2 Pendeta Myanmar Hilang, Pemerintah Dituding Melakukan Penculikan

2 Pendeta Myanmar Hilang, Pemerintah Dituding Melakukan Penculikan

Puji Astuti Official Writer
3148

Myanmar, negara dengan penduduk mayoritas Budha tersebut mengalami peningkatan tindak kekerasan yang dianggap melanggar hak asasi manusia. Pihak militer Myanmar dituding oleh Amnesty International telah menculik dua orang pendeta Baptis. 

Di bulan November 2016 lalu, dua orang pendeta dari Kachin Babtist Convention, yaitu Langjaw Gam Seng dan Dumdaw Nawng Lat dilaporkan setuju untuk menunjukkan tempat dan juga foto reruntuhan gereja Katolik. Gedung gereja itu hancur saat terjadi gesekan antara pihak militer Myanmar dengan Brotherhood of the Nothern Alliance, sebuah kelompok etnis pemberontak. Beberapa minggu kemudian, militet Burma memanggil tentara dari basis militer di wilayah utara Shan, daerah kantong kelompok gerilya pemberontak. 

Kedua pendeta itu hilang sesudah pertemuan itu, dan menurut Amnesty International, mereka, "mungkin ditahan oleh pemerintah Myanmar karena peran mereka dalam mengorganisir jurnalis (untuk melihat gereja itu)."

Kedua pendeta itu terakhir terlihat saat malam Natal, dan waktu dimana hilangnya kedua orang itu diklaim sebagai  bukti dan contoh penindasan terhadap kelompok agama secara terang-terangan. 

"Ada namanya fenomena yang disebut 'genjatan senjata saat Natal' dimana kedua belah pihak  yang bertikai untuk sementara secara tidak resmi menghentikan perang. Tetapi apa yang dilakukan pihak militer Burma, ini adalah cara mereka menghina dan merendahkan iman Kristen kami," demikian ungkap Rev. Hkalam Samson, ketua dari Kachin Baptist Conventiion kepada The Irawaddy. 

Walau demikian pihak militer Myanmar menyangkal tuduhan penculikan kedua pendeta tersebut, tetapi juga pihak pemerintah tidak mau merespon terhadap pertanyaan yang dilontarkan oleh kelompok pembela hak asasi manusia yang mewakili kedua pendeta tersebut. 

"Terjadinya penculikan terhadap kedua pemimpin Kristen ini telah membuat suasana takut dan teror di wilayah Utara Shan," demikian ungkap Matthew Smith, CEO dari Fortify Rights. 

Kejadian hilangnya orang seperti ini bukanlah pertama kalinya di Myanmar atau yang dulu dikenal sebagai Burma tersebut. Kelompok hak asasi manusia memiliki daftar panjang pembunuhan tanpa pengadilan terlebih dahulu, penyiksaan, pemerkosaan, kerja paksa dan banyak hal lainnya yang dilakukan oleh rezim militer yang berkuasa terhadap penduduk di wilayah Utara Shan dan Kachin. 

Kachin Baptist Convention adalah denominasi Kristen terbesar di Myanmar. Dengan penduduk 90 persen adalah penganut Budha, 10 persen sisanya mengaku beragama Kristen. Mari doakan umat Kristen Myanmar, dan juga dua pendeta yang hilang tersebut. Semoga Tuhan memberikan kekuatan bagi mereka untuk menghadapi tekanan dan penganiayaan. 

Sumber : Christianheadlines.com
Halaman :
1

Ikuti Kami