Pendeta Ini Akui Gereja di Indonesia Belum Sepenuhnya Menjawab Kebutuhan Anak-anak

Nasional / 31 July 2017

Kalangan Sendiri

Pendeta Ini Akui Gereja di Indonesia Belum Sepenuhnya Menjawab Kebutuhan Anak-anak

Budhi Marpaung Official Writer
2875

Masih dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional yang jatuh pada 23 Juli lalu, Jawaban.Com berkesempatan mewawancarai pengurus pusat Departemen Pemuda dan Anak Sinode Gereja Bethel Indonesia, Pendeta Timotius Tan, M.A, Rabu (26/7). Salah satu hal menarik bahwa Pendeta Timotius Tan, M.A mengakui bahwa gereja-gereja belum sepenuhnya menjawab kebutuhan dari anak-anak. Hal ini bisa terjadi karena kompetensi dari guru-guru sekolah minggu yang ada masih kurang.

Untuk lingkup GBI sendiri, pihaknya sudah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan kualitas guru sekolah minggu, salah satunya adalah dengan memunculkan program Be Kids.

Berikut adalah transkip wawancara lengkap Jawaban.Com dengan Pendeta Timotius Tan, M.A.  

 

Apakah gereja sudah menjadi tempat yang aman bagi anak-anak?

Saat ini sesungguhnya gereja sudah menjadi tempat yang aman bagi anak-anak, ya pak ya, menurut saya sih sudah pak karena di gereja itulah anak-anak bisa sukacita, belajar Firman Tuhan, bisa menyanyi memuji Tuhan, mereka bisa mengembangkan bakat dan talenta mereka. Sebetulnya gereja cocok dan paling aman untuk anak-anak.

Apakah gereja sudah menjawab kebutuhan anak-anak yang dilayani?

Kalau masalah menjawab kebutuhan anak-anak, inilah yang memang perlu ditingkatkan oleh gereja ya pak ya. Perlu lebih ditingkatkan perhatian dari para gembala sidang, hamba-hamba Tuhan untuk pelayanan anak-anak. Bukan berarti bapak gembala selama ini tidak memperhatikan, hanya saja memang tentu banyak kesibukan dari gereja, para gembala, banyak sekali urusannya pak ya dan seringkali ini didelegasikan kepada guru-guru sekolah minggu. Nah, saya berharap sih sebetulnya para pemimpin gereja dan gembala-gembala perlu lebih banyak mem-back up guru-guru sekolah minggu dalam pelayanan mereka, perlu lebih banyak mementor karena kan tentu guru-guru sekolah menghadapi lebih banyak tantangan, banyak kendala dalam melayani anak-anak. Nah itu perlu diberikan solusinya.

Menurut pengamatan bapak, apa sebenarnya kelemahan dari guru-guru sekolah minggu di dalam melayani anak-anak sampai hari ini? 

“Begini pak, guru-guru sekolah minggu ini kan memang beragam, ada yang memang punya pengalaman banyak, tetapi tidak sedikit juga yang masih baru melayani, mereka yang masih kuliah sudah ikut jadi guru sekolah minggu atau baru lulus kuliah sudah jadi guru sekolah minggu. Nah, ini kan mereka kurang pengalaman ya pak, perlu dibimbing, perlu dibina bagaimana mengajar anak-anak. Bahkan banyak dari guru-guru sekolah minggu itu belum punya anak pak karena kalau mereka punya anak ini, justru mereka sibuk, mundur dari sekolah minggu karena sibuk mengurus anak-anak. Nah, mereka yang masih kuliah, masih kerja, nah ini kan umumnya jadi guru sekolah minggu, sedangkan mereka sendiri belum punya anak.

Bukankah ada guru sekolah minggu yang lebih senior yang bisa melatih guru-guru sekolah minggu yang lebih muda?

