Lori Mora

Official Writer
4095


Membaca Alkitab memang adalah satu kebiasaan wajib yang harus dihidupi orang-orang percaya, terutama para pendeta, penatua gereja, dan juga rohaniawan lainnya. Tapi menurut Ketua Sinode GMIT, Pdt Merry Kolimon, membaca Alkitab dan menyampaikan khotbah kepada jemaat memang penting tapi bukan berarti mereka hanya mengurusi urusan spiritual. Menurut Pdt Merry, para rohaniawan juga perlu ambil bagian dalam urusan-urusan menyangkut isu sosial, ekonomi, politik, budaya, hukum, gender dan sebagainya.

Dia meminta supaya pelayan gereja bisa peka terhadap persoalan umat dan bisa memberikan jalan keluar untuk menolong mereka dari kondisi yang sedang dihadapi. Salah satu hal yang bisa dilakukan adalah dengan ambil bagian dalam kasus kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak.

Hal ini disampaikan Pdt Merry saat dirinya hadir dalam kegiatan media trip yang digelar oleh Oxfam di kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Rabu (22/2).

Pdt. Merry meminta supaya setiap rohaniawan bisa membaca Alkitab dengan kacamata baru, yaitu kacamata keadilan dan kesetaraan gender. “Membaca alkitab dengan kacamata baru bahwa berita pembacaan alkitab tentang pembebasan keselamatan yakni saling menghargai antara perempuan dan laki-laki. Hal ini menjadi tantangan kami, bagaimana membuka ruang hermonitis, menggugat cara tafsir yang melanggengkan kekerasan terhadap perempuan dan anak,” ungkapnya, seperti dilansir Tribunnews.com.

Sebagai contoh, Pdt Merry menyampaikan soal kasus kekerasan yang dialami kaum wanita di NTT. Budaya NTT mengharuskan para istri yang menerima kekerasan dari pasangan tidak boleh melaporkan hal tersebut kepada orang lain, karena dianggap hanya merusak harga diri keluarga. Sehingga mereka hanya bisa diam meskipun sudah mendapat kekerasan secara fisik.

Namun seiring berjalannya waktu, keadilan gender di masyarakat NTT sudah mulai membaik. Salah satunya adalah ketika dirinya dipercayakan sebagai ketua sinode perempuan pertama di NTT. Kesempatan inilah yang dipakai Pdt Merry sebagai jalan untuk menerapkan kepemimpinan feminis.

“Kepemimpinan feminis adalah kepemimpinan partisipatif yang tekun memelihara komitmen untuk egaliter equaliti dalam gereja, karena itu harus bersedia terhadap outo kritik. Saya bukan malaikat, saya butuh juga kritik konstruktif dan positif bagi kemajuan kita," kata Pdt. Merry.

Dia menambahkan, kepemimpinan perempuan memang tidak menjamin terwujudnya keadilan dan kemanusiaan terhadap perempuan dan anak secara menyeluruh. Tapi gereja punya komitmen untuk memperjuangkan kesetaraan perempuan dan keadilan gender. 

Sumber : Tribunnews.com/jawaban.com


Share this article :

Setiap Persoalan selalu ada Harapan dan Jawaban. Hubungi kami sekarang !

Erik Siahaan 27 May 2020 - 08:13:10

Karena Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.".. more..

0 Answer

Margaretha Ltor 15 May 2020 - 11:07:59

Apa yg kita harus lakukan,,untuk tau ada atau tida.. more..

1 Answer

tolala 2 May 2020 - 03:25:35

Covid 19

1 Answer


IMA SAMOSIR 29 May 2020 - 14:22:54
'Terimkasih Tuhan Yesus untuk Semua yg Terjadi did... more..

Dian Parluhutan 7 May 2020 - 23:12:30
shalom Saudara-saudari yang terkasih, mohon doan... more..

anre vin 21 April 2020 - 13:19:08
Nama saya Ernawati, saya minta tolong saya jatuh d... more..

Reginald Rambing 14 April 2020 - 14:28:50
Saya minta dukungan melalui bantuan doa dari sauda... more..

Banner Mitra Juni Week 1-2


7255

Banner Mitra Juni Week 1-2