Puasa Bukan Sekadar Ajang Demo Mogok Makan!

Puasa Bukan Sekadar Ajang Demo Mogok Makan!

Lori Official Writer
4702

Kali ini mari membahas soal makna puasa yang sejati (sesuai dengan apa yang tertulis dalam firman Tuhan). Mari membahas hal berpuasa ini dari nats Alkitab Lukas 5 ayat 33-39. Judul perikop ini berbicara soal ‘Hal Berpuasa’ dimana di dalam ayatnya dikisahkan bagaimana Yesus ditanyai oleh orang-orang Farisi soal puasa yang dijalankan oleh Yesus dan juga murid-murid-Nya (baca Lukas 5: 33).

Tapi Yesus meresponi pertanyaan orang-orang Farisi itu dengan menjawab, “Dapatkah sahabat mempelai laki-laki disuruh berpuasa, sedang mempelai itu bersama mereka? Tetapi akan datang waktunya, apabila mempelai itu diambil dari mereka, pada waktu itulah mereka akan berpuasa.” (Lukas 5 : 34-35). Kata ‘mempelai’ yang dipakai Yesus dalam perumpamaan ini adalah sesuatu yang unik. Kata ini bukan hanya dipakai oleh Yesus saja, tapi Yohanes juga menggunakan kata ‘mempelai’ saat mempersiapkan jalan bagi Yesus (Yohanes 3: 28-31).

Dalam Yohanes 3: 29, Yohanes menyebutkan bahwa, “Yang empunya mempelai perempuan, ialah mempelai laki-laki; tetapi sahabat mempelai laki-laki, yang berdiri dekat dia dan yang mendengarkannya, sangat bersukacita mendengar suara mempelai laki-laki itu. Itulah sukacitaku, dan sekarang sukacitaku itu penuh.” Yang dia maksudkan sebagai mempelai perempuan di sini adalah dia sendiri, atau jemaat’ atau kita sedang mempelai laki-laki adalah Yesus. Jadi, Yohanes secara tersirat menyampaikan bahwa dia sendiri adalah sahabat dekat Yesus. Karena itulah dia menekankan dalam ayat selanjutnya bahwa sang mempelai laki-laki yaitu Yesus sendiri harus makin besar dan dia (sebagai jemaat) semakin kecil. Dalam bahasa sehari-hari, kita bisa sederhanakan perkataan Yohanes seperti ini, ‘Biar Dia makin penting dan aku semakin nggak penting’.

Hal ini relevan dengan kita juga. Bahwa sebesar dan seluarbiasa apapun pelayanan kita, kita cuman sahabat dari mempelai laki-laki itu. Jadi jemaat itu bukan punya kita, tapi punya Kristus.

Jawaban Yesus menanggapi pertanyaan orang-orang Farisi soal hal berpuasa perlu kita pahami secara jelas. Kalau kit abaca di sepanjang Perjanjian Lama, puasa itu dilakukan saat sebuah bangsa atau umat berduka atau raja berduka. Misalnya seperti kisah Daud yang mogok makan saat tahu kalau anak yang dikandung Betsheba meninggal. Sama halnya dengan saat bangsa Israel bekabung dan tak makan saat raja Saul dan Yonathan mati. Jadi, di masa itu berpuasa melambangkan kedukaan. Karena itulah Yesus bilang ‘Bagaimana mungkin mereka berduka cita selama sang mempelai laki-laki ada di sini? Tapi suatu hari Aku akan pergi dan saat itulah mereka akan berpuasa.’  (Lukas 5: 34).

Yesus mengingatkan bahwa puasa adalah soal kedukaan. Puasa bukan hanya soal disiplin agamawi yang ibarat kayak baju tua yang ditambal dengan secarik baju yang baru. Karena pada akhirnya baju tua itu akan koyak oleh baju yang baru (Lukas 5: 36). Puasa itu adalah lambang pertobatan suatu bangsa untuk mencari kehendak Tuhan. Yang Tuhan kehendaki dari umat-Nya tentu saja belas kasihan bukan persembahan (Hosea 6 : 6).

Jadi apakah kita berpuasa untuk mencari kehendak Tuhan atau berpuasa untuk hanya semacam ‘demo mogok makan’ saja? Seperti ‘Aku nggak mau makan sampai Tuhan kasih apa yang aku mau!’ Dan sayangnya, itu bukan mencari kehendak Allah. Itu memaksakan kehendak pribadi! Jangan menjadi sama dengan pola beribadah orang-orang agamawi dimana mereka menjalankan peraturan agama hanya untuk menunjukkan citra dirinya saja. Dan kita harus melihat dengan kaca mata yang benar, Yesus mengajarkan kita bahwa puasa seharusnya menjadi proses yang membawa kita berserah kepada Tuhan dan memohon belas kasih-Nya. Itulah puasa!

Kita harus terus berdoa dan berpuasa karena kita tahu tanpa belas kasih-Nya kita nggak bisa apa-apa. Melambangkan bahwa kita berduka atas dosa, kesalahan dan kebodohan kita sembari memohon belas kasih Tuhan dan mencari kehendak-Nya dengan harapan yang besar bahwa Dia akan memberitahu apa yang harus kita lakukan. Sebagai orang percaya, itulah alasan kita berpuasa. Bukan justru menjadikannya alat untuk menyogok Tuhan untuk memberikan apapun yang kita mau. Karena itu mintalah hati yang baru supaya Tuhan melimpahkan karunia-Nya atas kita. 

Sumber : Disadur dari renungan harian Christopher Tapiheru
Halaman :
1

Ikuti Kami