaksikan bagaimana Yesus sudah menawarkan kasih karunia, tapi bukan berarti hal itu akan melepaskan kita dari risiko atas tindakan kita yang buruk.

Alkitab berisi tentang kebenaran bahwa Tuhan juga memakai rasa sakit dalam hidup kita untuk membangun karakter kita dan menguatkan iman kita (Ibrani 12: 6-7 & Amsal 3: 11-12). Mendisiplinkan anak tak pernah dipandang negatif dalam Alkitab. Karena disiplin bertujuan untuk memperkuat dan membangun hubungan serta kasih sayang. Saat sebuah hubungan sudah dipulihkan melalui pertobatan dan pengampunan, disiplin pasti akan bisa diterima sebagai proses pendewasaan yang baik.

Baca Juga : Ini Dia Cara Seru dan Kreatif Disiplinkan Anak Anda

Kekeliruan soal mendisiplinkan anak

Sayangnya, terlalu banyak orangtua yang tak tega mendisiplinkan anak-anak mereka. Orangtua enggan menghajar anak meski sudah melakukan kesalahan fatal. Akibatnya, banyak orangtua yang mulai frustrasi dan marah karena anak-anaknya sudah mulai bertindak keterlaluan. Rasa marah inilah yang membuat mereka akhirnya terpaksa menghukum anak tidak dalam bentuk kasih. Anak-anak pun kemudian merasa bahwa dia diperlakukan tanpa kasih. Mereka merasa sebagai korban kemarahan saja.

Ingatlah sekali orangtua menorehkan luka di hati anak, maka anak akan sulit untuk mengampuni orangtuanya. Anak tidak akan mudah membuka diri lagu kepada orangtuanya. Karena itulah penting sekali memahami konsep pendisiplinan sebagaimana disampaikan dalam firman Tuhan, bahwa mendisiplinkan anak harus dilakukan dengan kasih sayang dan bukan dengan kebencian atau rasa marah yang menjadi-jadi.

Bangun hubungan dengan anak untuk menunjukkan betapa mereka dikasihi

Bahkan jika orangtua hanya punya waktu 5 menit saja, maka pakailah hal itu untuk bercakap-cakap dengan anak entah itu di meja makan atau di mobil. Carilah saat-saat singkat untuk membangun percakapan dengan anak. Berikut beberapa pertanyaan yang bisa orangtua ajukan kepada anak sebagai pembuka percakapan.

- Bagaimana harimu, nak?

- Apa hal baik yang hari ini kamu lakukan?

- Apa kamu merasa bahagia?

- Apa kamu keberatan saat orangtua harus mendisiplinkanmu dengan beragam aturan yang ada?

- Apa yang bisa kami lakukan untukmu?

Dengan mengajukan pertanyaa-pertanyaan sederhana, anak diharap mau terbuka dan menyadari bahwa mereka punya orangtua yang penuh kasih. Sekalipun cukup ketat dalam hal disiplin, tapi anak bisa menyadari bahwa hal itu dilakukan untuk tujuan kebaikan.

Sumber : Lifeway.com/Jawaban.com

Share this article :

Setiap Persoalan selalu ada Harapan dan Jawaban. Hubungi kami sekarang !

Fred D Hunter Nainggolan 18 July 2018 - 09:43:25

Mengapa perbuatan yang salah itu tidak selalu bena.. more..

2 Answer

Wuritimur Febby 15 July 2018 - 19:49:36

Bekerja mengikuti mut

0 Answer

Nocalia Anggun Utami 14 July 2018 - 16:33:26

Bagaimana bebas dari hutang

1 Answer


Junedi fajri 18 July 2018 - 00:35:51
Saya minta didoakan agar bisa terlepas dari pengar... more..

Christa Tita 6 July 2018 - 00:22:37
Mohon dukungan doanya, saya sedang bergumul dalam ... more..

Dina Mariani 30 June 2018 - 10:27:48
Syalom... Saya mohon dukungan doa dari saudara/i y... more..

MyAryaputra 12 June 2018 - 16:39:42
Mohon dukungan doa untuk pendanaan pembelian tanah... more..

Banner Mitra Week  3


7187

advertise with us