“Betul, betul cuma kan banyak guru sekolah minggu yang bukan berlatar belakang teologia pak. Mereka juga adalah para volunteer yang punya hati buat anak-anak tetapi tidak punya background teologia dan ini kan harus diperlengkapi oleh para pemimpin gereja dan gembala-gembala pak. Karena yang senior pun belum tentu sudah cakap dalam, yang pertama dalam dia sendiri menggali firman untuk anak-anak, dalam dia sendiri menyampaikan firman buat anak-anak.”

Mengingat ini sepertinya masalah yang sudah bertahun-tahun, bukankah seharusnya gereja atau pemimpin di gereja berinisiatif melakukan peningkatan kualitas guru-guru sekolah minggu?

“Nah gini pak, memang kan perlu kita sadari belum tentu pemimpin atau gembala di gereja lokal itu sendiri bisa memperlengkapi para guru sekolah minggu. Belum tentu semua mengerti tentang tantangan dan keadaan guru sekolah minggu, psikologi anak. Nah, inilah kami dari DPA GBI, berusaha membantu para gembala dalam memberikan bimbingan bagi guru-guru sekolah minggu. Jadi, kami punya kegiatan atau program itu namanya Be Kids. Be Kids bertujuan untuk memperlengkapi guru-guru sekolah minggu dalam pelayanan.”

Beberapa waktu lalu, ada kasus di Siak, Riau dimana seorang pendeta dilaporkan oleh orangtua karena diketahui telah melakukan pelecehan seksual kepada anaknya yang masih tergolong di bawah umur, bagaimana bapak menanggapi hal ini?

Memang terus terang kondisi manusia di akhir zaman ini kan sudah dinubuatkan di Alkitab ya pak di 2 Timotius 3 ayat 1 sampai 5. Yang pasti dunia ini bertambah jahat. Nah di sinilah kita, terutama orangtua dan para pemimpin gereja harus menjaga anak kita dari pengaruh dunia yang semakin buruk ini. Ini memang tanggungjawab kita untuk menghadapi dunia yang semakin jahat.

Kalau dari sinode gereja, itu pasti dipecat langsung. Kalau pelecehan itu terbukti, langsung dipecat. Itu sesuai tata gereja masing-masing, itu pasti ada sanksinya ya pak, gak mungkin ngga.

Selain sanksi hukum, apakah perlu sanksi khusus yang seharusnya diberikan otoritas gereja, sinode gereja kepada pendeta atau aktivitas gereja yang terbukti melakukan pelecehan seksual?

Memang harus dikasih sanksi, tetapi tetap harus dilakukan pembinaan buat orang yang melakukan itu. kalau itu pejabat gereja, harus dilakukan pembinaan, namun tetap sanksi harus dijalankan ya pak. Harus tegas karena itu bisa jadi contoh yang buruk kalau tidak dijatuhkan sanksi atas perbuatannya toh?

Untuk anak yang menjadi korban pelecehan dan juga keluarga, apa yang seharusnya gereja lakukan?

Terus terang untuk melayani hal ini tentu gak bisa semua terlibat ya pak, hanya orang-orang yang punya passion khusus aja dan mereka bidangnya pak untuk memulihkan keadaan dari sang anak.

Belum lama ini ada gerakan, gereja ramah anak. Ini ada satu gerakan baru, kalau tidak salah itu WVI yang handle. kita pernah ngadain seminar gereja ramah anak. Jadi ini kita harapkan ada orang yang terbeban untuk menangani anak-anak yang berkebutuhan khusus seperti ini.

Terakhir pak, apakah bapak yakin gereja bisa menjadi rumah yang aman bagi anak-anak?

Harus pak, harus. Gereja harus menjadi rumah yang aman bagi anak-anak karena kalau gereja tidak bisa menjadi rumah yang aman bagi anak-anak, kalau ngga nanti dunia yang menggarap mereka toh.

Sumber : Wawancara Pendeta Timotius Tan / Jawaban.Com
Halaman :
1

Ikuti Kami