Tolak Pernikahan Sesama Jenis, Petenis Legendaris Australia Ini Malah Dikeluarkan dari Klub Tenisnya

Tolak Pernikahan Sesama Jenis, Petenis Legendaris Australia Ini Malah Dikeluarkan dari Klub Tenisnya

Lori Contributor
2693

Petenis legendaris Kristen Australia Kristen, Margaret Court (75 tahun) harus menerima perlakuan tak adil dari klub tenis lokalnya di Australia.

Court, yang memilih jadi pendeta gereja Pentakosta sejak memutuskan pesiun dari tenis, secara sepihak dikeluarkan dari keanggotaan di Cottesloe Tennis Club. Hal ini diyakini terjadi karena Court dengan lantang menentang keras pernikahan sesama jenis yang belakangan ini banyak diperbincangkan di negaranya.

Dalam sebuah jajak pendapat nasional seputar pro kontra pernikahan sesama jenis ini, Court menyampaikan pandangan Kristennya. “Saya pikir pernikahan sesama jenis ini menyedihkan. Anda tidak punya kebebasan berbicara hari ini untuk benar-benar membela diri. Ini adalah hari menyedihkan bagi negara kita,” ucapnya, seperti dilansir Christiantoday.com.

Ian Hutton, pemimpin Cottesloe Tennis Club, menyampaikan bahwa pemutusan keanggotaan Court adalah berdasarkan pertimbangan atas daftar kehadirannya dalam berbagai acara klub. Tapi dia juga tak membantah kalau kemunculan Court di jajak pendapat itu juga mempengaruhi keputusan tersebut.

Senada dengan itu, Michael Roberts, seorang kepala pelaksana Tennis West, mengatakan bahwa pendapat seseorang baik yang bersifat mendukung atau menentang sesuatu sangat berdampak pada cara pandang masyarakat terhadapnya.

“Jelas, pendapatnya telah memainkan peran di dalamnya, tak diragukan lagi. Cottesloe Tennis Club, apakah mereka bermaksud atau tidak, sudah membuat keputusan berdasarkan pandangan sosial,” ucap Roberts.

Menjelang pemungutan suara terkait pernikahan sesama jenis di Australia pada 25 November 2017 mendatang, Court dengan terang menyampaikan bahwa orang-orang yang kontra dengan praktik menyimpang itu hanya akan mendapatkan perlawanan dari pihak yang pro. Jumlah pasangan sesama jenis di Australia yang sudah mencapai 36.000 dari total populasi sebesar 25 juta. Mereka bahkan sudah punya serikat sipil sebagai tempat bernaung mereka.

Namun Court berpendapat bahwa melegalkan pernikahan sesama jenis hanya akan menghancurkan makna pernikahan itu sendiri. “Mereka menginginkan pernikahan karena mereka ingin menghancurkannya,” tegas Court.

Keteguhan Court menentang praktik yang bertentangan dengan kebenaran firman Tuhan ini pun didukung oleh penginjil kenamaan Franklin Graham. Pada bulan Juni 2017 lalu, dia menuliskan dalam media sosial Facebooknya terkait dukungan kepada Margaret Court. “Margaret tentu saja sangat benar waktu dia mengatakan, “Tidak ada jumlah legislasi atau nilai-nilai politik yang bisa mengambil alih hati manusia atas pengetahuan bahwa pada awalnya Tuhan menciptakan mereka laki-laki dan perempuan dan masing-masing memiliki fungsi seksual yang unik untuk melahirkan kehidupan baru.” Dosa adalah pilihan, tapi Firman Tuhan adalah kebenaran dan tak akan pernah berubah,” tulis Graham.

Sebagai petenis legendaris, Margaret Court adalah sosok yang diperhitungkan di Australia. Prestasinya dalam dunia tenis sudah tercatat dalam sejarah olahraga Australia. Dia pernah meraih sebanyak 64 gelar Grand Slam, yaitu 24 pertandingan tunggal, 19 ganda, dan 21 ganda campuran sejak tahun 1970. Ini adalah rekor yang masih belum bisa diimbangi oleh petenis manapun.

Tapi setelah memutuskan pensiun dari tenis, Court memilih terjun sebagai pengkhotbah. Pandangan kekristenannya dipengaruhi oleh pengkhotbah kenamaan Amerika Serikat (AS) Fred Price. Setelah lulus dari Kampus Alkitab, Court akhirnya mendirinya Victory Life Center di Australi dan menjadi pemimpin di sana membawa gereja tersebut berdiri sebagai gereja untuk menginspirasi orang-orang lewat Firman Tuhan.

Sumber : CT/Jawaban.com

Ikuti Kami