Karena Penyakit Langka, Guru Ini Terpaksa Berhenti Kerja

Karena Penyakit Langka, Guru Ini Terpaksa Berhenti Kerja

Angelia Agatha Official Writer
1983

Hannah Harry (26), seorang guru cantik dari Wales Selatan, Inggris terpaksa harus meninggalkan pekerjaanya karena penyakit langka yang ia derita karena tidak boleh berdekatan dengan anak kecil.

Kisah ini bermula ketika kecil, Hannah memang berbeda dari teman-teman seusianya. Ia sering tertidur di kelas, dan begitu juga saat dia berada dirumah. Mengalami gangguan tidur dan susah makan ditambah sering sakit-sakitan membuat Hannah memiliki poros yang kurus.

Berkali-kali Hannah melakukan tes kesehatan, namun tidak ada yang mengetahui apa yang sebenanya penyakit dia. Kondisinya semakin parah seiring bertambahnya usia.

Pada saat Hannah duduk di bangku kuliah tahun 2009, Dokter akhirnya mendiagnosis Hannah dengan kondisi langka yang mengenai jaringan ikat bernama Ehlers Danlos Syndrome. Tetapi Hannah tetap bertekad untuk menjalani kehidupan yang normal seperti mahasiswa lainnya.

Pada umur 21 tahun, Hannah jatuh sakit lebih serius. Setelah menjalani rangkaian tes selama tiga hari di National Hospital for Neurology and Neosurgery, dia dinyatakan mengidap sakit langka Postural Orthostatic Tacychardic Syndrome (PoTS).

Penyakit itu menyebabkan tubuhnya gagal melakukan berbagai fungsi, misalnya menjaga tubuh tetap hangat atau mengatur detak jantung dan mengharuskan Hannah bergantung dengan berbagai macam obat-obatan yang harus dikonsumsi setiap hari.

Luar biasanya, Hannah mampu menyelesaikan pendidikannya dari Trinity St. David’s demi mengejar cita-cita sebagai guru di dari dalam rumah sakit.

Setelah menjalani pengobatan, Hannah mulai berkata bahwa dirinya “hidup kembali”.

Setelah itu Hannah kembali ke kampung halamannya dan mendapatkan pekerjaan pertamanya sebagai guru sekolah dasar dan mewujudkan impiannya sebagai pengajar. Namun, hal tersebut kemudian sirna ketika wabah campak menyerang Wales Selatan pada tahun 2012 dan sampai ketempat kerjanya. Hannahpun tertular dan tidak hanya terkena campak, paru-parunya ikut meradang.

Hannah dilarikan kerumah sakit Morrison Hospital, Swansea dan menjalani perawatan intensif selama 9 pekan. Meskipun hanya dipicu oleh campak, dokter mengatakan Hannah berada di antara hidup dan mati.

Setelah beberapa waktu, Hannah berhasil sembuh dari campak namun berakibat sistem kekebalan tubuhnya yang  menurun dan mengharuskan Hannah keluar dari pekerjaannya karena murid-muridnya bisa dengan mudah menularkan penyakit kepada Hannah. Anak-anak rentan membawa berbagai macam virus atau pemicu infeksi yang akan menjadi fatal bagi Hannah.

“Saya sempat marah dan kecewa, karena itu adalah pekerjaan impian saya, walaupun saya tahu ini demi kebaikan saya sendiri,” katanya.

Kini Hannah menghabiskan waktunya dirumah mengerjakan blog miliknya untuk menghilangkan kebosanan. Tentunya dengan 100 tablet obat dan 18 suntikan setiap harinya. Melalui blog tersebut, Hannah juga berupaya meningkatkan pemahaman masyarakat akan penyakit yang ia punyai.

“Tidak selamanya buruk kok, kadang-kadang saja saya harus pakai kursi roda, ketika  tidak sedang kambuh, ya bisa melakukan apapun,” pungkasnya.

Kisah Hannah ini menginspirasi kita untuk selalu bersyukur dalam menjalani kehidupan. Selalu akan ada hal positif setiap kejadian hidup kita.

“kepada Allah aku percaya, aku tidak takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku? Nazarku kepada-Mu, ya Allah, akan kulaksanakan, dan korban syukur akan kubayar kepada-Mu.” Mazmur 56:11-12

Sumber : berbagai sumber
Halaman :
1

Ikuti Kami