Silahkan login terlebih dahulu sebelum
memasukkan pertanyaan Anda.

Register Login

Inta Destria

Official Writer
1564


Paus Fransiskus tengah berada di Myanmar. Pemimpin umat Katolik Roma tersebut sudah menyambangi Negeri 1000 Pagoda sejak 27 November lalu.

Tujuan Paus Fransiskus berkunjung ke negara yang berada di tengah krisis tersebut adalah untuk mendorong para pemimpin negara untuk menegakkan keadilan, hak asasi manusia dan penghormatan terhadap setiap kelompok etnis.

Seperti yang kita tahu, sejak agustus lalu, telah terjadi krisis hingga membuat PBB menuding pemerintah Myanmar melakukan pembersihan etnis Rohingya. Karenanya, di tengah krisis yang terjadi di negara tersebut, menyebutkan kata Rohingya dapat memicu kemarahan umat mayoritas di Myanmar. 

Meski begitu, sebelumnya Paus sempat melontarkan kalimat "penganiayaan terhadap saudara-saudara Rohingya kita," yang menurutnya "disiksa dan dibunuh, hanya karena mereka menjunjung tinggi kepercayaan mereka." 

Karena penuh resiko, penasihat dari Paus sendiri merekomendasikan agar Paus menghindari istilah "Rohingya" selama di Myanmar. Sebab jika tidak, kaum mayoritas di sana justru akan menyerang umat Kristen yang juga merupakan minoritas di Myanmar. 

"Proses sulit untuk menciptakan perdamaian dan rekonsiliasi nasional hanya bisa maju lewat komitmen untuk keadilan dan respek akan hak-hak asasi manusia," ujar Paus Fransiskus dalam pidatonya usai pertemuannya dengan pemimpin sipil Myanmar, Aung San Suu Kyi, hari selasa kemarin, dilansir oleh detiknews.  

Baca juga: Melek Teknologi Informasi, Gereja Katolik Didorong Tuk Manfaatkan Sosmed & Gaet Kemkominfo

"Perbedaan agama tidak perlu menjadi sumber perpecahan dan ketidakpercayaan, namun harusnya menjadi kekuatan untuk persatuan, pengampunan, toleransi dan pembentukan bangsa yang bijak," imbuh Paus Fransiskus menghindari kata Rohingya yang sebelumnya telah ia ucapkan pada beberapa kesempatan ketika ditanyai mengenai kasus yang terjadi di Myanmar.

Ada banyak orang yang mempertanyakan akankah Paus Fransiskus menyelamatkan Rohingya tanpa menimbulkan bahaya bagi Kristen. Sebab, Kristen di negara Myanmar hanya sebanyak 6,2%. "Sejujurnya, jika kamu adalah seorang kristen di negara ini, maka kamu tidak akan bisa naik pangkat," ungkap Mariano Soe Naing, selaku pembicara yang mengiringi Paus Fransiskus. "Tidak ada satupun umat kristen yang menduduki kursi pemerintahan atau pemimpin tertentu," tutupnya. 

Rencananya, Paus Fransiskus mengakhiri kunjungan dinasnya di Myanmar pada 30 November besok. Setelah Myanmar, sang Paus akan langsung mengunjungi Bangladesh. 

Baca juga: Rayakan Pernikahan yang ke 70 Tahun, Lonceng Gereja Berbunyi 5.070 Kali Untuk Ratu Inggris



Sumber : berbagai sumber

Share this article :

Setiap Persoalan selalu ada Harapan dan Jawaban. Hubungi kami sekarang !

Tomy Cimot 16 December 2017 - 21:44:40

paus

0 Answer

Muhammad Ammar 16 December 2017 - 11:46:15

Hasil pembongkaran protein di hati yang selalu di .. more..

0 Answer

???? ???? 15 December 2017 - 23:30:36

gimana cara kurangi like

0 Answer


Emille Paulus Lumena 16 December 2017 - 09:08:00
Ya Tuhan Yesus Kristus Tuhan dan Raja diatas segal... more..

Melva Sinurat 15 December 2017 - 18:33:02
Min aku mohon bantuan untuk mendoakan saya supaya ... more..

Fian Oh 15 December 2017 - 14:27:28
Saya seorang pecandu narkoba, dan saat ini hidup s... more..

Siska Agustina Parhusip 14 December 2017 - 09:40:49
Saya minta bantuan doa teman2 semua untuk mendoaka... more..

Banner Mitra Week 2


7335

advertise with us