Ini Dia Cara Membantu Anak Untuk Belajar Dari Kesalahan

Ini Dia Cara Membantu Anak Untuk Belajar Dari Kesalahan

Inta Official Writer
1608

Sebagai orang tua, salah satu ketakutan terbesar kita adalah kalau kita akan melakukan kesalahan yang berdampak buruk dalam kehidupan anak kita. Misalnya saja ketika anak kita berusia tiga tahun, kita pasti berpikir apakah kita terlalu keras atau tidak cukup keras dalam mendidik anak. Lantas, bagaimana caranya kita mendidik anak berusia balita agar mereka dapat mengerti bahwa dirinya telah melakukan kesalahan tanpa membuatnya kehilangan rasa percaya dirinya? 

Menegur dengan tepat 

Jika terus menerus berada dalam ketakutan, maka kita tidak akan terus berusaha untuk menjadi orang tua yang lebih baik lagi. Salah satu hal yang paling menjadi renungan adalah bagaimana kita dapat memotivasi dan mendisiplinkan anak kita. Kita ingin mereka melakukan semua yang baik dan tahu mana yang benar dan salah, namun kita juga ingin mereka untuk memutuskan keputusan tersebut tanpa perlu kita dikte terus menerus. 

Satu kesalahan bisa membuat anak tidak percayai kita sebagai orang tua, lho

Sebuah penelitian menjelaskan bahwa anak yang didik dengan keras oleh orang tuanya, baik hukuman secara fisik, membentak, atau kekerasan dalam bentuk verbal lainnya akan tumbuh sebagai pribadi yang lebih menghargai pendapat teman-temannya dibanding orang tuanya. Kemudian hal ini dapat membuat anak tumbuh menjadi pribadi yang buruk, bahkan seringkali sampai dikeluarkan dari sekolah. 

Salah seorang peneliti mengemukakan bahwa jika kita memiliki pola asuh anak seperti ini, maka kita akan terbiasa dengan kondisi yang tidak dikasihi, dan merasa bahwa keberadaan kita telah ditolak oleh orang tua, jadi akan menjadi sangat masuk akan jika kita mencoba dan mencari orang lain yang dapat menerima kita, seperti rekan sebayanya." 

Tentu saja kita tidak ingin membesarkan anak yang merupakan anugerah dari Tuhan seperti itu. Namun, jika kita menciptakan sebuah lingkungan dimana selalu membenarkan setiap perlakukan anak, sama saja kita tidak mempersiapkan anak kita untuk menghadapi dunia yang sesungguhnya. 

Baca juga: Yang No 2 Ini Berasa Sakit Kalau Kamu Alami, Apalagi Anakmu! Mereka Bisa Jadi Minder Loh

Cara menegur yang baik 

Salah satu cara agar menghindari kedua kemungkinan yang ada di atas adalah dengan menghargai setiap proses. Misalnya, ketika anak kita menggambar di karpet dan membuat karpet kita kotor berantakan. 

Hal yang terpenting adalah untuk memastikan bahwa anak kita tahu mengapa dia tidak boleh menggambar di atas karpet. Jika kondisi ini telah terjadi berulang-ulang kali, kita bisa mengambil pensil warna atau alat yang ia pakai untuk menggambar sebagai hukumannya. 

Kita juga harus bisa mendorong anak kita ketika mereka telah mencoba untuk melakukan apa yang benar. Contoh lainnya adalah ketika dirinya sedang belajar untuk membereskan mainan yang telah ia pakai. Walaupun belum begitu benar, kita tetap harus mengatakan kepada mereka bahwa apa yang mereka lakukan adalah baik. 

Mendidik anak sama seperti apa yang Tuhan contohkan 

Kunci dalam mendidik anak adalah kesalahan atau kekurangan yang mereka lakukan adalah bekal mereka untuk tumbuh menjadi pribadi yang lebih mandiri. Sama seperti Bapa di Surga dalam mendidik kita sebagai anak-Nya, dalam Wahyu 3:19 "Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah!" 

Namun, pada waktu yang sama, ia juga bersedia untuk mengampuni kita yang telah menyadari kesalahan dan membantu kita agar bisa tumbuh dalam kehendak-Nya. Coba kembali pikirkan bagaimana Yesus mendatangi Simon Petrus setelah ia menyangkal untuk percaya bahwa Yesus telah bangkit. Yesus yang telah bangkit mendatangi Petrus dan memberitahu kesalahannya, namun pada waktu yang sama ia juga memberikan pelajaran kepada Petrus untuk melakukan kehendak-Nya lebih baik lagi (Yohanes 21:15-19).


Sumber : christianparenting
Halaman :
1

Ikuti Kami