Karena Ucapan Donald Trump, Warga Palestina Mengaku Siap Berkorban Demi Yerusalem

Karena Ucapan Donald Trump, Warga Palestina Mengaku Siap Berkorban Demi Yerusalem

Lori Official Writer
2935

Pasca pengakuan Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahwa Yerusalem adalah ibu kota Israel, kemarahan warga Palestina pun memuncak. Ratusan orang turun ke jalanan dan mengepung kota suci Betlehem pada Kamis, 7 Desember 2017 kemarin.

Lantaran melakukan aksi perlawanan, pasukan militer Israel yang berjaga di sekitar wilayah itu terpaksa menembakkan gas air mata dan peluru karet ke arah demonstran. Akibatnya, tujuh pemuda luka-luka, termasuk satu anak-anak.

Sebagaimana diketahui, demonstrasi besar-besaran melibatkan pria, wanita dan anak-anak yang berasal dari Tepi Barat, Jalur Gaza dan Yerusalem Timur serta kota-kota besar di Palestina.

Rabee Alsos (33), salah satu dari demonstran mengaku belum pernah menyaksikan demonstrasi besar semacam ini. “Saya melihat orang-orang tak pernah melakukan demonstrasi semacam ini. Yerusalem dan al—Aqsa sangat berarti bagi semua orang di sini, bahkan anak-anak, keputusan (AS) ini adalah sebuah kesalahan besar,” ucap Rabee, seperti dikutip dari media Aljazeera.com.


Demonstran lain, Ramzi mengatakan kalau warga Palestina begitu menginginkan Yerusalem dan meminta Trump untuk secara resmi meminta maaf kepada Palestina.

“Amerika bias dalam mendukung pendudukan (Israel). Tapi kami siap mengorbankan diri untuk Yerusalem. Saya siap untuk tidur di gang-gang Yerusalem sampai kota ini dibebaskan,” ucap Ramzi.

Sekalipun keinginan warga Palestina untuk mempertahankan Yerusalem begitu besar. Namun, mereka tetap memiliki keterbatasan untuk bertindak. Pasalnya, mereka sama sekali tak memiliki senjata atau alat yang canggih untuk melawan pasukan militer Israel selain hanya bisa melempari batu lewat tembok perbatasan ke Israel.

“Kami tahu melempari batu-batu ini saja tak akan berdampak, tapi ini adalah simbol penolakan kami terhadap keputusan Trump,” terang demonstran lain bernama Jihad.

Seperti diketahui, sampai saat ini Israel memengang kendali keamanan yang ketat atas akses menuju Yerusalem. Karena itulah warga Palestina dari Tepi Barat dan Jalur Gaza yang memasuki Yerusalem harus lebih dulu meminta ijin khusus dari pemerintah Israel.

Sekalipun Palestina menginginkan Yerusalem Timur sebagai ibu kota negaranya. Namun, persengketaan atas wilayah ini dengan Israel membuat keinginan itu seakan mustahil.

Untuk itu, mari terus mendukung akan terjadinya perdamaian di Yerusalem. Terkhusus saat kita tengah memasuki bulan Natal supaya Tuhan benar-benar melawat Israel dan Palestina serta setiap bangsa di berbagai belahan dunia supaya mengalami perdamaian yang daripada-Nya.

Sumber : Aljazeera.com/Jawaban.com

Ikuti Kami