Deportasi Pengungsi Kristen, Pemerintah Jerman Berlaku Tidak Adil

Internasional / 22 January 2017

Deportasi Pengungsi Kristen, Pemerintah Jerman Berlaku Tidak Adil

Budhi Marpaung Official Writer
3264

Dr Gottfried Martens, seorang pendeta di Trinity Lutheran Church di Berlin, menyatakan pemerintah menolak hampir semua aplikasi suaka dari sebagian anggota gereja yang merupakan pengungsi Iran dan Afghanistan. Padahal, banyak dari mereka yang menunggu sampai bertahun-tahun di Jerman agar pemerintah mendengarkan kasus mereka. Namun, yang terjadi para pengungsi tersebut justru mendapatkan pemberitahuan deportasi.

Dalam surat terakhir kepada teman dan pendukung, Martens mengatakan anggota jemaat dan calon anggota yang akan dibaptis yang adalah pengungsi dari Iran dan Afganishtan tidak memiliki kesempatan untuk menunjukkan apa yang penting bagi mereka di saat pengadilan.

Martens bahkan memandang bahwa penerjemah yang dihadirkan di pengadilan keliru menerjemahkan komentar para pengungsi tentang iman mereka. Untuk diketahui, di Jerman, mengkonversi iman ke Kristen berarti pengungsi tidak akan dikirim pulang ke negara asal mereka. Dengan kata lain, peluang untuk memperoleh suasa sangat besar.

Daily Mail yang menulis tentang situasi yang ada di pengadilan, menjelaskan bahwa jika ucapan para pengungsi itu salah dikutip maka itu akan terdengar bahwa perpindahan iman mereka terjadi karena agar bisa mendapatkan suaka.

Selain mempersoalkan suaka yang ditolak, Martens mengaku prihatin dengan pelecehan terus-menerus yang dialami pengungsi Kristen asal Iran dan Afghanistan yang tinggal di tempat penampungan pengungsi. "banyak dari mereka menderita karena serangan kekerasan," ujar Martens.

Trinity Lutheran dikenal sebagai gereja yang melayani para pengungsi Iran dan Afghanistan. Pada website resmi, dituliskan bahwa Trinity Lutheran merupakan gereja aliran Luther yang jemaatnya paling berkembang pesat di Jerman.

Sumber : cbn.com
Halaman :
1

Ikuti Kami